BEETHOVEN

sejarah_ludwig_van_beethoven-img

Sumber : http://www.kandangjago.web.id

Sejarah kehidupan komponis Ludwig Van Beethoven dimulai pada tahun 1770. Ia dilahirkan pada tanggal 16 Desember 1770 di Bonn, Jerman dari keluarga pasangan Johann Van Beethoven (1740 – 1792) dan Maria Magdalena (1746 – 1787). Ayahnya adalah seorang penyanyi tenor dan pemain biola di kapel istana Bonn dalam kelompok pemusik Elector Prince of Cologne. Beethoven kecil mendapatkan pelajaran musik untuk pertama kali dari ayahnya, yang memaksa dia untuk belajar piano, organ dan biola mulai dari usia dini. Beethoven mengenal dan belajar biola dari Franz Ries (1755 – 1846) yang merupakan musisi sahabat keluarga Beethoven.

Mengetahui bahwa Beethoven kecil memiliki talenta yang luar biasa, ayahnya berpikir untuk menjadikannya sebagai Mozart baru, dimana saat itu Mozart sudah dikenal sebagai pemusik jenius, ajaib, luar biasa dan terkenal pada masa kecilnya, karena seringnya Mozart mengadakan konser keliling kota bersama ayahnya. Wolfgang Amadeus Mozart sendiri dilahirkan pada tahun 1756, jadi pada saat Ludwig Van Beethoven lahir, usia Mozart sekitar 14 tahun. Mozart sudah mulai membuat komposisi di usia 5 tahun dan mulai tour keliling Eropa pada usia 6 tahun. Keadaan Mozart inilah yang memberikan ambisi kuat pada ayah Beethoven untuk menjadikan Beethoven seperti Mozart. Dan Beethoven kecil sendiri juga sangat menyukai musik.

Ayah Beethoven adalah orang yang tidak stabil, seorang ambisius dan juga pemabuk. Namun kondisi ayahnya yang seperti ini tidak mengurangi kecintaan Beethoven terhadap musik. Dia tetap belajar dan bermain musik dengan senang, konser pianonya yang pertama ditampilkan pada tanggal 16 Maret 1778 pada usia 8 tahun, tetapi ketrampilannya pada usia ini tidak seimbang dengan ketrampilan Mozart pada usia yang sama. Beethoven telah menjadi tulang punggung keluarga sebagai pencari nafkah sejak berusia 18 tahun, dimana ia menggantikan posisi ayahnya di istana Bonn.

Pada tahun 1781 (usia 11 tahun), Beethoven keluar dari sekolah formal dan menjadi asisten organis Christian Gottlob Neefe (1748 – 1798) di kapel istana Bonn. Neefe adalah seorang komposer opera Jerman dan dirigen. Di sini ia belajar dan mengasah ketrampilan musiknya dari Neefe dan musisi lainnya yang tergabung dalam kelompok musik istana. Saat berusia 17 tahun, sekitar bulan April/Mei 1787 ia dikirim oleh istana Bonn ke Vienna (Wina) untuk mengambil pelajaran komposisi musik dari Mozart. Saat itu usia Mozart sudah 31 tahun, dan Mozart memuji potensi dan bakat besar Beethoven di bidang musik. Namun sayangnya, pelajaran dengan Mozart hanya selama 2 bulan, karena pada bulan Juli 1787, ia dipanggil pulang ke Bonn karena ibunya sakit parah, yaitu menderita tuberkulose. Dan ibu Beethoven meninggal pada tanggal 17 Juli 1787.

Semenjak ibunya meninggal dunia, Beethoven terpaksa tinggal di Bonn dan tidak meneruskan pelajarannya di Wina. Ia harus menanggung kehidupan keluarganya dan mengurus adik-adiknya, karena ayahnya semakin menjadi seorang pemabuk berat. Tapi ia masih memiliki jabatan di istana Bonn sebagai pemain organ dan pemain biola alto di orkes kapel dan teater istana. Pada tahun 1789, ia mulai bermain biola di orkestra untuk opera, sambil juga mengajar dalam ilmu komposisi. Karena kondisi ayahnya yang semakin parah, maka ia minta ke istana agar gaji ayahnya diberikan kepadanya dan menggantikan jabatan ayahnya.

Pada tahun 1790, Beethoven membuat 2 komposisi kantata, yang pertama untuk acara meninggalnya Kaisar Joseph II dan yang kedua untuk acara penobatan Kaisar Leopold II. Kantata yang pertama tidak jadi dipentaskan.

Seorang pendukung Beethoven, yaitu Pangeran Ferdinand Waldstein adalah kawan dekat dari Pangeran Karl Lichnowsky. Karena pengaruh dan permintaan Waldstein, maka Pangeran Karl Lichnowsky memberikan biaya kepada Beethoven untuk belajar komposisi kepada Franz Josef Haydn. Pada bulan November 1792, ia berangkat ke Wina dan sejak saat itu ia tidak pernah kembali lagi ke Bonn, karena memutuskan untuk menetap di sana. Dukungan Waldstein tertuang dalam surat yang dikirimkannya kepada Beethoven : “… Jiwa kejeniusan Mozart masih menangis atas kematiannya… – (NB. Mozart meninggal 5 Desember 1791 pada usia 35 tahun) – … Melalui kerja keras, kamu akan menerima jiwa Mozart dari tangan Haydn.”

Kejadian lain yang menyedihkan adalah ketika ayahnya, Johann Van Beethoven meninggal pada saat dia baru sampai di Wina, yaitu pada tanggal 18 Desember 1792.

Pelajaran Komposisi Beethoven

Sejak sampai di Wina, mulai tahun 1793, ia belajar komposisi dengan studi utama kontrapung menurut sistem Fux dari Franz Josef Haydn. Selama satu tahun pelajaran ini, Beethoven merasa tidak berhasil dan mengatakan bahwa Haydn kurang perhatian dan tidak teliti terhadap pekerjaan musiknya. Kemudian ketika ia menjadi menjadi siswa resmi Haydn, ia juga mendapatkan bimbingan dari seorang guru lain yaitu Johann Schenk (1753 – 1836). Johan Schenk adalah seorang komponis Austria dan seorang guru yang bekerja sebagai Kapellmeister untuk Pangeran Auersperg. Dari Schenk, ia belajar kontrapung dan komposisi. Pelajaran dengan Haydn melalui Schenk berlanjut sampai dengan awal tahun 1794, dan kemudian berakhir ketika seorang guru teori musik yang terkenal saat itu, yaitu Johann Georg Albrechtsberger (1736 – 1809) menggantikan kedua gurunya dan membawa Beethoven pada akhir pencariannya di bidang komposisi musik, dengan mempelajari teknik komposisi, harmoni dan kontrapung. Albrechtsberger adalah teman Haydn dan seorang musisi Austria, yang merupakan salah satu ahli kontrapung yang jarang ada tandingannya di jaman itu.

Saat itu, Beethoven juga belajar komposisi menurut gaya vokal Italia dengan bimbingan Antonio Salieri (1750 – 1825), seorang komponis italia dan dirigen. Sebagai Kapellmeister kekaisaran Austria (Wina) sejak 1788 hingga 1824, Antonio Salieri adalah salah seorang musikus terpenting dan terkenal pada masanya.

Karir Ludwig Van Beethoven sebagai seorang pianis (pemain piano) mulai dikembangkan melalui konser yang sering diselenggarakan oleh para bangsawan secara pribadi di rumah mereka. Konser pertamanya di depan umum diselenggarakan pada tanggal 29 Maret 1795 di Wina, pada usia 25 tahun dan ia telah menunjukkan kelasnya sebagai seorang komponis dan pemain piano yang handal dan berprestasi. Ia membawakan Konserto Piano dalam Bes Mayor dan pada bulan Desember tahun yang sama, ia juga mengadakan konser lagi dengan memainkan Konserto Piano dalam C Mayor Op. 1 yang dipersembahkan untuk gurunya, Franz Josef Haydn.

Dalam setiap konsernya, Beethoven selalu bermain dengan semangat dan penuh emosi yang mendalam. Hal ini pun tercermin dalam karya-karyanya, sonata piano di awal kariernya penuh kebebasan dan daya kreativitas yang tinggi. Contohnya, Sonata Piano dalam F Minor No. 1 Op. 2, yang memperlihatkan bahwa Beethoven ingin memperlihatkan diri sebagai seorang musisi yang berbeda dari Haydn dan Mozart. Musik pianonya begitu tegas dan agresif berbeda dengan tujuan dan suasana musik generasinya, dimana saat itu musik diciptakan dengan tujuan untuk menghibur.

Pada tahun 1796, Beethoven mengadakan konser di beberapa kota, yaitu di Nuremberg, Prague, Dresden dan Berlin. Ia mempersembahkan Sonata Piano dalam C minor Op. 13 (Pathetique) kepada Pangeran Karl Lichnowsky dalam konser-konser tersebut. C minor adalah nada dasar yang sering digunakan Beethoven untuk membuat musik yang serius dan tegas.

Pada usia 31 tahun (1801), ia merasakan pendengarannya mulai berkurang. Ia juga menerima seorang murid wanita berusia 17 tahun bernama Countess Giulietta Guicciardi (1784 – 1856). Beethoven jatuh cinta dengan muridnya ini dan membuat Sonata Piano Op. 27 No. 2 yang dipersembahkan untuk Giulietta. Sebetulnya sang putri bangsawan bersedia menerima lamaran Beethoven, tapi kedua orang tua sang putri tidak mengijinkannya untuk menikah dengan seorang biasa.

Beethoven mengatakan bahwa pendengarannya mulai berkurang karena kebiasaannya menuangkan air dingin di kepala saat membuat komposisi-komposisi musiknya. Hal ini ia lakukan sering sekali untuk menyegarkan dirinya, tapi setelah itu ia tidak mengeringkan rambutnya. Dan hal ini berpengaruh pada syaraf pendengarannya. Akibat masalah pendengaran ini, ia mengalami depresi sepanjang tahun 1802. Sebagai seorang komponis, ia tidak merasa terganggu, karena ia masih dapat mendengarkan musik dalam otaknya, bahkan musik yang sangat kompleks dan ia dapat menotasikannya melalui partitur yang ia tulis. Ia tidak menciptkan musik melalui piano, melainkan di atas meja tulis untuk mengaplikasikan ide-ide musik dari otaknya.

Tapi sebagai seorang pemain piano paling berprestasi di Wina saat itu, masalah penyakitnya ini dirasakannya sebagai suatu bencana besar. Harapannya untuk berkarir sebagai guru piano dan dirigen harus ditinggalkan. Komunikasinya dengan orang-orang dalam masalah sosial, terutama dengan para wanita sangat terganggu. Rasa kesendirian semakin bertambah besar dalam dirinya. Kesedihannya meningkat seiring dengan ketidakberhasilannya mencari istri. Walaupun ia sering jatuh cinta, dan biasanya dengan wanita bangsawan, karena pergaulannya saat itu, namun cintanya tidak pernah dibalas. Ia menjadi tumbuh dengan memiliki sifat yang agresif karena penyakitnya dan masalah seputar dirinya.

Pada bulan Oktober 1802 saat dia berada di desa Heiligenstadt di daerah luar kota Wina, ia menulis surat wasiat, yang kemudian dikenal dengan wasiat Heiligenstadt untuk kedua adik laki-lakinya. Surat ini berisi kesedihan Beethoven pada keadaanya yang sakit dan banyak masalah dalam kehidupannya, bahkan ia menganggap waktu ajalnya sudah dekat.

Selama tahun 1802, musik yang diciptakan Beethoven bersifat musik murni yang seolah-olah tidak memiliki hubungan dengan ide-ide di luar musik. Musik yang menggambarkan suasana hati dan emosi yang subyektif yang biasanya tertuang dalam musiknya tidak keluar dalam karyanya. Musiknya bersifat absolute ilmu harmoni murni dari suatu musik saja.

Seputaran tahun 1802, Ludwig Van Beethoven mengalami depresi, tapi ia kemudian mampu mengatasi hal ini. Kesungguhan untuk memperjuangkan nasibnya diaplikasikan melalui musiknya sepanjang periode 1803 sampai dengan 1812. Karyanya pada periode ini merupakan karya besar yang mengimplikasikan sikapnya terhadap hidup. Emosi sebagai seorang komponis dituangkan dalam karya-karyanya, ide-ide dinotasikan pada sonata dan simfoni ciptaannya.

Oratorio Kristus di Bukit Zaitun seolah-olah menghubungkan antara penderitaan Yesus dengan dirinya. Dalam opera Fidelio versi yang pertama, juga menampakkan gambaran penderitaan yang diakhiri dengan pembebasan, atau kemenangan kebaikan terhadap kejahatan.

Simfoni No. 3 dalam Es Mayor, Eroica Op. 55 semula oleh Beethoven disebut Simfoni Bonaparte karena ia ingin menghormati Napoleon Bonaparte. Tapi tidak jadi, karena Beethoven tidak suka ketika Napoleon Bonaparte kemudian mentahbiskan dirinya sebagai Kaisar Perancis pada tahun 1804. Beethoven menganggap hal ini sebagai pengkhianatan atas cita-cita manusia yang semula diwakili oleh sosok Napoleon. Ia kemudian mengganti judul Simfoninya ini dengan tulisan Simfoni Pahlawan (Eroica), dan sub judul, diciptakan untuk menyambut ingatan seseorang yang agung. Simfoni ini merupakan simfoni terbesar pada masa itu dan durasinya sekitar 50 menit.

Musik kamar yang semula dimaksudkan untuk kenikmatan pribadi di rumah-rumah, mulai juga dijadikan konser untuk umum. Beberapa karyanya, 6 Kuartet Gesek Op. 18 berdurasi 25 menit, 3 Kuartet Gesek Op. 59 yang berdurasi hampir 50 menit, sonata Piano Waldstein Op. 53 dan Appasionata, Konserto Piano No. 4 dan No. 5 (Kaisar), Konserto Biola menunjukkan perkembangan dimensi musik Beethoven.

Sepanjang tahun 1805 sampai dengan 1814, Beethoven menghabiskan banyak waktu untuk komposisi dan perbaikan opera tunggal Fidelio. Seperti halnya tradisi dalam komposisi singspiel, Fidelio juga menggunakan dialog, walaupun unsur komedi (yang saat itu banyak dimunculkan dalam opera) tidak begitu menjadi fokus perhatian Beethoven, sehingga Fidelio adalah opera yang serius.

Beethoven merevisi Fidelio sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 1806 dan tahun 1814. Pada tanggal 20 November 1805, Fidelio versi pertama dipertunjukkan di Wina namun tidak berhasil, hal ini disebabkan kemungkinan besar karena pengaruh penaklukan kota Wina oleh Napoleon, sehingga penonton dari kalangan bangsawan juga sudah banyak yang melarikan diri dari Wina. Dalam Fidelio ada empat overture, yaitu Overtura Leonora No. 1, 2 dan 3, serta overture terakhir (yang keempat) yang diciptakan pada tahun 1814 sering disebut sebagai Overtura Fidelio. Revisi terakhir opera Fidelio meraih kesuksesan besar ketika dipertunjukkan pada bulan Mei 1814.

Sampai dengan tahun 1812, Beethoven belum menikmati sumber penghasilan yang tetap. Ia bergantung kepada para bangsawan Wina pendukungnya dan beberapa teman dekatnya. Uang diperoleh saat dia mempersembahkan karyanya kepada seseorang dan ketika mendapat pesanan komposisi, selain juga menerima honorarium dari penerbit musiknya. Hal ini dipersulit lagi dengan peperangan dengan Napoleon yang mengakibatkan banyak bangsawan Wina yang kehilangan kekuasaannya.

Beethoven sering terlibat dalam konser amal dan derma, sehingga sebagai ucapan terima kasih atas kegiatannya ini maka ia diijinkan untuk menggunakan teater Wina dengan mengadakan konser mencari dana bagi dirinya pada tanggal 22 Desember 1808. Konser ini berdurasi 4 jam untuk seluruh musik Beethoven yang sebagian besar diantaranya adalah komposisi baru, termasuk Simfoni No. 5 dan 6, Konserto Piano No. 4 (dimana Beethoven sebagai solo pianis) dan Fantasia Kor Op. 80. Konser ini menjadikan para bangsawan di kota Wina berjanji akan memberikan gaji tahunan kepada Beethoven supaya ia tetap tinggal di Wina dan tidak pindah ke kota lain.

// <![CDATA[//

//

Salah satu pendukung Ludwig Van Beethoven adalah seorang pangeran bernama Pangeran Johann Joseph Rainer Rudolph, adik dari Kaisar Austria. Keluarganya berkehendak sang pangeran bersekolah untuk menjadi pastur, dan pangeran ini kelak nantinya akan menjadi uskup agung Olmutz, Archduke Rudolph. Rudolph mulai belajar piano kepada Beethoven pada tahun 1803 dan menjadi satu-satunya murid yang mewarisi kemampuan Beethoven di bidang komposisi.

Pada tahun 1809, Napoleon menaklukkan kota Wina untuk yang kedua kalinya. Hampir semua bangsawan dan pembesar, termasuk Kaisar Wina dan Pangeran Rudolph melarikan diri dari kota Wina. Pertempuran dan pendudukan kota Wina oleh tentara Perancis berlangsung selama kurang lebih 2 bulan dan Beethoven tetap tinggal di kota ini, ia menciptakan Sonata Les Adieux selama masa perang.

Tahun 1810 sampai dengan 1812, Beethoven berusaha mencari jodoh, termasuk melamar Therese Malfatti, namun ia ditolak. Selama tahun-tahun ini, ia banyak menyelesaikan karya-karya yang terkenal. Kariernya sebagai pemain piano atau pianis sudah selesai sejak penampilan terakhirnya pada konser tahun 1808, karena pada saat Beethoven tampil dalam konser mencari dana untuk derma pada tahun 1814, ia sudah tidak dapat mendengar permainannya sendiri.

Masa setelah tahun 1812 sampai dengan tahun 1817 disebut sebagai masa sunyi Beethoven, hasil karyanya hanya sedikit dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya dan ia semakin terputus dari dunia luar karena kondisi pendengarannya yang kian memburuk. Komunikasi hanya dilakukan dengan tulisan, keadaan rumahnya kacau, dan perilakunya menjadi tak terkendali. Beethoven pernah menyatakan pada beberapa teman dan saudaranya, bahwa kondisi pendengarannya semakin berkurang karena kebiasaan buruknya, yaitu menyiramkan air dingin ke kepalanya untuk menyegarkan ide-ide dalam membuat komposisi musik. Rambut dan kepalanya menjadi basah dan tidak pernah dikeringkan. Pada tahun 1818, ia benar-benar tuli dan tidak dapat mendengar suara sama sekali.

Masa sunyi Beethoven berakhir pada tahun 1817, ketika ia menciptakan Sonata Piano dalam A Mayor Op. 101 dan juga menciptakan Sonata Piano dalam empat gerakan yang sangat besar yang dikenal dengan Sonata Hammerklavier Op. 106. Karya ini menghabiskan waktu selama satu tahun. Ia juga menciptakan sebuah misa besar yang menghabiskan waktu kurang lebih tiga tahun yang dipersembahkan untuk Pangeran Rudolph saat tahbisan sebagai uskup agung Olmutz.

Tahun 1822 – 1826, kehidupan rutin Ludwig Van Beethoven dipenuhi dengan kegiatan komposisi. Dia sendiri sudah mulai enggan untuk menghadiri konser karyanya.

7 Mei 1824 diadakan konser penuh untuk hampir semua karya Ludwig Van Beethoven, antara lain Overtura Die Weihe des Hauses Op. 124, Kyrie, Credo dan Agnus Dei dari Misa Solemnis Op. 123 dan Simfoni No. 9 dalam D Minor Op. 125. Ruangan konser penuh sekali, musik Beethoven disambut penonton dengan semangat. Kabarnya, karena tidak bisa mendengar sambutan penonton pada akhir Simfoni No. 9 dan masih tetap membaca partitur musiknya, sehingga ia harus dibimbing oleh seorang penyanyi agar dapat melihat penonton dan memberi hormat kepada mereka.

Setelah konser ini, Beethoven lebih banyak membuat kuartet gesek, ada lima komposisi kuartet gesek yang diciptakan selama tahun 1824 sampai dengan 1826. Pada bulan Desember 1826, ia jatuh sakit karena menderita radang paru-paru (pneumonia) dan sakit liver sehingga perlu dirawat oleh beberapa dokter.

Akhirnya setelah membuat surat wasiat yang memberikan seluruh hartanya kepada Karl van Beethoven, putra dari adiknya, maka pada tanggal 26 Maret 1827, pukul 17.45, saat terjadi badai besar di kota Wina, Ludwig Van Beethoven, seorang komponis jaman klasik yang paling berprestasi, meninggal dunia. Sekitar 10.000 orang menghadiri upacara pemakamannya yang menunjukkan tanda betapa hebat prestasinya di kota Wina.