ST PADRE PIO DAN MALAIKAT PELINDUNG
 Padre Lino mengatakan, “Aku meminta malaikat pelindungku untuk menyampaikan kepada Padre Pio permohonan doa bagi seorang wanita yang sakit parah, tetapi tampaknya tak terjadi perubahan apapun. Ketika aku berjumpa dengan Padre Pio, aku bertanya kepadanya, `Padre, saya minta malaikat pelindung saya untuk menyampaikan permohonan doa bagi seorang wanita yang sakit parah… apakah mungkin ia tidak melakukannya?’ Padre Pio menjawab, `Apakah engkau percaya bahwa malaikat pelindungmu tidak taat seperti engkau dan aku?’”
  Seorang pengacara Italia sedang mengendarai mobilnya pulang dari Bologna. Dalam mobil FIAT 1100 itu ada pula isteri dan kedua anak mereka. Tengah perjalanan, pengacara tersebut merasa sangat lelah letih. Ia minta puteranya, Guido, untuk menggantikannya, tetapi puteranya itu tidak menjawab, sebab ia tertidur. Beberapa kilometer kemudian, dekat gerbang St. Lazzaro, pengacara itu pun tertidur juga. Ketika terjaga, ia tersadar bahwa mereka berada tak jauh dari Eternity. Artinya, sementara ia tidur, ia telah mengendarai mobilnya beberapa kilometer. Ia panik dan berseru, “Siapakah yang mengemudikan mobil? Apa yang telah terjadi?” tetapi tak seorang pun dapat menjawab dia. Guido, yang ada di sebelah kanannya, terbangun dan mengatakan bahwa ia tertidur pulas. Isterinya dan anaknya yang kecil terheran-heran sekaligus kagum. Mereka menceritakan bahwa ia mengemudikan mobil dengan cara yang berbeda dari biasanya. Suatu kali mobil hendak bertabrakan dengan mobil lain, tetapi pada detik-detik terakhir mobil dapat menghindarkan diri dari kecelakaan dengan gerakan yang mulus sempurna. Cara mobil membelok juga lain dari biasanya. Tetapi, lebih dari itu, isterinya mengatakan, “Seringkali engkau tampak bagai patung dan engkau tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan kami.” Pengacara pun menyahut, “Aku tak menjawab karena aku tidur! Aku tertidur sepanjang limabelas kilometer. Aku tak merasakan apa-apa sebab aku terlelap… tetapi, siapakah yang mengemudikan mobil? Siapakah yang menghindarkan kita dari malapetaka?” Beberapa bulan kemudian, misteri itu pun terungkap kala sang pengacara mengunjungi St. Giovanni Rotondo. Begitu ia berjumpa dengan Padre Pio, Padre menegurnya, “Engkau tertidur dan malaikat pelindungmu yang mengemudikan mobil.”
  Seorang pria mengisahkan, “Seringkali Padre Pio berhenti di sakristi guna menyapa anak-anak rohani serta teman-temannya dengan mencium mereka. Aku memandang dengan cemburu yang saleh kepada mereka yang begitu beruntung itu, sembari berpikir, `Diberkatilah dia! Andai aku adalah dia! Diberkatilah! Diberkatilah dia!’ Pada Hari Natal 1958, aku berlutut di hadapan Padre Pio untuk mengaku dosa. Sesudahnya, aku memandang kepadanya dan dengan penuh emosi bertanya, `Padre, hari ini adalah Hari Natal, bolehkah aku mengucapkan Selamat Natal kepada Padre dengan sebuah ciuman?’ Dan ia, dengan senyum manis yang tak dapat kuungkapkan dengan goresan pena, berkata kepadaku, `Cepatlah sedikit anakku, jangan buat aku menunggu!’ Padre juga memelukku. Aku menciumnya; kemudian aku keluar dari kamar pengakuan dalam luapan sukacita, diliputi bahagia surgawi. Dan apakah yang dapat kukatakan mengenai pukulan-pukulan kecil di kepala? Setiap kali, sebelum meninggalkan St. Giovanni Rotondo, aku ingin Padre Pio memberiku suatu tanda kasih yang istimewa. Sesungguhnya, aku juga menghendaki dua pukulan kecil di kepala sebagai ungkapan kasih kebapakan. Perlu kutegaskan bahwa tak pernah Padre menolak untuk memberikan apapun yang kuminta darinya. Suatu hari, ada begitu banyak orang di sakristi dan Padre Vincenzo berteriak-teriak dengan kegalakkannya seperti biasa, `Jangan berdesakan; jangan menjabat tangan Padre Pio; mundur!’ Dengan sedih aku berpikir, `Kali ini aku harus pergi tanpa menerima pukulan di kepala.’ Aku tak hendak menyerah, maka aku meminta malaikat pelindungku agar sudi menjadi utusan dan menyampaikan kata-kata berikut kepada Padre Pio, `Padre, aku mohon berkat dan dua pukulan di kepala, seperti biasanya, satu untukku dan satu untuk isteriku.’ Padre Vincenzo masih berteriak-teriak, `Jangan mendesak Padre Pio … menjauhlah darinya!’ sementara Padre Pio mulai berjalan. Aku berharap-harap cemas. Aku memandang padanya, tetapi aku merasa sedih. Tiba-tiba Padre Pio menghampiriku; ia tersenyum dan mendaratkan dua ketukan di kepala serta memberiku kesempatan untuk mencium tangannya juga. `Aku ingin memberimu banyak sekali tempeleng… banyak tempeleng,’ kata Padre saat pertama kali aku memintanya untuk memberiku pukulan kecil di kepala.”
 Mohonlah kepada malaikat pelindungmu agar ia menerangimu dan membimbingmu. Tuhan memberikannya kepadamu untuk alasan ini. Sebab itu, pergunakanlah dia!
    PENAMPAKAN DAN JIWA-JIWA DI API PENYUCIAN
Padre Pio mulai mendapatkan penampakan semenjak ia masih seorang kanak-kanak. Francesco kecil tidak menceritakannya sebab ia yakin bahwa penampakan demikian merupakan hal yang biasa terjadi pada semua orang. Penampakan tersebut meliputi para malaikat, para kudus, Yesus dan Bunda Maria, tetapi, terkadang juga akan setan.
  Pada hari-hari terakhir bulan Desember 1902, sementara ia merenungkan panggilannya, Francesco mendapatkan suatu penglihatan. Inilah cerita yang beberapa tahun kemudian ia sampaikan kepada bapa pengakuannya. “Francesco melihat di sampingnya seorang laki-laki agung yang elok mempesona, bercahaya bagaikan matahari; Ia memegang tangannya dan membesarkan hatinya dengan undangan ini: `Sungguh baik jika engkau bersama-Ku dan bertempur bagaikan seorang ksatria.’ Francesco dibimbing ke suatu negeri yang luas, di antara khalayak ramai laki-laki yang terbagi menjadi dua kelompok: di sisi yang satu adalah para laki-laki dengan wajah-wajah elok, berpakaian putih bagaikan salju. Di sisi yang lain adalah para laki-laki dengan wajah-wajah menyeramkan, berpakaian hitam; mereka tampak bagaikan bayangan-bayangan gelap. Francesco ditempatkan di antara kedua kelompok penonton ini dan ia melihat seorang laki-laki yang sangat tinggi, begitu tinggi hingga ia dapat menyentuh awan-awan dengan dahi dan wajahnya yang jelek; laki-laki itu datang menghampirinya. Tokoh yang bercahaya mendesak Francesco untuk maju melawan tokoh raksasa itu. Francesco berdoa agar terhindar dari amuk tokoh aneh itu, tetapi tokoh yang bercahaya tidak menghilang, `Penolakanmu sia-sia belaka. Sungguh baik jika engkau melawan tokoh jahat ini. Mari, percayalah dan majulah ke medan pertempuran dengan gagah berani. Aku akan berada di dekatmu; Aku akan menolongmu dan tak akan membiarkannya mengalahkanmu.’ Francesco menyanggupi-Nya dan sungguh sengitlah pertarungan. Dengan pertolongan tokoh bercahaya yang senantiasa ada di dekatnya, Francesco berhasil memenangkan pertempuran. Tokoh raksasa itu terpaksa melarikan diri dan ia membawa bersamanya himpunan besar khalayak dengan wajah-wajah menyeramkan itu, di antara lolongan, kutuk dan raungan. Khalayak yang lain, para laki-laki dengan wajah-wajah yang elok gegap gempita dengan sorak-sorai dan puji-pujian bagi Dia yang telah menolong Francesco yang malang dalam pertarungan sengit itu. Tokoh agung yang bercahaya, yang lebih kemilau dari matahari, menempatkan di atas kepala Francesco yang menang, sebuah mahkota yang amat mengagumkan hingga tak terlukiskan. Tetapi, kemudian mahkota dilepaskan dari kepala Francesco dan tokoh yang baik itu berkata, `Suatu mahkota lain, yang lebih indah dari ini, telah Ku-persiapkan bagimu jika engkau bersedia bertempur dengan tokoh dengan siapa engkau sekarang bertarung. Ia akan selalu datang kembali menyerang; engkau akan melawannya tanpa sedikit pun meragukan pertolongan-Ku. Jangan khawatir akan kekuatannya; Aku akan senantiasa berada di dekatmu; Aku akan selalu menolongmu, dan engkau akan berhasil menang.’” Penglihatan-penglihatan tersebut berlanjut dengan pertempuran-pertempuran yang sesungguhnya dengan si Iblis. Padre Pio berkali-kali bertempur melawan “musuh keji jiwa-jiwa” sepanjang hidupnya. Sesungguhnya, salah satu tujuan utama Padre Pio adalah merenggut jiwa-jiwa dari cengkeraman Iblis.

  Padre Pio menceritakan kisah berikut kepada Padre Anastasio. “Suatu sore, kala aku seorang diri di tempat paduan suara untuk berdoa, aku mendengar gemersik jubah dan aku melihat seorang biarawan muda sedang sibuk dekat altar. Tampaknya biarawan muda itu sedang membersihkan kandela dan merapikan jambangan-jambangan bunga. Aku pikir dia adalah Padre Leone yang sedang merapikan altar, dan karena saat makan malam telah tiba, aku menghampirinya dan mengatakan, `Padre Leone, marilah kita santap malam, sekarang bukan saat yang tepat untuk membersihkan dan merapikan altar.’  Tetapi suatu suara, yang bukan suara Padre Leone, menjawab, `Aku bukan Padre Leone.’ `Siapakah engkau?’ tanyaku. `Aku seorang saudaramu yang menjalani novisiat di sini. Aku ditugaskan untuk membersihkan altar sepanjang tahun novisiat. Sungguh sayang, seringkali aku tidak menyampaikan penghormatan kepada Yesus saat aku melintas di depan altar, dan dengan demikian tidak menghormati Sakramen Mahakudus yang disimpan dalam tabernakel. Karena keteledoran yang serius ini, aku masih tinggal di purgatorium. Sekarang, Tuhan, dengan kebajikan-Nya yang tak habis-habisnya, mengirimku ke sini agar engkau dapat mempercepat saat di mana aku dapat menikmati Firdaus. Tolonglah aku.’ Aku yakin bahwa aku bermurah hati kepada jiwa yang menderita itu ketika aku berkata, `Engkau akan berada di Firdaus esok pagi, ketika aku merayakan Misa Kudus.’ Jiwa itu pun berteriak, `Sungguh kejam!’ Lalu ia menangis dengan sedihnya dan lenyap. Keluh-kesah itu meninggalkan suatu luka yang dalam di hatiku yang aku rasakan dan akan terus kurasakan sepanjang hidupku. Sesungguhnya aku dapat segera mengirimkan jiwa menderita itu ke surga, tetapi aku menghukumnya untuk melewatkan semalam lagi dalam api penyucian.”
    MUKJIZAT
Sungguh sulit mendefinisikan kata “mukjizat”. Mukjizat dapat dianggap sebagai wujud dari tindakan adikodrati. Juga, dapat kita katakan bahwa mukjizat adalah fenomena di mana hati tunduk pada kekuatan batin: kehendak Tuhan!
Kehidupan Padre Pio penuh dengan mukjizat, tetapi kodrat dari mukjizat itu sendiri selalu ilahi. Oleh sebab itulah, Padre Pio mengundang orang untuk mengucap syukur kepada Tuhan, satu-satunya sumber mukjizat.
   Ny Cleonice, yang adalah anak rohani Padre Pio, mengatakan, “Dalam masa Perang Dunia Kedua, keponakanku menjadi tawanan. Kami tidak mendengar kabar berita mengenainya selama setahun dan semua orang yakin bahwa ia telah tewas. Orangtuanya sangat khawatir mengenai putera mereka. Suatu hari, ibunya menemui Padre Pio dan berlutut di hadapan sang biarawan yang sedang duduk dalam kamar pengakuan, `Saya mohon Padre, katakanlah apakah putera saya masih hidup. Saya tak akan pergi sebelum Padre menjawab saya!’ Padre Pio menaruh simpati padanya; tampak butir-butir airmata menetes di wajahnya saat ia mengatakan, `Berdirilah dan pergilah dalam damai.’ Beberapa hari kemudian, tak tahan lagi melihat dukacita kedua orangtua tersebut, maka aku memutuskan untuk meminta Padre Pio melakukan suatu mukjizat. Dengan kepercayaan penuh, aku mengatakan, `Padre, saya hendak menulis sepucuk surat kepada keponakan saya Giovannino. Saya hanya akan menuliskan namanya saja pada sampul surat, sebab kami tidak tahu di mana ia berada. Padre dan malaikat pelindungmu akan membawa surat ini kepadanya di mana pun ia berada.’ Padre Pio tidak menjawab, maka aku menulis surat. Sore hari, sebelum tidur, aku meletakkan surat itu di atas meja yang terletak di samping tempat tidur. Keesokan harinya, dengan terkejut, heran bercampur takut, aku mendapati bahwa surat itu tidak lagi ada di sana. Aku pergi untuk menyampaikan terima kasih kepada Padre Pio dan ia mengatakan, `Berterimakasihlah kepada Santa Perawan.’ Hampir limabelas hari kemudian, keponakan kami mengirimkan balasan surat. Maka, bergembiralah semua orang dalam keluarga kami dan kami mengucap syukur terima kasih, baik kepada Tuhan maupun kepada Padre Pio.”
   Seorang wanita di San Giovanni Rotondo bernama Paolina sungguh teramat baik dan saleh hingga Padre Pio mengatakan mustahil mendapatkan dosa dalam jiwanya untuk diampuni. Dengan kata lain, ia hidup untuk menuju surga. Di akhir Masa Prapaskah, Paolina sakit parah. Para dokter mengatakan bahwa tak ada lagi harapan hidup baginya. Suami dan kelima anaknya pergi ke biara untuk berdoa bersama Padre Pio dan meminta sang biarawan untuk melakukan sesuatu atasnya. Dua dari kelima anak itu menarik-narik jubah Padre Pio sembari menangis, sehingga Padre Pio marah; tetapi ia berusaha menghibur mereka dan berjanji untuk mendoakan mereka, tak lebih dari itu! Beberapa hari kemudian, di awal jam Ketujuh, sikap Padre Pio berubah. Sesungguhnya, Padre memohonkan kesembuhan bagi Paolina dan mengatakan kepada semua orang, “Ia akan bangkit pada Hari Raya Paskah.” Tetapi, pada hari Jumat Agung Paolina tak sadarkan diri dan mengalami koma. Pada hari Sabtu, setelah beberapa jam menderita, Paolina akhirnya meninggal dunia. Sebagian kerabatnya mengambil gaun pengantinnya untuk dikenakan pada jenazahnya sesuai tradisi kuno negeri itu. Sebagian kerabat lainnya lari ke biara untuk memohon Padre Pio melakukan mukjizat. Padre hanya menjawab, “Ia akan bangkit” dan lalu berjalan menuju altar untuk mempersembahkan Misa Kudus. Ketika Padre Pio mulai memadahkan Gloria dan lonceng-lonceng dibunyikan guna memaklumkan kebangkitan Kristus, suara Padre Pio menjadi parau karena isak tangis dan kedua matanya bersimbah airmata. Pada saat yang sama, Paolina bangkit. Tanpa pertolongan siapa pun, ia bangkit dari tempat tidur, berlutut dan mendaraskan Aku Percaya sebanyak tiga kali. Lalu ia berdiri dan tersenyum. Ia telah sembuh… atau lebih tepat dikatakan, “Ia telah bangkit.” Sesungguhnya, Padre Pio tidak mengatakan bahwa “ia akan sembuh” melainkan “ia akan bangkit.” Ketika ditanyakan kepadanya apa yang terjadi selama masa ia meninggal dunia, wanita itu menjawab, “Aku naik, naik, naik; dan ketika aku masuk ke dalam suatu terang yang kemilau, aku harus kembali.”
    PENYEMBUHAN
   Grazia adalah seorang gadis petani berusia duapuluh sembilan tahun; ia buta sejak lahir. Grazia biasa pergi ke gereja kecil biara untuk menemui Padre Pio. Suatu ketika Padre Pio bertanya kepadanya apakah ia ingin melihat. “Tentu saja, Padre!” jawab si gadis, “tetapi aku ingin melihat hanya jika itu memang diperuntukkan bagiku, bukan karena rasa iba.” “Baiklah, engkau akan sembuh,” kata Padre Pio dan ia mengirim gadis itu ke Bari, Italia di mana ada seorang dokter yang sangat cakap, yang adalah suami dari salah seorang kawan Padre Pio. Tetapi, setelah memeriksa mata pasiennya itu, sang dokter mengatakan kepada isterinya, “Tak ada harapan bagi gadis ini! Padre Pio dapat menyembuhkannya hanya dengan suatu mukjisat, tetapi aku harus mengirim gadis ini pulang tanpa mengoperasi matanya.” Isterinya mendesak dan mengatakan kepada suaminya, “Tetapi jika Padre Pio telah mengirimkannya kepadamu…. setidaknya engkau dapat mencoba mengoperasi matanya, setidaknya salah satu dari kedua matanya.” Suaminya setuju dan mengoperasi kedua mata Grazia. Dan mata si gadis menjadi celik! Sekarang ia dapat melihat. Ketika telah pulang kembali ke San Giovanni Rotondo, ia berlari-lari ke biara dan berlutut di depan kaki Padre Pio. Sang biarawan menyuruhnya berdiri. Kata gadis itu, “Berkatilah aku, Padre… berkatilah aku!” Maka, dengan gerakan tangan Padre Pio membuat Tanda Salib atasnya, tetapi Grazia masih terus menanti untuk diberkati. Sesungguhnya, kala ia masih buta, Padre Pio biasa memberkatinya dengan membuat Tanda Salib dengan tangannya di dahi sang gadis. Melihat Grazia masih terus menunggu, Padre Pio berkata, “Jadi, bagaimanakah engkau ingin diberkati? Dengan seember air yang disiramkan ke atas kepalamu?”
   Seorang wanita mengisahkan, “Pada tahun 1952, kandunganku normal, tetapi pada saat melahirkan timbul masalah. Puteraku dilahirkan dengan komplikasi dan aku membutuhkan transfusi darah. Karena darurat dan tergesa, mereka tidak memeriksa dengan benar golongan darah yang aku butuhkan. Golongan darahku `O’ tetapi mereka memberiku darah `A’. Konsekuensinya amat fatal: demam tinggi, kejang-kejang, penyempitan paru-paru di samping masalah-masalah kesehatan lainnya. Seorang imam bahkan dipanggil untuk memberiku viaticum; imam harus memberikan Hosti Kudus dengan sedikit air sebab kondisiku sangatlah buruk. Kala kerabatku mengantarkan imam keluar, aku tinggal seorang diri. Saat itulah Padre Pio menampakkan diri kepadaku dengan menunjukkan stigmata di kedua tangannya. Katanya, `Aku Padre Pio, engkau tidak akan mati! Marilah bersamaku mendaraskan Doa Bapa Kami dan di kemudian hari engkau akan datang ke San Giovanni Rotondo untuk menemuiku.’ Dampak dari penampakan itu adalah sebagai berikut: aku di ambang ajal beberapa menit sebelumnya dan beberapa menit kemudian aku bangkit berdiri dan duduk. Ketika para kerabat datang kembali ke kamarku, mereka mendapatiku sedang berdoa. Aku mengajak mereka untuk berdoa bersamaku dan aku menceritakan penglihatan itu kepada mereka. Kami berdoa bersama dan kesehatanku mulai pulih kembali. Segenap dokter yakin bahwa suatu mukjizat telah terjadi. Aku pergi ke San Giovanni Rotondo beberapa bulan kemudian guna menyampaikan terima kasih kepada Padre Pio. Aku bertemu muka dengannya dan ia mengulurkan tangannya agar aku dapat menciumnya. Sementara aku berterima kasih kepadanya, tercium olehku bau harum Padre Pio yang termasyhur itu. Kata Padre, `Engkau dianugerahi mukjizat, tetapi janganlah berterima kasih kepadaku. Hati Yesus Yang Mahakudus yang telah mengutusku untuk menyelamatkanmu sebab engkau berdevosi kepada Hati-Nya yang Mahakudus dan engkau juga setia menjalankan Sembilan Jumat Pertama dalam bulan.’”
    INDERA ADIKODRATI
Banyak orang kudus dalam Gereja Katolik memiliki karisma yang memampukan mereka mengetahui sesuatu yang jauh, atau melihat masa depan, atau melihat serta merasakan sesuatu di tempat yang jauh dengan mempergunakan pancaindera dan kemampuan intelektual normal mereka. Padre Pio memiliki karisma indera adikodrati ini. Hanya dengan melihat seseorang, ia dapat melihat ke dalam bagian-bagian jiwanya yang paling rahasia.
   Seorang wanita datang dari Inggris untuk mengakukan dosanya kepada Padre Pio. Ia pergi ke kamar pengakuan, tetapi Padre Pio menutup jendelanya seraya berkata, “Aku tidak dapat melayanimu.” Wanita itu tinggal beberapa minggu lamanya dan sepanjang waktu itu, setiap hari ia kembali datang ke kamar pengakuan dan setiap hari ia kembali ditolak. Pada akhirnya, Padre Pio mau mendengarkan pengakuan dosanya. Wanita itu bertanya kepada Padre Pio mengapakah Padre membuatnya menunggu begitu lama agar dapat mengaku dosa. Padre Pio menjawab, “Dan engkau sendiri? Berapa lama engkau telah membiarkan Tuhan kita menunggu? Seharusnyalah engkau heran bahwa Yesus mau menyambutmu setelah engkau melakukan begitu banyak sakrilegi. Engkau telah menunda-nunda pengakuanmu selama bertahun-tahun; di samping itu, walau engkau berdosa terhadap suamimu dan terhadap ibumu, engkau tetap menyambut Komuni Kudus dalam keadaan dosa berat.” Wanita itu terperanjat dan ia sungguh menyesal. Ia menangis ketika menerima absolusi. Ia kembali ke Inggris beberapa hari kemudian, dalam keadaan amat bahagia.

   Seorang wanita menceritakan kisah berikut. “Pada tahun 1945, ibuku mengajakku pergi ke St. Giovanni Rotondo guna memperkenalkanku secara pribadi kepada Padre Pio dan agar aku mengakukan dosaku kepadanya. Ada begitu banyak orang berada dalam antrian! Sementara menunggu giliran, aku memikirkan apa-apa yang hendak aku akukan kepadanya; tetapi, ketika aku berutut di hadapannya, pikiranku kosong. Padre terkasih segera mengetahui keadaanku dan, seraya tersenyum ia berkata, `Apakah engkau keberatan jika aku mengatakannya untukmu?’ Aku menyatakan persetujuanku dengan menganggukkan kepala, dan sebentar kemudian aku sungguh heran. Tampaknya mustahil! Padre Pio mengatakan kepadaku, kata demi kata, apa-apa yang hendak aku katakan kepadanya. Aku tetap tenang dan secara batin aku menyampaikan terima kasih kepadanya sebab telah membuatku mengalami salah satu karismanya yang luar biasa. Aku menyerahkan kesehatan jiwa dan ragaku kepadanya. Ia menjawab, `Aku akan menjadi bapa rohanimu untuk selamanya!’ Aku meninggalkan kamar pengakuan dengan luapan sukacita dalam hatiku. Sementara aku dalam perjalanan pulang dalam kereta dan di sepanjang jalan, tercium olehku harum semerbak bunga-bungaan yang tak akan pernah mungkin terlupakan olehku!
    HARUM SURGAWI
Beberapa orang kudus dianugerahi karunia yang dikenal sebagai “harum kekudusan”. Fenomena ini disebut osmogenesia. Karunia ini memampukan orang untuk mengenali kehadiran orang kudus tersebut melalui bau harum yang khas. St Padre Pio dianugerahi harum tanda kesucian yang disebut harum kekudusan, sebab itu, orang yang berada di dekatnya, dapat seringkali mencium harumnya yang khas. Bau harum ini kerapkali terpancar dari tubuhnya atau dari benda-benda yang disentuhnya atau dari pakaiannya. Terkadang bau harum ini dapat tercium pada tempat-tempat yang ia lalui.
  Biarawan Modestino mengisahkan, “Suatu ketika aku melewatkan masa liburku di St. Giovanni Rotondo. Aku pergi kepada Padre Pio di sakristi pagi itu untuk melayani Misa Kudus, tetapi biarawan-biarawan lain telah ada di sana saling berdebat di sakristi mengenai siapa yang boleh mendapatkan hak istimewa ini. Padre Pio menyela perdebatan mereka dengan mengatakan – `hanya dia yang akan melayani Misa Kudus’- dan Padre Pio menunjuk padaku! Aku menyertai Padre Pio menuju altar St Fransiskus; aku menutup pintu dan mulai melayani Misa Kudus dalam kekhidmadan yang luar biasa. Ketika Misa sampai pada bagian `Sanctus’ tiba-tiba aku rindu mencium lagi bau harum tak terlukiskan yang tercium olehku saat aku mencium tangan Padre Pio. Kerinduan itu segera terpenuhi dan seolah aku mabuk oleh harum St Padre Pio. Keharuman itu semakin dan semakin merebak begitu rupa hingga wewangian itu membuatku bernapas secara tak teratur. Aku menyandarkan tanganku pada rel komuni agar aku tak jatuh! Aku nyaris tak sadarkan diri ketika secara batin aku mohon pada Padre Pio untuk menyelamatkanku dari rasa malu di hadapan umat. Tepat saat itu, bau harum pun lenyap. Sore hari, sementara aku menyertai Padre Pio ke kamarnya, aku minta penjelasan Padre Pio mengenai fenomena yang terjadi. Jawabnya, `Anakku, aku tak dapat menjelaskannya. Adalah campur tangan Tuhan untuk mengijinkan seseorang mencium bau harum itu kapanpun seperti yang dikehendaki-Nya.’”
 Seorang laki-laki bertemu dengan Padre Pio melalui serangkaian peristiwa aneh yang tak terduga. Ia bercerita, “Pertama kali aku mendengar orang berbicara mengenai biarawan religius yang luar biasa ini adalah setelah masa perang. Seorang temanku kenal baik dengan Padre. Ia berbicara antusias mengenainya. Tetapi aku berkata kepada diriku sendiri bahwa cerita-ceritanya mengenai orang kudus ini agak sedikit berlebihan. Jadi, harus kuakui bahwa reaksi pertamaku adalah acuh dan tak percaya. Begitu pula ketika temanku menceritakan berbagai fenomena yang terjadi melalui Padre Pio, terutama mengenai bau harum itu. Banyak orang menyatakan mencium aroma wewangian bahkan ketika mereka tidak berada dekat sang biarawan yang kudus itu. Dapat kalian bayangkan betapa tercengangnya aku ketika hal ini mulai terjadi pula padaku. Akan tercium olehku aroma violet di tempat-tempat yang tak lazim, di mana bahkan tak didapati tanda-tanda akan adanya bunga di sana. Aku mulai terheran-heran akan diriku sendiri. Aku mulai meragukan inderaku. Aku bahkan mengatakan kepada diriku sendiri bahwa pastilah aku sedang bermimpi. Suatu hari, fenomena itu terjadi kala aku sedang berlibur bersama isteriku. Aku pergi ke kantor pos guna mengeposkan sepucuk surat. Kantor pos tersebut tidak biasa mempergunakan pengharum ruangan. Dan setahuku tak ada kantor pos yang demikian. Tetapi, sekonyong-konyong, dan tak mungkin salah, tercium olehku harum bunga violet. Mencium wangi ini, isteriku bertanya, `Darimanakah bau harum ini berasal?’ Dengan terkejut aku bertanya, `Apakah engkau menciumnya juga?’ Lalu kuceritakan kepada isteriku mengenai Padre Pio dan mengenai aroma wangi-wangian khas yang menyertai kehadirannya. Aroma ini dapat tercium bahkan jika orang berada jauh dari Padre yang baik itu. Isteriku tersentuh, lalu katanya, `Jika aku adalah engkau, sekarang juga aku akan berangkat ke San Giovanni Rotondo.’ Maka, keesokan harinya kami pun berangkat. Kami berjumpa dengan Padre Pio dan ia berkata kepadaku, `Ah, inilah dia pahlawan kita. Betapa aku bersusah payah memanggilmu untuk datang ke mari.’ Hari itu juga, aku beroleh kesempatan untuk berbicara secara pribadi dengan Padre Pio. Sejak saat itu hidupku berubah.”
    BILOKASI
Bilokasi dapat didefinisikan sebagai kehadiran serentak seseorang di dua tempat yang berbeda. Berbagai kesaksian sehubungan dengan tradisi Kristiani melaporkan adanya peristiwa-peristiwa bilokasi berkenaan dengan para kudus. Padre Pio dianugerahi karisma ini; banyak saksi mata melihatnya berada di tempat-tempat yang berbeda pada waktu yang bersamaan. Berikut adalah beberapa di antaranya:
 Padre Alberto, yang bertemu dengan Padre Pio pada tahun 1917, menceritakan, “Aku melihat Padre Pio berdiri di depan jendela, memandang ke arah pegunungan. Ia sedang berbicara sendiri. Aku menghampirinya guna mencium tangannya, tetapi ia tidak menyadari kehadiranku dan aku melihat bahwa tangannya menegang. Pada saat itu, aku mendengar dengan jelas ia sedang memberikan absolusi dan pengampunan kepada seseorang. Sejenak kemudian, Padre Pio terguncang seolah baru saja terbangun dari tidur. Ia melihatku dan berkata, `Engkau di sini. Aku tidak menyadarinya!’ Beberapa hari kemudian, datang sebuah telegram dari Turin. Seseorang menyampaikan ucapan terima kasih kepada superior biara karena telah mengutus Padre Pio ke Turin guna melayani seseorang yang sedang menghadapi ajal. Aku mengerti bahwa orang itu sedang menghadapi maut pada saat Padre Pio memberkatinya di San Giovanni Rotondo. Sudah pasti, superior biara tidak mengutus Padre Pio ke Turin, tetapi ia bilokasi ke sana.”
   Pada tahun 1946, sebuah keluarga Amerika pergi dari Philadelphia ke Saint Giovanni Rotondo guna menyampaikan terima kasih kepada Padre Pio. Putera mereka, seorang pilot pesawat pembom (semasa Perang Dunia II), telah diselamatkan nyawanya oleh Padre Pio di udara di atas Samudera Pasifik. Sang putera mengisahkan, “Pesawat sedang terbang dekat lapangan udara di suatu pulau di mana pesawat hendak mendarat setelah dimuati bom. Tetapi, tiba-tiba pesawat diserang oleh sebuah pesawat tempur Jepang. Pesawat meledak sebelum seluruh awak pesawat sempat terjun dengan parasut. Hanya aku yang berhasil keluar dari pesawat. Aku tak tahu bagaimana aku berhasil melakukannya. Aku berusaha membuka parasut, tetapi gagal. Pastilah aku jatuh hancur berkeping-keping ke tanah jika aku tak mendapatkan pertolongan dari seorang biarawan yang sekonyong-konyong muncul di udara. Jenggotnya putih. Ia menggendongku dengan kedua tangannya dan membaringkanku dengan lembut di pintu masuk pangkalan. Dapat kalian bayangkan betapa orang tercengang mendengar ceritaku. Tak seorang pun percaya, tetapi, melihat keberadaanku di sana, mereka tak dapat berkata apa-apa. Beberapa hari kemudian barulah aku mengetahui siapa biarawan yang telah menyelamatkan hidupku, yaitu saat aku cuti dan pulang ke rumah. Aku melihat gambar biarawan itu di salah satu pigura ibuku. Ibu mengatakan bahwa ia telah meminta Padre Pio untuk menjagaku.”
    LEVITASI
Levitasi dapat didefinisikan sebagai fenomena di mana orang terangkat dari tanah dan tinggal melayang di udara. Fenomena yang demikian jelas merupakan suatu karunia yang diberikan Tuhan kepada para Mistikus Gereja Katolik. St Yosef dari Cupertino, misalnya, termashyur karena fenomena levitasinya. Juga Padre Pio dari Pietrelcina dianugerahi karunia yang demikian.

   Di Bari, Italia, dalam masa Perang Dunia Kedua, terdapat Markas Besar Angkatan Udara Amerika. Menurut kabar, banyak perwira yang diselamatkan nyawanya oleh Padre Pio selama masa perang. Bahkan sang Jenderal menjadi saksi atas suatu kisah yang menakjubkan. Jenderal memimpin satu skwadron pembom untuk menghancurkan gudang perlengkapan perang Jerman yang terletak di St. Giovanni Rotondo. Jenderal itu menceritakan bahwa ketika pesawat-pesawat pembom telah mendekati target, para perwira dan juga ia sendiri melihat di langit seorang biarawan dengan kedua tangan terangkat. Bom-bom berjatuhan dengan sendirinya ke dalam hutan. Kemudian, pesawat-pesawat berputar haluan tanpa dikendalikan pilot ataupun para perwira lainnya. Semua terheran-heran, siapakah gerangan biarawan itu sehingga pesawat-pesawat tempur taat kepadanya. Seseorang memberitahukan kepada Jenderal, “Di San Giovanni Rotondo, ada seorang biarawan yang melakukan banyak mukjizat.” Jenderal memutuskan bahwa suatu saat ia harus pergi melihat apakah biarawan yang dimaksud adalah orang yang sama dengan yang ia lihat melayang-layang di udara. Setelah perang usai, sang Jenderal mendatangi biara Kapusin bersama beberapa pilot. Begitu memasuki biara, ia melihat ada banyak sekali biarawan di sana; seorang di antara mereka segera dikenalinya sebagai biarawan yang telah menghentikan pesawat-pesawat tempur; dia adalah Padre Pio. Padre menghampiri Jenderal seraya berkata, “Engkaukah itu yang hendak membunuh kami semua?” Tergerak oleh tatapan mata dan kata-kata Padre Pio, sang Jenderal berlutut di hadapan Padre. Seperti biasa, Padre Pio berbicara kepadanya dalam dialek setempat, tetapi Jenderal yakin bahwa biarawan itu berbicara kepadanya dalam bahasa Inggris! Ini merupakan karunia Padre Pio yang lain. Mereka berdua menjadi sahabat, dan sang Jenderal, yang beragama Protestan, akhirnya menjadi seorang Katolik.

   Padre Ascanio mengisahkan, “Kami sedang menanti Padre Pio yang akan datang untuk melayani Sakramen Pengakuan. Gereja penuh sesak dan setiap orang mengarahkan pandangannya pada pintu yang akan dilalui Padre Pio. Pintu itu tetap tertutup, tetapi sekonyong-konyong aku melihat Padre Pio berjalan di atas kepala orang banyak hingga tiba di kamar pengakuan dan lalu menghilang. Beberapa menit kemudian Padre sudah mulai menerima peniten. Aku tak mengatakan apa-apa; aku pikir pastilah aku sedang bermimpi, tetapi, kala aku berjumpa dengannya aku bertanya, `Padre Pio, bagaimana Padre dapat berjalan di atas kepala orang banyak?’ Dengan bergurau ia menjawab, `Yakinlah anakku, sama halnya seperti berjalan di atas lantai…’”



PERGULATAN DENGAN SETAN

Salah satu kontak pertama Padre Pio dengan penguasa kegelapan terjadi pada tahun 1906. Suatu malam, Padre Pio tiba kembali ke Biara Santo Elia dari Pianisi. Ia tak dapat tidur malam itu karena hawa musim panas yang menyengat. Terdengar langkah-langkah kaki seseorang yang datang dari suatu ruangan dekat sana. Pikirnya, “Tampaknya, Biarawan Anastasio juga tak dapat tidur.” Padre Pio bermaksud memanggilnya agar mereka dapat duduk dan bercakap-cakap sejenak. Maka, ia pergi ke jendela dan berusaha memanggil rekannya, namun tak ada suara yang keluar. Di salah satu jendela dekat sana, ia melihat seekor anjing yang sangat besar. Sesudahnya, dengan kengerian dalam suaranya, Padre Pio menceritakan, “Aku melihat anjing besar itu masuk melalui jendela; dari mulutnya keluar asap. Aku terjatuh ke atas tempat tidur dan mendengar suara yang berasal dari anjing itu mengatakan, `dia, dialah itu.’ Sementara aku masih di tempat tidur, binatang itu meloncat ke jendela, dan lalu ke atas atap dan kemudian menghilang.”

Iblis menyerang Padre Pio dengan berbagai macam cara. Padre Augustine juga menegaskan bahwa iblis menampakkan diri kepada Padre Pio dalam berbagai macam rupa. “Iblis menampakkan diri sebagai gadis-gadis muda yang menari-nari telanjang, sebagai salib, sebagai seorang pemuda sahabat para biarawan, sebagai bapa rohani atau sebagai bapa provincial, sebagai Paus Pius X, sebagai malaikat pelindung, sebagai St Fransiskus dan sebagai Santa Perawan.” Iblis juga menampakkan diri dalam rupanya yang menyeramkan dengan disertai suatu bala tentara roh-roh jahat. Ada kalanya iblis menghampiri Padre Pio tanpa penampakan, melainkan dengan suara ribut yang memekakkan telinga, dengan semburan ludah, dll. Padre Pio berhasil membebaskan diri dari serangan-serangan iblis ini dengan menyerukan Nama Yesus.

Pertempuran antara Padre Pio dan setan menjadi semakin sengit apabila Padre Pio membebaskan orang-orang yang kerasukan setan. Padre Tarcisio dari Cervinara mengatakan, “Lebih dari sekali, sebelum meninggalkan tubuh orang yang kerasukan, iblis berteriak, `Padre Pio, engkau menimbulkan lebih banyak masalah bagi kami daripada St Mikhael’; atau `Padre Pio, janganlah mencuri tubuh orang-orang dari kami, maka kami tak akan mengganggumu.’”
Padre Pio menggambarkan serangan-serangan iblis dalam banyak suratnya yang ditujukan kepada para bapa rohaninya:
   Dalam salah satu surat kepada Padre Agostino, tertanggal 18 Januari 1912, Padre Pio menulis, “Iblis tak hendak kalah dalam pertempuran ini. Ia mengenakan berbagai macam rupa. Sudah beberapa hari ini, ia menampakkan diri bersama saudara-saudaranya yang bersenjatakan tongkat dan batang-batang besi. Salah satu kesulitannya adalah mereka menampakkan diri dalam berbagai penyamaran. Beberapa kali mereka mencampakkanku dari tempat tidur dan menyeretku keluar dari kamar. Walau demikian, aku tetap sabar; aku tahu bahwa Yesus, Bunda Maria, malaikat pelindungku, St Yosef dan St Fransiskus senantiasa bersamaku.”

   Surat kepada Padre Agostino, tertanggal 5 November 1912, “Padre terkasih, karena kemurahan Tuhan, ini adalah suratku yang kedua untukmu, dan serupa dengan yang pertama. Aku yakin bahwa Padre Evangelista telah memberitahukan kepadamu perihal pertempuran baru yang dilancarkan oleh roh-roh jahat, roh-roh yang murtad, atasku. Padre, mereka tak dapat menang karena kegigihanku. Perlu kukatakan kepadamu mengenai jebakan-jebakan yang mereka pasang bagiku, dan bagaimana mereka berusaha membujukku agar mengabaikan nasehat-nasehatmu. Surat-suratmu merupakan satu-satunya penghiburan bagiku; dan aku memuliakan Tuhan karena surat-surat itu mengacaukan roh-roh jahat. Tak dapat kuceritakan kepadamu bagaimana hebatnya mereka menyerangku. Terkadang, aku pikir aku akan mati. Sabtu yang lalu aku pikir mereka sungguh hendak membunuhku, dan aku tidak tahu kepada orang kudus yang mana aku harus memohon pertolongan. Aku berpaling kepada malaikatku, tetapi ia sengaja berlambat. Pada akhirnya, ia datang terbang sekelilingku dan memadahkan puji-pujian kepada Tuhan dengan suara malaikatnya. Kemudian, terjadilah satu dari peristiwa yang biasa terjadi: aku menegurnya dengan keras karena keterlambatannya, sementara aku memanggilnya dengan sungguh memohon pertolongan. Guna menghukumnya, sengaja aku tak mau bertatap muka dengannya, ingin agar ia menjauh dariku. Tetapi makhluk malang itu akhirnya meluluhkan hatiku dengan menangis, dan ketika aku menatapnya, aku mengerti bahwa ia sungguh menyesal.”

   Surat kepada Padre Agostino, tertanggal 18 November 1912, “Musuh tak hendak membiarkanku tenang; terus-menerus ia menyerangku. Ia berusaha meracuni hidupku dengan jebakan-jebakan setan. Pastilah ia sedih sebab aku menceritakan kenyataan-kenyataan ini kepadamu, padahal ia menyuruhku untuk merahasiakannya darimu. Ia mengatakan padaku untuk menceritakan kepadamu hanya kunjungan-kunjungan baik yang aku terima; sesungguhnya ia mengatakan bahwa engkau hanya menyukai cerita-cerita yang demikian. Pastor telah diberitahu mengenai pertempuran yang kuhadapi melawan roh-roh jahat ini, dan mengenai surat-suratmu, ia menyarankan agar aku membuka surat hanya di hadapannya. Sebab itu, ketika suratmu yang pertama tiba, aku pergi membukanya di kantornya. Tetapi, begitu aku membuka surat di hadapan Pastor, kami mendapati bahwa seluruh surat ternoda dengan tinta. Apakah ini balas dendam si iblis? Aku tak percaya bahwa engkau mengirimkan surat dalam keadaan demikian kepadaku, teristimewa karena engkau tahu bahwa penglihatanku kurang baik. Pada mulanya kami tak dapat membaca surat itu, lalu kami menempatkan sebuah salib di atasnya, dan barulah kami dapat membaca, setidak-tidaknya sebagian dari isinya.”

   Surat kepada Padre Agostino, tertanggal 13 Februari 1913, “Sekarang, duapuluh dua hari telah berlalu sejak Yesus mengijinkan setan melampiaskan murkanya atasku. Padre, sekujur tubuhku memar karena hajaran yang aku terima hingga sekarang ini dari musuh kita. Beberapa kali terjadi, mereka bahkan merobek pakaianku agar mereka dapat menghajar langsung ke dagingku.”

   Surat kepada Padre Benedetto, tertanggal 18 Maret 1913, “Setan-setan ini tak kunjung henti menganiayaku, bahkan menjungkirkanku dari tempat tidur. Mereka bahkan merobek pakaianku guna menghajarku! Tetapi sekarang mereka tak lagi menakutkanku. Yesus mengasihiku, kerapkali Ia mengangkatku dan membaringkanku kembali di atas tempat tidur.”

   Setan melampaui segala batas kelicikan tipu muslihat ketika ia datang kepada Padre Pio dengan menyamar sebagai seorang peniten. Padre Pio menceritakannya sebagai berikut, “Suatu hari, sementara aku sedang mendengarkan pengakuan dosa, seorang laki-laki datang ke kamar pengakuan di mana aku berada. Ia tinggi, tampan, pakaiannya anggun; ia halus budi bahasanya dan sopan. Ia mulai mengakukan dosa-dosanya yang bermacam ragamnya: menentang Tuhan, menentang manusia dan menentang moral. Segala dosa-dosanya itu sungguh teramat menjijikkan! Aku bingung demi mendengar segala dosa yang ia katakan kepadaku, tetapi aku menanggapinya dengan Sabda Tuhan, teladan Gereja, dan teladan para kudus. Namun, peniten yang misterius ini menyanggahku kata demi kata, membenarkan dosa-dosanya, senantiasa dengan kefasihan dan kesopanan yang luar biasa. Ia membenarkan diri atas segala dosanya, membuatnya kedengaran normal dan biasa, bahkan logis pada tingkat manusia. Ia juga bersikap demikian terhadap dosa-dosa mengerikan melawan Tuhan, Santa Perawan, dan para kudus, senantiasa menggunakan argumentasi kurang ajar yang berputar-putar. Ia meneruskannya bahkan dengan dosa-dosa busuk yang hanya muncul dalam benak seorang yang paling berdosa. Jawaban-jawaban yang disampaikannya kepadaku dengan kehalusan budi bahasa yang keji sungguh mencengangkanku. Aku bertanya-tanya: siapakah dia ini? Dari latar belakang apakah ia berasal? Dan aku berusaha memandangnya guna membaca sesuatu pada wajahnya. Pada saat yang sama, aku juga memusatkan diri pada setiap kata yang ia ucapkan, berusaha menemukan suatu petunjuk mengenai identitasnya. Tetapi, sekonyong-konyong, melalui terang batin yang jelas dan nyata, aku mengenalinya dengan pasti siapa dia. Dengan suara penuh wibawa aku berkata kepadanya, `Katakan Hidup Yesus, Hidup Maria!’ Segera setelah aku mengucapkan nama-nama manis yang penuh kuasa ini, seketika itu juga setan lenyap dalam suatu percikan api, meninggalkan bau busuk yang tak tertahankan.” (Padre Pierino adalah imam sekaligus anak rohani Padre Pio yang pada waktu itu ada di sana).

   Padre Pierino menceritakan kisahnya, “Suatu hari, Padre Pio sedang dalam kamar pengakuan, tersembunyi di balik dua tirai. Tirai kamar pengakuan tidak tertutup rapat dan aku berhasil melihat Padre Pio. Antrian orang ada di satu sisi, semuanya dalam satu barisan. Dari tempat di mana aku berada, aku membaca Brevir dan, terkadang aku mendongakkan kepala untuk melihat Padre. Dari kapel, lewat pintu, datang seorang laki-laki. Ia tampan, dengan mata yang hitam kecil, rambut abu-abu, mengenakan setelan jas gelap dan celana panjang bergaris. Aku tak ingin orang itu mengganggu konsentrasiku, jadi aku terus mendaraskan Brevir; tetapi suara batinku mengatakan: `Berhenti dan lihatlah!’ Aku berhenti dan melihat Padre Pio. Orang itu berjalan mondar-mandir dan tanpa menunggu giliran, berhenti tepat di depan kamar pengakuan setelah peniten sebelumnya keluar. Segera ia melewati tirai dan berdiri tegak di hadapan Padre Pio. Kemudian sesudahnya aku tidak melihat laki-laki berambut gelap itu lagi. Beberapa menit kemudian aku melihat laki-laki itu jatuh terjengkang di atas lantai. Di atas kursi pengakuan, di mana tadinya Padre Pio duduk, aku tak melihat Padre Pio lagi, melainkan Yesus. Ia berambut pirang, muda dan tampan; Ia memandang pada orang yang jatuh di lantai. Lalu, lagi, aku melihat Padre Pio keluar dari sana. Ia kembali duduk di tempatnya dan penampilannya membaur dengan penampilan Yesus. Lalu, aku hanya melihat Padre Pio. Segera aku mendengar suaranya, `Marilah cepat sedikit, saudara-saudara.’ Dan tak seorang pun melihat hal ini terjadi! Semuanya memulai giliran mereka kembali.”

    “ST PADRE PIO DAN SETAN” MENURUT P. GABRIELE AMORTH
Berikut adalah wawancara Andrea Monda dengan P Gabriel Amorth, pakar eksorsisme Gereja Katolik, mengenai aniaya setan yang dialami Padre Pio.
AM
:
Di samping jutaan pengagumnya, bukankah Padre Pio juga mempunyai banyak musuh?
GA
:
Padre Pio sangat dicintai, tetapi ia juga menderita penganiayaan dari musuh-musuh yang mengerikan. Saya tidak berbicara mengenai musuh manusia, yang mungkin sesat karena dusta, prasangka ataupun salah paham. Musuh Padre Pio yang sesungguhnya adalah roh-roh jahat yang mengepungnya. Tidak seperti yang diberitakan beberapa laporan, Padre Pio senantiasa menghormati serta menjunjung tinggi para superiornya; ia senantiasa taat kepada mereka, walau seringkali ketaatan itu harus dibayar dengan pengorbanan besar dari pihaknya. Pertempuran yang sengit dan terus-menerus dalam hidup Padre Pio adalah dengan musuh-musuh Tuhan dan musuh-musuh jiwa manusia, yaitu setan yang berusaha menjerat jiwanya.
AM
:
Bilamanakah pertempuran itu dimulai? Apakah hal itu menyangkut pertempuran fisik atau penglihatan-penglihatan dari setan?
GA
:
Setan senantiasa adalah roh halus, tetapi guna menyatakan dirinya, ia mengambil aspek yang dapat sangat provokatif dan mencelakakan jiwa: kengerian, bujuk rayu, tipu muslihat. Sejak masa kanak-kanak, Padre Pio menikmati penglihatan-penglihatan surgawi, namun demikian ia juga mengalami kehadiran roh-roh jahat yang mengerikan, yang menyiksanya dengan cara yang paling menakutkan. Terkadang mereka menderanya dengan rantai-rantai yang berat, meninggalkannya dalam keadaan memar lebam dan berdarah. Terkadang mereka menampakkan diri dalam rupa biantang-binatang yang menyeramkan. Banyak sekali biografi yang menceritakan pertempuran antara Padre Pio dengan roh-roh jahat.
AM
:
Adakah orang-orang lain yang melihat serangan-serangan bengis ini?
GA
:
Untungnya, Padre Pio sendiri banyak bercerita mengenai pertempurannya dengan roh-roh jahat. Terutama, tulisan-tulisan yang ditujukan kepada pembimbing rohaninya pada tahun 1911 di biara Venafro, sangat terang dan jelas. Itulah untuk pertama kalinya Padre Pio mengungkapkan kehidupan rohaninya yang kaya, baik penglihatan-penglihatan surgawi maupun aniaya roh-roh jahat. Adakalanya Padre Pio berbicara begitu bebas dengan Santa Perawan dan Tuhan, tanpa menyadari bahwa biarawan-biarawan yang lain mungkin ada di dekatnya dan mendengarkannya.
AM
:
Apakah yang dikatakan Padre Pio kepada pembimbing rohaninya?
GA
:
Setan akan menampakkan diri kepadanya dalam rupa seekor kucing hitam yang buruk, atau dalam rupa seekor binatang yang sungguh menjijikkan. Jelas, tujuannya adalah untuk menerornya dengan kengerian. Di lain waktu, roh-roh jahat datang sebagai gadis-gadis muda, telanjang dan menggairahkan, menarikan tari-tarian mesum, guna mencobai kemurnian imam muda ini. Tetapi, Padre Pio merasa bahwa bahaya yang terbesar adalah ketika iblis berusaha menipunya dengan mengambil rupa salah seorang dari para superiornya (superior provincial atau pembimbing rohani) atau dalam rupa para kudus (Tuhan, Santa Perawan, atau St Fransiskus Asisi).
AM
:
Bagaimana Padre Pio melindungi diri?
GA
:
Ia belajar “ilmu ibu jari,” yang juga kita dapati dalam tulisan-tulisaSt Theresia dari Avila, dan yang diajarkannya pula pada sebagian dari anak-anak rohaninya. Padre Pio memperhatikan adanya suatu sikap perlahan-lahan apabila Santa Perawan atau Tuhan pertama kali muncul, diikuti perasaan damai ketika penglihatan berakhir. Sebaliknya, setan yang mengambil rupa tokoh kudus membangkitkan dengan segera perasaan sukacita dan keterpikatan, yang sesudahnya digantikan oleh rasa sesal dan kesedihan.
AM
:
Apakah Padre Pio pernah mengalami kehadiran setan dalam diri orang-orang yang datang kepadanya?
GA
:
Ya, dalam hal ini ia dapat dengan jelas melihat apakah seseorang dirasuki setan. Ia akan menyampaikan bahaya tersebut kepada orang yang bersangkutan secara pribadi. Saat-saat genting kadang terjadi dalam kamar pengakuan. Dalam pengakuan dosa, kadang kala Padre Pio membuat suatu gerakan seolah mengusir sesuatu. Mungkin, ia memohon kepada Tuhan agar membebaskan peniten dari suatu pencobaan atau kebiasaan jahat. St Alfonsus, yang ahli dalam hal-hal demikian, menyarankan agar dalam kasus-kasus tertentu bapa pengakuan dapat melakukan eksorsisme-mini, bahkan sebelum pengakuan dimulai. Sebagian besar dari pertermpuran-pertempuran paling sengit antara Padre Pio dengan roh-roh jahat terjadi saat ia berusaha menyelamatkan seseorang dari kerasukan setan, baik saat berada di kamar pengakuan ataupun saat ia berdoa bagi salah seorang anak rohaninya.
AM
:
Apakah Padre Pio dapat dianggap sebagai seorang eksorsis?
GA
:
Padre Pio tidak pernah melakukan eksorsisme resmi. Namun demikian, ia memiliki ketajaman discernment yang luar biasa atas jiwa-jiwa yang berada dalam bahaya. Banyak orang yang dianggap kerasukan setan dibawa kepada Padre Pio, dan setiap kali sikap yang diambilnya berbeda dalam setiap kasus yang berbeda pula. Dapat kita katakan bahwa ia dapat mengetahui apakah orang yang kerasukan setan tersebut dapat dengan mudah dibebaskan atau tidak.
Suatu ketika Padre Pio membebaskan seorang anak muda hanya dengan mengucapkan kata-kata “Pergi!” Tetapi, pembebasan seketika yang demikian amat jarang terjadi. Dalam suatu kesempatan, Padre Faustino Negrini menyertai seorang pemudi bernama Agnese Salamoni, yang dikutuk menjadi “gadis model paroki” dan sekonyong-konyong dirasuki setan. Padre Pio mengucapkan suatu berkat sederhana atas gadis itu, yang tampaknya menghasilkan buah. Padre Faustino sendiri menuntaskan pembebasan sang pemudi setelah berdoa selama 13 tahun! Tampaknya Padre Pio mengetahui bahwa waktu pembebasannya belum tiba.
SEKILAS RIWAYAT HIDUP
Francesco Forgione dilahirkan pada tanggal 25 Mei 1887 di sebuah kota kecil bernama Pietrelcina, Italia selatan, dalam wilayah Keuskupan Agung Benevento. Ia adalah anak kelima dari delapan putera-puteri keluarga petani Grazio Forgione dan Maria Giuseppa De Nunzio (Mamma Peppa). Mamma Peppa mengenangnya sebagai anak yang berbeda dari anak-anak lain sebayanya, “ia tidak pernah tidak sopan ataupun bersikap tidak pantas.” Sejak usia lima tahun, Francesco dianugerahi penglihatan-penglihatan surgawi dan juga mengalami penindasan-penindasan setan; ia melihat dan berbicara dengan Yesus dan Santa Perawan Maria, juga dengan malaikat pelindungnya; sayangnya, kehidupan surgawi ini disertai pula oleh pengalaman tentang neraka dan setan. Ketika usianya duabelas tahun, Francesco kecil menerima Sakramen Penguatan dan menyambut Komuni Kudus-nya yang Pertama.
Pada tanggal 6 Januari 1903, terdorong oleh semangat yang bernyala-nyala, Francesco yang kala itu berusia enambelas tahun masuk novisiat Biarawan Kapusin di Morcone. Pada tanggal 22 Januari, Francesco menerima jubah Fransiskan dan menerima nama Broeder Pio. Di akhir tahun novisiat, Broeder Pio mengucapkan kaul sederhana, yang dilanjutkan dengan kaul meriah pada tanggal 27 Januari 1907. Karena kesehatannya yang buruk, setelah ditahbiskan sebagai imam pada tanggal 10 Agustus 1910 di Katedral Benevento, Padre Pio harus tinggal kembali bersama keluarganya. Para dokter yang mendiagnosanya memaklumkan bahwa ia mengidap infeksi paru-paru dan bahwa masa hidupnya hanya tinggal sebulan saja.
Meski demikian, setelah enam tahun bergulat dengan penyakitnya, kesehatan Padre Pio mulai membaik. Pada bulan September 1916, Padre Pio diutus ke rumah Biara San Giovanni Rotondo, di mana ia tinggal hingga akhir hayatnya. Bagi Padre Pio, iman adalah hidup: ia menghendaki segala sesuatu dan mengerjakan segala sesuatu dalam terang iman. Seringkali ia tampak tenggelam dalam doa-doa yang khusuk. Ia melewatkan siang hari dan sebagian besar malam hari dalam percakapan mesra dengan Tuhan. Padre Pio akan mengatakan, “Dalam kitab-kitab kita mencari Tuhan, dalam doa kita menemukan-Nya. Doa adalah kunci yang membuka hati Tuhan.” Iman membimbingnya senantiasa untuk menerima kehendak Allah yang misterius.    
Pada tanggal 20 September 1918, sementara berdoa di depan sebuah Salib di kapel tua, sekonyong-konyong suatu sosok seperti malaikat memberinya stigmata. Stigmata itu terus terbuka dan mencucurkan darah selama limapuluh tahun. Dalam surat tertanggal 22 Oktober 1918 kepada Padre Benedetto, pembimbing rohaninya, Padre Pio mengisahkan pengalaman penyalibannya:
“… Apakah yang dapat kukatakan kepadamu mengenai penyalibanku? Ya Tuhan! Betapa aku merasa bingung dan malu apabila aku berusaha menunjukkan kepada orang lain apa yang telah Engkau lakukan kepadaku, makhluk-Mu yang hina dina!
Kala itu pagi hari tanggal 20 [September] dan aku sedang berada di tempat paduan suara setelah perayaan Misa Kudus, ketika suatu istirahat, bagaikan suatu tidur yang manis menghampiriku. Segenap indera, lahir maupun batin, pula indera jiwa ada dalam ketenangan yang tak terlukiskan. Ada suatu keheningan mendalam di sekelilingku dan di dalamku; suatu perasaan damai menguasaiku dan lalu, semuanya terjadi dalam sekejab bahwa aku merasa bebas sepenuhnya dari segala keterikatan. Ketika semuanya ini terjadi, aku melihat di hadapanku, suatu penampakan yang misterius, serupa dengan yang aku lihat pada tanggal 5 Agustus, yang berbeda hanyalah kedua tangan, kaki dan lambung-Nya mencucurkan darah. Penglihatan akan Dia mengejutkanku: apa yang kurasakan pada saat itu sungguh tak terkatakan. Aku pikir, aku akan mati; dan pastilah aku mati jika Tuhan tidak campur tangan dan memperkuat hatiku, yang nyaris meloncat dari dadaku! Penglihatan berakhir dan aku tersadar bahwa kedua tangan, kaki dan lambungku ditembusi dan mencucurkan darah. Dapat kau bayangkan siksaan yang aku alami sejak saat itu dan yang nyaris aku alami setiap hari. Luka di lambung tak henti-hentinya mencucurkan darah, teristimewa dari Kamis sore hingga Sabtu. Ya Tuhan, aku mati karena sakit, sengsara dan kebingungan yang aku rasakan dalam kedalaman lubuk jiwaku. Aku takut aku akan mencucurkan darah hingga mati! Aku berharap Tuhan mendengarkan keluh-kesahku dan menarik karunia ini daripadaku….”
Padre Pio adalah imam pertama yang menerima stigmata Kristus. Para superiornya berusaha merahasiakan kejadian itu, kendati demikian, berita segera menyebar dan ribuan orang berduyun-duyun datang ke biara yang terpencil itu, baik mereka yang saleh maupun mereka yang sekedar ingin tahu. Sesungguhnya, setiap pagi, sejak pukul empat dini hari, selalu ada ratusan orang dan terkadang bahkan ribuan orang menantinya.
Padre Pio tidur tak lebih dari dua jam setiap harinya dan tak pernah mengambil cuti barang sehari pun selama limapuluh tahun imamatnya! Ia biasa bangun pagi-pagi buta guna mempersiapkan diri mempersembahkan Misa Kudus. Setelah Misa, Padre Pio biasa melewatkan sebagian besar harinya dalam doa dan melayani Sakramen Pengakuan Dosa. Hidupnya penuh dengan berbagai karunia mistik, termasuk kemampuan membaca batin para peniten, bilokasi, levitasi dan jamahan yang menyembuhkan. Darah yang mengucur dari stigmatanya mengeluarkan bau harum mewangi atau harum bunga-bungaan.
Padre Pio memiliki dua prakarsa dalam dua arah: arah vertikal kepada Tuhan, dengan membentuk “Kelompok Doa” pada tahun 1920 yang masih aktif hingga kini dengan 400.000 pendoa yang tersebar di seluruh dunia. Arah horizontal kepada komunitas yang menderita, dengan mendirikan sebuah rumah sakit modern “Casa Sollievo della Sofferenza” (Rumah untuk Meringankan Penderitaan) yang dibuka pada tanggal 5 Mei 1956, dan hingga kini melayani sekitar 60.000 pasien setiap tahunnya.
Selama lima puluh tahun imamatnya, Padre Pio menjalin persatuan yang akrab mesra dengan Tuhan melalui Ekaristi Kudus. Yang paling luar biasa dalam hidupnya bukanlah mukjizat, penyembuhan ataupun pertobatan orang dengan perantaraannya, melainkan pelayanannya di altar, mempersembahkan Kurban Kudus Misa, dimana ia menjadi satu dengan Kristus yang tersalib.
“… kalian akan datang kepada Tuhan dan menempatkan diri di hadirat-Nya karena dua alasan utama. Pertama, kita menyampaikan kepada Tuhan penghormatan dan ketaatan yang memang sudah sepatutnya. Hal itu dapat dilakukan tanpa Ia berbicara kepada kita, dan tanpa kita berbicara kepada-Nya, sebab kewajiban ini dapat ditunaikan dengan mengakui Dia sebagai Tuhan kita, dan mengenali diri sebagai makhluk ciptaannya yang hina dina, yang secara rohani rebah di hadapan-Nya, menanti perintah-perintah-Nya. Betapa banyak para kudus yang kerapkali menempatkan diri di hadapan Raja kita, tanpa berbicara kepada-Nya ataupun mendengarkan-Nya, melainkan hanya sekedar dilihat oleh-Nya, agar dengan ketekunan mereka ini mereka boleh dianggap sebagai hamba-hamba-Nya yang setia? Perilaku ini, menghaturkan diri di hadapan Tuhan semata-mata guna memberikan diri secara sukarela sebagai hamba-hamba-Nya adalah yang paling kudus, paling unggul, paling murni dan juga paling sempurna.
Alasan kedua menghaturkan diri di hadirat Allah sementara berdoa adalah untuk berbicara kepada-Nya dan mendengarkan suara-Nya lewat inspirasi dan pencerahan batin…. apabila kalian berdoa di hadirat Tuhan, hadapilah kebenaran, berbicaralah kepada-Nya jika kalian dapat, dan jika kalian tak dapat mengatakannya, berdiam diri sajalah, biarlah dirimu dilihat oleh-Nya, dan janganlah khawatir lagi mengenainya….”
Padre Pio dengan tulus menganggap diri sebagai tidak berguna, tidak layak menerima anugerah-anugerah Tuhan, penuh kelemahan dan cacat cela, walau demikian diberkati dengan karunia-karunia ilahi. Di tengah kekaguman orang terhadap dirinya, Padre Pio akan mengatakan, “Aku hanya ingin menjadi seorang biarawan miskin yang berdoa.”
Sejak masa muda, kesehatan Padre Pio amat rapuh, dan semakin memburuk keadaannya pada tahun-tahun terakhir masa hidupnya. Pada tanggal 23 September 1968, pukul 2.30 dini hari, dalam usia delapanpuluh satu tahun, Saudari Maut menjemputnya dalam keadaan siap lahir batin dan damai tenang. Segera setelah ia wafat, kamarnya dipenuhi bau harum semerbak selama beberapa saat lamanya, seperti bau harum yang memancar dari luka-lukanya selama limapuluh tahun penderitaannya; stigmata tak lagi tampak, tak terlihat sama sekali adanya darah ataupun tanda-tanda bekas luka.
Pada tanggal 20 Februari 1971, belum genap tiga tahun setelah wafat Padre Pio, Paus Paulus VI berbicara mengenainya kepada para Superior Ordo Kapusin, “Lihat, betapa masyhurnya dia, betapa seluruh dunia berkumpul sekelilingnya! Tetapi mengapa? Apakah mungkin karena ia seorang filsuf? Karena ia bijak? Karena ia cakap dalam pelayanan? Karena ia mempersembahkan Misa dengan rendah hati, mendengarkan pengakuan dosa dari fajar hingga gelap dan – tak mudah mengatakannya – ia adalah dia yang menyandang luka-luka Tuhan kita. Ia adalah manusia yang berdoa dan yang menderita.”
Padre Pio dinyatakan sebagai Venerabilis pada tanggal 18 September 1997 oleh Paus Yohanes Paulus II; pada tanggal 2 Mei 1999 dibeatifikasi; dan akhirnya dikanonisasi pada tanggal 16 Juni 2002 di Roma, oleh Paus yang sama. Gereja memaklumkan pesta liturgis St Padre Pio dari Pietrelcina dirayakan pada tanggal 23 September.

“disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: http://www.indocell.net/yesaya”