Oct 21, ’07 3:01 AM
for everyone

Menurut Tarombo(silsilah), si Raja Batak mempunyai 3 orang anak yaitu: Raja Ilontungon(Guru Tateabulan), Raja Isumbaon dan Toga Laut. Dari Raja Ilontungon lahirlah Tuan Sariburaja yang kemudian memperanakkan Raja Lontung. Kemudian Raja Lontung memperanakkan Toga Sinaga, dan Toga Sinaga mempunyai 3 orang anak yaitu: Raja Bonor(Bonor), Raja Ratus(O,Ratus) dan Sagiulubalang(Uruk). Si Raja Bonor mempunyai 3 orang anak, salah satu anaknya ialah Raja Pande. Selanjutnya Raja Pande memperanakkan Palti Raja(W.Hutagalung:1961).

Dalam tatanan kehidupan sosial-religiusnya, suku Batak toba percaya dengan adanya ‘sahala harajaon'(talenta jd pemimpin/spirit power of governing) yang diperoleh dari Tuhan pencipta dan diwarisi kepada 3 kelompok marga leluhur yaitu Borbor, Lontung dan Sumba. Dari kelompok marga tersebut lahir sosok yang mempunyai ‘sahala harajaon’ yang dipercayakan menjadi imam tinggi'(high priest) dan memakai gelar : Palti Raja(Lontung), Jonggi Manaor(Borbor) dan Sisingamangaraja(Sumba). Palti Raja dan Jonggi Manaor bertempat tinggal di daerah Samosir dan Sisingamangaraja di Bakkara (Sitor.Situmorang:1987).

Ketiganya mempunyai kedudukan dan peranan yang sama pentingnya dalam masing-masing kelompok marga dan fungsi sosial-religiusnya.  Pada upacara ritual ‘Hoda Somba’ yaitu ritual mempersembahkan kurban hewan berupa seekor kuda kepada ‘Debata Mulajadi Nabolon’ (Tuhan pencipta), yang biasanya diadakan bila sedang terjadi kemarau panjang di wilayah Samosir. Maka Jonggi Manaor dipercayakan sebagai pemimpin ritual untuk Martonggo(berdoa) dengan dilanjutkan menyerahkan kuda persembahan tsb kepada Raja Uti sebagai perantara, yang diyakini sebagai inkarnasi Mulajadi Nabolon.

Ompu Palti Raja juga punya kemampuan untuk memanggil hujan, mengontrol kegiatan agrikultur dan memimpin ritual yang berkaitan dengan bidang pertanian yang biasa dilakukan oleh Raja Parbaringin. Gelar Palti Raja juga mirip dengan Sisingamangaraja, yaitu ada Palti Raja I s/d XII dan tiap Palti Raja mempunyai kesaktian seperti halnya sosok yang memegang gelar Sisingamangaraja yang harus diuji dahulu sebelum ditabalkan menjadi ‘Singa Mangaraja’. Palti Raja XII diketahui lahir pada tahun 1860.

Palti Raja I s/d X sampai saat ini tidak diketahui dimana dikuburkan, menurut cerita orang-orang tua bahwa Palti Raja I s/d X sempat pergi merantau keluar Samosir, disinyalir ke arah Dairi, Simalungun dan daerah Pangaribuan. Hal ini dapat kita lihat dengan adanya kampung di Pangaribuan yang bernama Lumban Sinaga dan juga banyaknya marga Sinaga di daerah Simalungun. Dan kalau ada marga Sinaga Pande bonor di daerah selain Samosir kemungkinan mereka ialah keturunan dari Palti Raja yang telah merantau ke daerah lain.

Pada sekitar abad ke 17, Sisingamangaraja X yang ingin meluaskan pengaruhnya di seluruh tanah batak, melihat kedudukan kedua ‘high priest’ ini sebagai penghalang untuk menyatukan pengaruh sosial-religiusnya. Maka Sisingamangaraja X menyerang Samosir bersama pasukannya, bertahun-tahun mereka berperang dan telah banyak korban dari kedua belah pihak maka mereka sepakat untuk gencatan senjata. Waktu itu Sisingamangaraja X mungkin masih penasaran dengan Ompu Palti Raja yang dia dengar punya kesaktian, kemudian dilakukanlah Sabung ayam dan Adu kerbau(mandugu horbo),dalam pertandingan itu ayam dan kerbau Ompu Palti Raja menang dan sesuai perjanjian maka Sisingamangaraja X dan pasukannya harus meninggalkan Samosir(H.Sinaga).

Dengan adanya penyebaran orang batak toba yang pergi merantau ke daerah-daerah lain, maka pengaruh Ompu Palti Raja yang juga ‘Imam tinggi’ ini sampai juga ke daerah Simalungun dan sekitar pantai utara, sedangkan Jonggi Manaor di sekitar Limbong dan juga Barus dan Sisingamangaraja hampir seluruh daerah Toba( S.M Nainggolan@2007)