PANGKALAN EDWARD, CALIFORNIA — Bayangkan kesaktian Amerika setelah pesawat hipersonik X-43A beralih rupa menjadi pengebom jarak jauh: setiap noktah di bumi dapat dijangkau–dan dihancurkan–dalam dua jam, dari pangkalan di dalam negeri.

Inilah kecepatan yang telah dicapai dengan pengebom jarak jauh B-52 atau B-1: rata-rata 44 jam, dari pangkalan di London.

Pada akhirnya X-43A, yang berhasil melewati kecepatan Mach 7 pada Sabtu (Koran Tempo, 29/3), bisa menjadi apa saja, tak hanya mesin pembunuh canggih. Sebagian berharap pesawat eksperimental dengan nilai proyek US$ 230 juta itu akan menjadi pesawat terbang komersial. Jika begitu, Jakarta-London akan ditempuh dalam waktu kurang dari dua jam–jangan lupa menghitung waktu yang diperlukan untuk pergi dari rumah ke bandara.

Sebagian lainnya berencana menjadikan X-43A kuda beban ke orbit rendah bumi, untuk menempatkan satelit. Konon, ongkos operasionalnya lebih murah ketimbang roket.

Tapi, untuk kepentingan sipil, masa depan X-43A kebanyakan masih di atas kertas. Militer Amerika akan lebih dulu memakai teknologinya untuk mendorong pesawat pengebom hipersonik jarak jauh.

Cukup alasan bagi Departemen Pertahanan Amerika untuk melirik teknologi hipersonik. Mereka telah menemukan musuh baru setelah Uni Soviet bangkrut. Namanya terorisme, yang memiliki jaringan luas di seluruh dunia, dan amat gesit.

Dengan pengebom hipersonik, Amerika bisa mendatangi teroris di sarangnya di seluruh penjuru dunia dalam dua jam–apa yang bakal membuat Presiden George W. Bush terhibur, karena seperti kata dia saat memutuskan untuk menjajah Irak, “Kita harus menghentikan mereka di tempat mereka.”

Jika begitu, dana untuk mengembangkan pengebom hipersonik jelas bukan masalah. Dalam jangka panjang, kehadiran pesawat ini menguntungkan. Pertama, seperti biasanya, teknologi baru selalu siap menjadi pabrik uang. Pada saat yang sama, pengebom itu akan mengurangi ketergantungan pada pangkalan di luar negeri yang perlu ongkos besar, selain kerap tak dapat dipakai dengan leluasa–seperti ketika Turki tak mengizinkan Pangkalan Incirlik dipakai menyerang Irak pada 2003.

Faktanya, DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency), lembaga riset Departemen Pertahanan Amerika, bahkan telah melangkah jauh. Mereka memiliki proyek bersandi Falcon (Force Application and Launch from Conus). Conus kependekan dari Continental United States alias dari wilayah Amerika.

Saat ini belum ada kabar terbaru dari proyek itu, tapi kabar terakhir menjanjikan. Pada September 2001, empat bulan setelah uji coba pertama X-43A yang gagal, mesin hipersonik DARPA berhasil terbang menembus kecepatan Mach 7 sejauh 80 meter dalam waktu 30 milidetik.

Rupa mesin hipersonik DARPA berbeda dari X-43A, lebih mirip Hysot, prototipe mesin hipersonik Australia yang sukses diuji pada Agustus 2002. Bentuknya seperti proyektil peluru, dengan diameternya 10 sentimeter atau 20 persen dari diameter proyektil yang diinginkan.

Rencananya, pada 2010 mereka sudah akan menggunakan proyektil itu sebagai rudal. Untuk menyerang sasaran di permukaan bumi, rudal bernama CAV (Common Aero Vehicle) itu akan diterbangkan dulu ke ruang angkasa dengan roket, kemudian ditembakkan ke sasaran. Gaya gravitasi akan mempercepat rudal, hingga mesin hipersoniknya menyala.

Baru pada 2025 Amerika akan memiliki pengebom hipersonik jarak jauh yang saat ini baru dinamai HCV (Hypersonic Cruise Vehicle). Pengebom itu direncanakan dapat terbang pada kecepatan Mach 10 dan lepas landas/mendarat seperti pesawat konvensional.

Apa boleh buat, Amerika akan lebih bertaji. Semoga tak seberingas sekarang.

Sumber Koran Tempo