Sejarah mencatat bahwa Rasul Petrus dihukum mati pada salib yang terbalik di Circus Caligula dan Nero, sekitar tahun 64 AD. Jenazah Rasul Petrus dikuburkan di Vatican Hill (Bukit Vatikan), di jalan menuju Ostia yang disebut Via Cornelia, dan di situ dibangun makamnya (trophoea, yang artinya monumen kemenangan). Hal ini dicatat oleh seorang imam bernama Caius/ Gaius (199), yang kemudian dikutip oleh Eusebius dalam Church History II.28). Makam Rasul Petrus kemudian menjadi salah satu tempat ziarah bagi jemaat, sepertihalnya makam para rasul lainnya.

Setelah seratus tahun berlalu, terjadi retakan pada dinding monumen, sehingga para murid membangun dinding penahan seadanya untuk menopang kolom yang ada di arah utara. Jenazah Rasul Petrus tetap berada di bawah monumen, tanpa gangguan karena pemerintah Roma saat itu melindungi tempat- tempat pekuburan warganya. Namun pada sekitar tahun 258, perlindungan ini dicabut, seiring dengan penganiayaan umat Kristen oleh pemerintah Roma.

Karena keadaan yang sulit ini, maka sebagian jemaat memindahkan relikwi/ sisa- sisa jenazah Rasul Petrus ke Katakomba St. Sebastiano, sampai saat keadaan masyarakat sudah tenang, dengan diakuinya agama Kristen sebagai agama negara oleh Kaisar Konstantin di tahun 313. Baru pada sekitar tahun 313- 320, relikwi/ sisa- sisa jenazah St. Petrus dikembalikan lagi ke tempat aslinya di Vatikan.

Kaisar Konstantin kemudian dikenal sebagai seseorang yang membangun basilika di atas makam St. Petrus tersebut sebagai tempat ibadah umat Kristen. Gedung basilika ini berdiri selama sekitar 1200 tahun sampai dibangunnya Basilika St. Petrus yang kita kenal sekarang, pada tahun 1506-1626. Ia melingkupi monumen kemenangan yang sudah retak tersebut dengan kotak dari marmer dan porphyry. Paus St. Gregory Agung membangun daerah di belakang kotak itu, sehingga ia dapat mempersembahkan misa tepat di atas kubur Rasul Petrus. Demikian juga, Paus Callistus II mendirikan altar di atasnya, dan lima ratus tahun kemudian, Paus Clement VIII (1592) membangun altar yang sampai sekarang digunakan oleh Paus Benediktus XVI.

2. Tentang tulang- tulang Rasul Petrus.

Penemuan arkeologis pada jaman Paus Pius XII pada tahun 1941 menunjukkan tidak saja tanah pekuburan di mana atasnya Basilika St. Petrus dibangun, tetapi juga monumen kemenangan yang berasal dari abad ke-2 tersebut, seperti yang disebut oleh Caius. Ini membuktikan bahwa catatan sejarah tersebut benar adanya, dan bahwa kubur Rasul Petrus memang ada di bawah altar Basilika St. Petrus tersebut.

Pertanyaan selanjutnya adalah di manakah sekarang tulang- tulang Rasul Petrus?

a. Penelitian pertama:

Pada penggalian tahun 1941, ditemukan tulang- tulang di sekitar bagian bawah monumen.

Untuk meneliti hal ini pihak Vatikan mendatangkan seorang anatomis terkemuka di dunia, Prof. Venerando Correnti dari Sicily, untuk meneliti tulang- tulang tersebut. Setelah mengadakan penelitian selama tiga tahun, ia mengeluarkan pernyataan bahwa tulang- tulang tersebut adalah milik seorang wanita, tulang- tulang hewan dan dua laki- laki yang semuanya wafat di bawah umur 50 tahun. Kesimpulannya, tulang- tulang ini bukan tulang- tulang Rasul Petrus. Hasil penelitian cukup mengejutkan, dan ini sering dikutip oleh mereka yang skeptis dan tidak percaya bahwa Rasul Petrus pernah berada di Roma dan wafat di sana. Bahkan ada orang yang memperkirakan Rasul Petrus dikuburkan di Yerusalem, walaupun ini tidak sesuai dengan fakta dan tulisan sejarah, dan sudah pernah kami bahas di sini, silakan klik.

Namun penelitian di Vatikan tidak berhenti sampai di sini, dan penemuan selanjutnya, sungguh memperkuat apa yang telah dicatat dalam sejarah maupun yang dicatat para Bapa Gereja.

b. Selanjutnya, para penggali menemukan dinding penahan yang dibangun untuk memperkuat kolom di bagian utara. Dinding ini dilapisi plesteran, dan plesteran ini dipenuhi dengan tulisan graffiti, yang menyebutkan tentang Petrus, Kristus, Maria dan kemenangan hidup kekal. Tepat di retakan dinding, tersembunyilah sebuah kotak repository dari marmer dengan ukuran seperti kotak safe- deposit. Di dalamnya tersimpan tulang- tulang sisa jenazah. Para penggali menyangka tulang- tulang ini milik seorang Paus, sehingga mereka mengeluarkannya dari kotak repository dan kemudian menyimpannya di tempat terpisah untuk analisa lebih lanjut.

c. Selanjutnya, Dr. Margherita Guarducci (1953), seorang epigraphist (ahli naskah kuno) dibawa untuk meneliti, arti tulisan graffiti pada dinding penahan tersebut. Ia lalu melihat adanya kotak repository yang kosong, yang tersembunyi pada dinding itu, sehingga ia menanyakan isinya, karena berpikir hal itu dapat membantunya mengartikan makna tulisan graffiti pada dinding itu. Ia bersama dengan petugas Vatikan kemudian memeriksa kotak yang mengandung reruntuhan dari tembok graffiti tersebut, dan membukanya. Di kotak itu terdapat reruntuhan dinding plasteran merah, yang sama dengan plasteran yang terdapat di dinding penahan tersebut. Di dinding merah itu terukir tulisan yang berasal dari abad ke- 4, berbunyi “Petr(os) eni.” Artinya, “Petrus ada di sini”.

Guarducci kemudian memohon kepada Paus Pius XII untuk memanggil Dr. Correnti kembali untuk menganalisa tulang- tulang dalam kotak repository tersebut. Dr. Correnti dan para ahli lainnya kemudian menyelidiki tulang- tulang ini kembali selama sekitar enam tahun. Demikian hasilnya:

– Tulang- tulang itu milik seorang laki- laki berumur 65-70 tahun, yang tingginya sekitar 1.66 m. Ini cocok dengan tradisi yang mengatakan bahwa St. Petrus wafat di usia sekitar itu pada tahun 64 AD.

– Semua bagian tubuh terwakili dalam tulang- tulang yang ditemukan, kecuali di bagian tulang kaki. Ini tidak dapat dijelaskan secara kedokteran, karena jika dipandang dari tingkat dekomposisi, maka seharusnya tulang tangan yang lebih kecil lebih mudah terdekomposisi daripada tulang kaki. Penjelasan yang lebih masuk akal adalah tradisi yang mengatakan bahwa Rasul Petrus disalibkan terbalik, sehingga paku- paku yang menembusi kakinya kemungkinan menghancurkan tulang-tulang kakinya, ataupun para parajurit telah memotong pergelangan kaki Rasul Petrus sehingga tulang- tulang kakinya tidak ditemukan lagi.

– Tulang- tulang itu dibungkus oleh kain emas dan ungu sedemikian sehingga warna ungunya luntur dan menodai beberapa bagian dari tulang- tulang itu. Penggunaan warna- warna itu menunjukkan makna penghormatan/ sesuatu yang berharga, dan juga bahwa noda pada tulang menunjukkan bahwa kain- kain itu digunakan untuk membungkus tulang, dan bukannya kulit tubuh. Sebab jika kain itu membungkus kulit maka warna kain itu akan luntur pada saat kulit terdekomposisi. Noda ungu pada kain menunjukkan bahwa kulit sudah terdekomposisi pada saat tulang- tulang itu dibungkus oleh kain, dan diletakkan di kotak repository.

– Di dalam pori-pori tulang- tulang itu tertanam debu, yang menunjukkan bahwa tulang- tulang tersebut terdekomposisi di dalam tanah, dan bukan di kotak repository. Ketika ahli lainnya memeriksa debu tersebut, mereka menyatakan bahwa debu itu cocok dengan tanah yang ada di bawah monumen kemenangan (yang dibangun di abad ke-2 tersebut)

– Bukti terakhir datang bukan dari para dokter, tetapi dari para arsitek. Ketika Kaisar Konstantin di abad ke-4 ‘membungkus’ monumen kemenangan itu dengan kotak marmer dan porphyry, ia membuang hampir semua dinding merah yang ada di belakang tropaion itu. Ia sebenarnya dapat saja membuang dinding penahan di mana kotak repository tersebut ditemukan, sebab 1) hampir tidak ada dinding merah yang perlu ditahan/ dipikul oleh dinding penahan, 2) Kotak yang dibuat oleh Kaisar Konstantin sudah cukup untuk memikul monumen kemenangan tersebut. Tetapi dinding penahan tersebut tetap dipertahankan, dan sepertinya ‘menyisakan’ sepotong dinding tanpa ada gunanya baik secara struktural, maupun dari segi keindahan.

Basilika St. Petrus dibangun dengan prinsip klasik, dengan proporsi yang sempurna, ke- simetrisan bentuk yang melambangkan kesempurnaan Tuhan. Pusat monumen kemenangan tersebut adalah juga pusat gedung basilika. Mempertahankan dinding penahan itu sebenarnya ‘mengganggu’ prinsip ke simetrisan pada kotak marmer dan porphyry sepanjang 18 inci (setebal dinding penahan tersebut) terhadap keseluruhan gedung basilika. Walaupun ini tidak kelihatan besar, namun bagi para arsitek pada jaman itu, kesalahan macam ini sungguh memalukan, sebab seperti “kesalahan menghitung”.

Ketika basilika dibangun kembali sekitar 1200 tahun berikutnya, keadaan asimetris ini tetap berlangsung, dan tak seorangpun dapat mengerti mengapa dari tatanan arsitektur yang begitu sempurna di seluruh bangunan, dapat terjadi “kesalahan menghitung” tepat di jantung/ pusat bangunan basilika. Maka alasan yang paling mungkin adalah, sebab sisa jenazah sang martir, yang di atasnya telah dibangun keseluruhan basilika, ternyata tersimpan pada dinding penahan pada kotak repository tersebut.

Maka, ketika Paus Paulus VI beserta para ahli melihat data dan fakta ini, menyimpulkan bahwa sisa jenazah yang tersimpan pada kotak repository tidak mungkin milik seorang yang lain, selain dari Rasul Petrus, yang wafat di usian 65-70 tahun; yang tulang kakinya tidak ada lagi; yang sisa debu jenazahnya cocok dengan tanah kuburan St. Petrus; yang tulang- tulangnya, setelah terdekomposisi, dibungkus oleh kain kehormatan, ditempatkan di kotak repository yang berdekatan dengan ukiran di dinding yang bertuliskan “Petrus ada di sini”; yang tulang- tulangnya ditemukan di kotak yang tersimpan di celah dinding penahan yang “mengganggu” kesimetrisan keseluruhan bangunan basilika.

3. Pengumuman dari Paus Paulus VI

Berikut ini adalah yang dikatakan oleh Paus Paulus VI dalam papal audience 26 Juni 1968 (sumber: silakan klik di sini):

“Di tahun- tahun terakhir ini, sering disebutkan tentang “monumen- monumen kemenangan” yang tidak diragukan lagi mengacu kepada kubur kedua Rasul yang menjadi martir (Petrus dan Paulus), yang disebutkan oleh Gaius telah menjadi obyek penghormatan sejak abad kedua. Ini kemudian mendorong penelitian di bawah kepemimpinan Paus Pius XII … yang dilakukan di bawah altar utama ‘pengakuan’ St. Petrus di basilika St. Petrus, yang atas namanya basilika tersebut dibangun. Penggalian- penggalian yang sungguh sangat sulit dan presisi ini dilakukan antara tahun 40-an dan 50-an yang menghasilkan penemuan arkeologis yang sangat penting…. Paus Pius XII dalam pesan Natalnya di radio pada tahun 1950 mengatakan, “Pertanyaan pentingnya adalah sebagai berikut: Apakah kubur St. Petrus telah ditemukan? Kesimpulan akhir dari para arkeologis dan para ahli adalah sebuah jawaban yang jelas, “Ya.” Kubur Sang pemimpin para Rasul telah ditemukan. Pertanyaan kedua yang bergantung pada yang pertama adalah tentang relikwi Rasul Petrus: apakah relikwi/ tulang- tulangnya ditemukan?” Paus Pius XII tidak dapat memberikan jawaban yang pasti dalam hal ini.

“[Namun] penyelidikan- penyelidikan yang memakan waktu dan akurat telah dilakukan,” lanjut Paus Paulus VI, “dengan hasil bahwa, dikuatkan oleh penilaian dari orang- orang yang ahli di bidangnya, saya percaya sepenuhnya: Relikwi St. Petrus telah diidentifikasikan dengan cara yang meyakinkan menurut saya…. Penelitian, konfirmasi, diskusi dan perdebatan akan terus berlanjut, tetapi kelihatannya saya mempunyai sebuah tugas, sesuai dengan kehadiran kesimpulan para ahli arkheologis dan sains, untuk memberikan kepadamu dan Gereja, kabar gembira ini, peraturan untuk menghormati relikwi yang kudus ini, yang telah diperiksa oleh berbagai test untuk memeriksa keotentik- annya. Pada kasus ini, kita harus menjadi lebih bersemangat dan bergembira, sebab kita mempunyai alasan untuk yakin bahwa kita telah menemukan sedikit dari sisa jenazah dari sang pemimpin para Rasul, Simon anak Yunus, nelayan yang dipanggil Kristus sebagai Petrus, yang telah dipilih oleh Kristus menjadi batu karang pondasi Gereja-Nya dan yang kepadanya Tuhan mempercayakan kunci- kunci kerajaan-Nya, dengan misi untuk menggembalakan dan mempersatukan kawanan domba-Nya.”

Setelah pengumuman ini, Paus Paulus VI memutuskan untuk mengembalikan relikwi yang kudus itu kembali ke tempat di mana ia ditemukan, yaitu di dalam dinding repository. Kotak tersebut kini masih tersimpan di bawah altar Basilika St. Petrus di Vatikan, yaitu tepat di bawah altar dengan empat kolom di pusat basilika yang didesain oleh Bernini. Anda dapat melihat gambarnya berikut ini:

Di atas semua itu janganlah lupa bahwa Gereja yang dimaksud oleh Tuhan Yesus dalam Mat 16:18, adalah bukan gedung, namun jemaat (ekklesia) yang disebut sebagai Tubuh-Nya, dan Mempelai Kristus (lih. Ef 5: 22-33). Gereja yang didirikan oleh Kristus di atas Rasul Petrus ini adalah Gereja Katolik, yang masih tetap eksis sejak didirikan oleh Kristus di awal abad pertama, sampai sekarang, dan sampai akhir jaman nanti, sesuai dengan janji Kristus sendiri (lih. Mat 16:18; Mat 28:19-20).

Demikianlah, hal yang dapat saya sampaikan untuk pertanyaan anda. Semoga dapat berguna bagi semua yang membacanya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org