dikutip dari: Homili Paus Benediktus XVI, 2006

 

Menjadi seorang kudus berarti hidup dekat Allah, hidup dalam keluarga-Nya. Dan inilah panggilan kita semua, yang dengan penuh semangat ditegaskan kembali oleh Konsili Vatican Kedua dan yang dengan sungguh diajukan untuk menjadi perhatian kita pada hari ini.

 

Tetapi bagaimanakah kita dapat menjadi kudus, sahabat-sahabat Allah? Kita dapat pertama-tama memberikan jawaban negatif pada pertanyaan ini: menjadi seorang kudus tidak dituntut perbuatan-perbuatan atau karya-karya yang luar biasa, pun karisma-karisma istimewa. Kemudian, jawaban postifnya adalah: untuk itu, pertama-tama kita perlu mendengarkan Yesus dan lalu mengikuti-Nya tanpa patah hati apabila dihadapkan pada kesulitan-kesulitan. “Barangsiapa melayani Aku,” nasehat-Nya, “ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa” (Yohanes 12:26).

 

Bagai biji gandum jatuh ke dalam tanah, barangsiapa yang percaya kepada-Nya dan mengasihi-Nya dengan tulus menerima kematian bagi diri mereka sendiri. Sungguh, ia tahu bahwa barangsiapa berusaha memelihara nyawanya bagi dirinya sendiri akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa memberikan nyawanya, kehilangan nyawanya, dan tepat dengan cara inilah ia memperoleh hidup (bdk Yohanes 12:24-25).

 

Pengalaman Gereja menunjukkan bahwa setiap bentuk kekudusan, bahkan meski ia mengikuti jalan-jalan yang berbeda, selalu melewati Jalan Salib, jalan penyangkalan diri. Riwayat hidup para kudus menggambarkan para laki-laki dan perempuan yang, taat pada rancangan ilahi, terkadang menghadapi pencobaan dan penderitaan yang tak terkatakan, aniaya dan kemartiran. Mereka berkanjang dalam komitmen mereka. Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar, demikian kita baca dalam Kitab Wahyu, mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba” (Wahyu 7:14). Nama-nama mereka tertulis dalam kitab kehidupan (bdk Wahyu 20:12) dan surga adalah tempat kediaman abadi mereka.

 

Teladan para kudus mendorong kita untuk mengikuti jejak langkah yang sama dan untuk mengalami sukacita mereka yang mengandalkan Allah, sebab satu-satunya alasan sesungguhnya dari kesedihan dan ketakbahagiaan bagi laki-laki dan perempuan adalah hidup jauh dari-Nya.

 

Kekudusan menuntut suatu upaya yang terus-menerus, tetapi hal itu adalah mungkin bagi setiap orang sebab, bukannya upaya manusia, itu pertama-tama dan terutama merupakan anugerah dari Allah, Kudus, kudus, kuduslah TUHAN (bdk Yesaya 6:3). Dalam bacaan kedua, Rasul Yohanes mengatakan: “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah” (1 Yohanes 3:1).

 

Oleh karenanya, Tuhan-lah yang pertama-tama mengasihi kita dan menjadikan kita anak-anak angkat-Nya dalam Yesus. Segalanya dalam hidup kita adalah anugerah kasih-Nya: bagaimanakah mungkin kita dapat acuh-tak acuh di hadapan misteri yang begitu agung? Bagaimanakah kita dapat tidak menanggapi kasih Bapa Surgawi dengan hidup sebagai anak-anak yang tahu berterima kasih? Dalam Kristus, Ia memberi kita anugerah keseluruhan Diri-Nya Sendiri dan memanggil kita ke suatu hubungan pribadi yang mendalam dengan-Nya.

 

Sebagai konsekuensi, semakin kita menyerupai Yesus dan tinggal bersatu dengan-Nya, semakin kita masuk ke dalam misteri kekudusan ilahi-Nya. Kita dapati bahwa Ia mengasihi kita secara tak terbatas, dan ini menggerakkan kita untuk pada gilirannya mengasihi sesama kita. Kasih senantiasa membawa serta tindak penyangkalan diri, “kehilangan diri sendiri”, dan tepat inilah yang membuat kita bahagia.

 

Demikianlah, kita sampai pada Injil hari raya [Semua Orang Kudus] ini, yakni pemakluman Sabda Bahagia yang baru saja kita dengar menggema dalam Basilika ini.

 

Yesus bersabda: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, berbahagialah orang yang berdukacita, yang lemah lembut; berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, yang murah hati; berbahagialah orang yang suci hatinya, yang membawa damai, yang dianiaya oleh sebab kebenaran” (bdk Matius 5: 3-10).

 

Sebenarnya, yang secara paling unggul berbahagia hanyalah Yesus. Ia, sesungguhnya, adalah yang miskin sejati di hadapan Allah, yang berdukacita, yang lemah lembut, yang lapar dan haus akan kebenaran, yang murah hati, yang suci hati-Nya. Ia-lah yang dianiaya oleh sebab kebenaran.

 

Sabda Bahagia menunjukkan kepada kita ciri khas rohani Yesus dan dengan demikian mengungkapkan misteri-Nya, misteri wafat dan kebangkitan-Nya, sengsara dan sukacita Kebangkitan-Nya. Misteri ini, yang adalah misteri kebahagiaan sejati, mengundang kita untuk mengikuti Yesus dan dengan demikian berjalan ke arahnya.

 

Pada tahap bahwa kita menerima amanat-Nya dan mulai mengikuti-Nya – masing-masing dalam keadaannya sendiri – kita pun dapat berpartisipasi dalam kebahagiaan-Nya. Bersama-Nya, yang tak mungkin menjadi mungkin dan bahkan seekor unta dapat melewati lubang jarum (bdk Markus 10:25); dengan pertolongan-Nya, hanya dengan pertolongan-Nya, kita dapat menjdi sempurna seperti Bapa Surgawi adalah sempurna (bdk Matius 5:48).

 

Saudara dan saudari terkasih, kita sekarang memasuki jantung perayaan Ekaristi yang menyemangati dan memelihara kekudusan. Sesaat lagi, Kristus akan menjadikan Diri-Nya Sendiri hadir dalam cara yang paling mengagumkan. Kristus adalah Pohon Anggur Sejati kepada Siapa umat beriman di bumi dan para kudus di surga dipersatukan bagai ranting-ranting.

 

Demikianlah, persekutuan Gereja peziarah di dunia dengan Gereja jaya dalam kemuliaan akan dipererat.

 

Dalam Prefasi kita akan memaklumkan bahwa para kudus adalah sahabat dan teladan hidup kita. Marilah kita mohon pertolongan mereka agar mereka membantu kita untuk meneladani mereka dan berupaya untuk menanggapi panggilan ilahi secara murah hati, sebagaimana yang mereka lakukan.

Secara khusus, marilah mohon pertolongan Maria, Bunda Tuhan dan cermin segala kekudusan. Kiranya ia, yang Sepenuhnya Kudus, menjadikan kita murid-murid yang setia dari Yesus Kristus Putranya! Amin