Cikal Bakal Basilika Santo Petrus
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0504/08/sorotan/1671233.htm

BASILIKA Santo Petrus yang luas di Vatikan itu kini sedang menjadi tumpuan perhatian dari ratusan juta pemirsa berbagai televisi dunia, seperti CNN dan BBC. Tempat itu juga menjadi tujuan dari pelayat atas jenazah almarhum Paus Yohanes Paulus II, yang dikatakan sebagai sebuah acara pelayatan terbesar sepanjang sejarah.

BAGAIMANA kisah sejarah dari basilika itu? Basilika itu terletak di sebelah barat Sungai Tiber di kota Roma dan merupakan simbol atau jantung dari agama Katolik dan tergolong paling terkenal di dalam sejarah. Maklum, di sana juga terdapat pusat dari Gereja Katolik Roma sedunia.

Dengan bangunan kubahnya dan kunjungan tak putus-putusnya dari peziarah Katolik, basilika yang bisa menampung 60.000 pengunjung itu dianggap sebagai gereja terbesar di dunia.

Basilika, sebagaimana halnya bangunan lain di Vatikan, dibangun tidak jauh dari tempat Kaisar Nero pernah berdiri. Nero adalah Kaisar Romawi yang bersikap sengit terhadap pemeluk pertama agama Kristen.

Di lokasi dia berdiri itu sebuah stadium untuk lokasi perlombaan dibangun. Di sana pernah terjadi pertarungan atas pemeluk agama Kristen dengan binatang buas seperti harimau dan singa. Berdasarkan sejarah, Felicia dan Perpetua, dua wanita pemeluk Kristen yang kemudian menjadi santa, dihadapkan pada singa yang kelaparan. Mukjizat terjadi, binatang buas itu malah hanya terdiam membisu.
Di lokasi itu juga pernah dijadikan sebagai sebuah penjara bagi para pembangkang Kristen di mata para kaisar Romawi. Di lokasi itu banyak tokoh Kristen pada masa-masa awal dibunuh dan dimakamkan. Lokasi itu, yang dulu berbentuk semacam bukit, lalu diratakan dengan permukaan tanah, dan kemudian menjadi pemakaman umum kuno.

Simon Petrus-kemudian menjadi Santo Petrus-dihukum dengan disalibkan pada tahun 64. Dia juga dimakamkan di sana, yang di atasnya kini berdiri Basilika Santo Petrus. Ketika Santo Petrus dimakamkan di sana, sebuah bangunan dibuatkan untuk menunjukkan makam itu adalah milik Santo Petrus.

Lalu pada tahun 319-atas desakan Paus St Sylvester I-Kaisar Constantine, kaisar Kerajaan Romawi pertama yang menjadi Kristen, memerintahkan pembangunan versi pertama basilika. Sebelum abad pertengahan, Kristen berarti Katolik. Namun, setelah itu, Kristen menjadi terpecah ke dalam berbagai aliran karena berbagai perbedaan, sifat utama dari manusia di Bumi.

Gereja dengan panjang 360 kaki dan lebar 195 kaki (panjang 110 meter dan lebar 59 meter) itu diresmikan (diberkati) tujuh tahun kemudian. Basilika itu berdiri dengan posisi yang tetap sama selama 1.100 tahun berikutnya.

Pada pertengahan abad ke-15, basilika itu terancam ambruk karena rapuh seiring dengan berjalannya waktu. Karena itu, Paus Nicholas V membangun kembali basilika. Rekonstruksi dimulai, tetapi kemudian terhenti selama setengah abad setelah Paus Nicholas V meninggal pada 1455.

Kemudian Paus Julius II mengambil alih tugas rekonstruksi ketika dia menjadi Paus pada 1503. Dia menyewa arsitek Donato Bramante untuk pekerjaan itu dan memulai rekonstruksi basilika tiga tahun kemudian.

Pertama, Bramante merobohkan sebagian besar bangunan asli basilika dan kemudian membangun sebuah rumah untuk lokasi ibadah. Karena Bramante meninggal pada 1520, rekonstruksi tertunda lagi. Pada era ini desakan reformasi atas gereja dan kepausan mencuat dan kemudian melahirkan abad Renaisans, kebangkitan kembali. Situasi politik agama dan gereja saat itu juga sedang pada puncaknya. Itu adalah puncak dari era abad gelap, di mana pimpinan gereja “pernah agak melenceng” dari jalurnya.

Akhirnya, pada tahun 1546, Paus Julius II memanggil pelukis Michelangelo yang berusia 71 tahun untuk merampungkan rekonstruksi basilika itu. Pelukis genius itu, yang juga melukis langit-langit Kapel Sistine atas permintaan Paus Julius II, mengambil alih maket yang pernah dibuatkan Bramante dan kemudian mengembangkannya, lalu menggambar rencana pembangunan kubah basilika supaya lebih artistik. Buah tangannya masih bisa dilihat sampai sekarang.
Pekerjaan belum berakhir hingga 1590, sekitar 26 tahun setelah kematian Michelangelo. Pada tahun 1656 pekerjaan dimulai lagi dan lokasi rekonstruksi diperluas hingga ke lokasi yang kini menjadi gerbang Santo Petrus.

Sejak itu beberapa perbaikan dilakukan dan sejumlah seksi di basilika direnovasi dan diperluas. Kini basilika itu memiliki panjang 600 kaki dan lebar 400 kaki (183 meter panjangnya dengan lebar 122 meter). Dom (dome) basilika kini setinggi 450 kaki dengan diameter 130 kaki itu kini merupakan gereja terbesar di dunia.
Jadi, basilika juga dibentuk berdasarkan karya besar arsitek dan pemahat Gian Lorenzo Bernini. Bangunan itu menjadi simbol dari eksistensi gereja di dunia. Setidaknya ada 10 arsitek ternama di zamannya yang pernah terlibat dalam pembangunan basilika dari waktu ke waktu.

Sekarang, basilika itu dihiasi dengan sentuhan yang terbaik di dunia seni, termasuk lukisan, ukiran. Di sana ada pahatan terkenal bernama Pieta, buah tangan Michelangelo, yakni sebuah pahatan yang menggambarkan Perawan Maria yang sedang memangku tubuh putranya, Yesus Kristus, yang telah meninggal setelah disalib.

Vatikan yang di dalamnya termasuk basilika kini dijagai oleh petugas dari Swiss. Hanya warga Swiss yang bisa bertugas mengamankan Takhta Suci Vatikan sejak 1506, menurut Post Wire Services.

DI bawah basilika itu jenazah Paus Yohanes Paulus II akan dimakamkan. Itu artinya, makin bertambahlah deretan makam orang penting agama Katolik di sana. Setidaknya ada setengah dari makam pendahulunya berada di tempat yang sama.
Disebut-sebut, makam Paus Yohanes Paulus II akan menjadi salah satu bagian terpenting dari sejarah gereja yang panjang dan kompleks. Makam itu juga akan semakin menjadi tujuan penting dan terutama peziarah umat Katolik dari berbagai belahan dunia.

Pemakaman di dalam gereja besar (basilika) itu merupakan penghormatan tertinggi berdasarkan iman Katolik karena lokasi itu hanya diperuntukkan bagi pemimpin spiritual gereja. Maklum, Basilika Santo Petrus juga berdiri di atas makam murid Yesus Kristus, yakni rasul Santo Petrus, yang juga merupakan Paus pertama.
Pada 1940, pemakaman kuno tempat Santo Petrus dimakamkan kemudian diidentifikasikan kembali. Pada 1950, Paus Pius XII mengumumkan makam Santo Petrus telah turut teridentifikasi.

Basilika, yang terdiri dari dua grottos (semacam goa atau ruang bawah tanah) dan sebuah necropolis (kota mati), menampung 147 makam dari 263 Paus yang ada sebelumnya. Jenazah Paus Yohanes Paulus II ditempatkan di grott, yang ada di bawah sisi timur dari Basilika.

Beberapa Paus sebelumnya dimakamkan di beberapa lokasi di Italia-pada umumnya di dalam gereja-gereja dan sejumlah katedral di Roma. Namun, Basilika Santo Petrus merupakan tempat terfavorit bagi lokasi pemakaman Paus.
Ada spekulasi bahwa Paus Yohanes Paulus II-Paus non-Italia pertama dalam 450 tahun terakhir-ingin dimakamkan di negara asalnya, Polandia. Namun, pejabat Vatikan mengatakan, Paus Yohanes Paulus II tidak meninggalkan pesan seperti itu semasa hidupnya.

Sejumlah warga Polandia telah sempat berharap bahwa Paus yang kelahiran Polandia itu dimakamkan di Katedral Wavel di Krakow, bersama dengan jenazah para santo (orang kudus) dan raja-raja Polandia dari abad pertengahan. Namun kini hal itu tidak mungkin lagi terjadi. Krakow adalah kota di Polandia yang juga menjadi lokasi Keuskupan Agung Krakow. Di kota itu Karol Wojtyla diberi gelar kardinal, bisa juga dikatakan sebagai wakil umat Katolik Roma di Polandia.

BERDASARKAN laporan, yang masih harus dikonfirmasikan oleh Vatikan, jenazah Sri Paus akan dimakamkan di lokasi yang pernah menjadi makam Paus Yohanes XXIII selama 37 tahun sebelum dipindahkan pada 2000.

Paus Yohanes Paulus II akan dimakamkan di atas makam Paus Yohanes XXIII, yang dipindahkan ke sana setelah menerima beatifikasi (sebuah pemberian gelar Beato atau pernyataan pada seseorang yang sudah meninggal bahwa ia sudah berada di surga atau dia adalah orang yang berbahagia). Sebelumnya, makam Paus Yohanes XXIII ada di Kapel Santo Jerome. Beatifikasi merupakan langkah terakhir menuju gelar santo, orang kudus.

Paus akan dimakamkan di dekat makam Paus Benedetto XV, yang juga berada persis di samping makam Yohanes Paulus I, Paus sebelum Yohanes Paulus II. Paus Yohanes Paulus I meninggal hanya 33 hari setelah terpilih sebagai Paus pada 1978.

Makam yang ada di dekat Paus Yohanes Paulus II adalah makam-makam dari Paus Innocent IX, Julius III, dan Paus Paulus VI, dan juga Christina, Ratu Swedia dari abad ke-17.

Di dekat makam Paus Paulus VI, yang terletak persis di bawah altar Basilika Santo Petrus, juga diyakini sebagai makam Santo Petrus. Makam luas Santo Petrus mengambil lokasi yang luas di bawah basilika, yang juga memiliki artefak berharga, tidak saja berasal dari Gereja Katolik Roma, tetapi juga ada artefak yang berasal dari kebudayaan pertama Kristen.

Ruang bawah tanah basilika yang sebagian menjadi lokasi makam itu juga terdiri dari berbagai ruangan lain, termasuk sebuah “kota mati” dari abad Romawi kuno, yang masih lengkap dengan jalan-jalannya. Di sana juga adalah kapel dan berbagai bangunan kuno lainnya yang indah. (AP/AFP/REUTERS/MON)

Foto by: Suster CP Indonesia