Inggris hari ini mencanangkan diri sebagai pemilik pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai terbesar di dunia. Dengan keberadaan teknologi tersebut, negara kerajaan terbesar di Eropa itu bisa mensubtitusi sumber energi listrik ke pembangkit listrik tenaga angin.
Dilansir Guardian, Kamis 23 September 2010, proyek pengembangan pembangkit listrik tenaga angin ini dinamakan Thanet.
Dia dikembangkan oleh kontraktor asal Denmark, Vestas, produsen manufaktur turbin, dengan kocek investasi sangat besar, yakni 900 juta poundsterling atau setara Rp12,5 triliun. Hanya kurang dari 20 persen dari kocek investasi tersebut yang dikucurkan ke perusahaan-perusahaan asal Inggris.
Proyek Thanet, yang mampu memproduksi hingga 300 MW energi listrik dari 100 turbin, sementara akan menjadi fasilitas pembangkit listrik lepas pantai terbesar hingga nanti proyek London Array yang mempunyai 340 unit turbin rampung.
Sementara itu, Renewable UK, badan perdagangan untuk industri energi angin dan kelautan yang bisa diperbaharui mengatakan, ketika dalam kondisi angin baik, sebuah turbin di Inggris dapat menghasilkan tambahan 50 persen energi listrik dibandingkan turbin yang sama di Jerman.
Namun, bagaimana pun, Jerman masih menjadi negara dengan jumlah turbin angin terbesar di Eropa dengan 21.315 turbin angin, dibandingkan Inggris sekitar 3.000 lebih sedikit.
“Investasi energi yang dapat diperbarui akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi dengan menciptakan industri ‘hijau’ dan pekerjaan-pekerjaan baru,” kata juru bicara Vattenfall, perusahaan yang ada di belakang proyek Thanet. “Pemerintah harus menjamin kucuran dana yang memadai dan membuat Inggris sebagai pemimpin dunia dalam mengatasi perubahan iklim.” (umi)