Posts from the ‘Iman Katolik’ Category

Jenazah Yang Tidak Membusuk (The Incorrupted Bodies)


 

1.Fenomena Jenazah Para Kudus yang Tak Rusak

 

Sepanjang sejarah Gereja, kita jumpai adanya fenomena yang menarik, yaitu jenazah beberapa orang kudus yang tidak rusak. Namun, ada beberapa orang yang menolak adanya fenomena ini dengan alasan, jenazah para kudus itu diberi lilin atau disimpan dalam peti yang kedap udara.
Memang benar beberapa jenazah para kudus itu diberi lilin dan disimpan dalam peti yang kedap udara. Akan tetapi, sebelum hal itu dilakukan, jenazah mereka telah terkubur di dalam tanah bertahun-tahun lamanya; waktu yang lebih dari cukup untuk membusukkan suatu jenazah. Selain itu, jenazah yang diberi lilin hanyalah bagian-bagian tertentu saja dari potongan tubuhnya. Oleh karena itu, seharusnya bagian yang tak diberi lilin pun akan membusuk, tetapi kenyataannya bagian yang tak diberi lilin itu juga tidak rusak.
Jenazah para kudus yang tak rusak ini ditemukan di lingkungan-lingkungan yang berbeda, termasuk dalam lingkungan yang sangat mendukung pembusukan jenazah. Beberapa di antaranya dalam temperatur yang cukup tinggi untuk membusukkan jenazah, kelembaban yang besar, bahkan ada yang tergenang dalam rawa. Padahal, sebelumnya jenazah itu tidak pernah mengalami proses pengawetan sama sekali. Jenazah-jenazah itu tetap bebas dari pembusukan sekalipun lingkungannya memiliki unsur-unsur yang lengkap untuk membusukkan jenazah. Yang lebih mengherankan lagi adalah sebagian besar jenazah itu adalah orang-orang kudus dalam Gereja Katolik. Bagaimana mungkin alam dapat memilih jenazah?
Selain kondisi jenazah yang tak rusak (inkoruptibilitas) ada pula tanda lain, yaitu keharuman surgawi. Ini merupakan sebuah fenomena yang beberapa kali ditemukan saat jenazah atau makam orang-orang kudus tertentu dibongkar. Keharuman ini biasanya tak dapat dibandingkan oleh keharuman apa pun di dunia. Kardinal Lambertini mengatakan ini sebagai sebuah mujizat, karena hampir tidak mungkin jenazah tidak berbau busuk. Dan lebih tidak mungkin lagi, ada jenazah yang harum. Hal ini hanya mungkin terjadi jika ada campur tangan kuasa adikodrati, yaitu kuasa Allah sendiri. Akan tetapi, perlu diingat bahwa iblis pun bisa mengeluarkan bau harum. Oleh karena itu, tanda keharuman ini harus dikaitkan dengan kekudusan orang tersebut ketika masih hidup.
Kardinal Prospero Lambertini, yang di kemudian hari menjadi Paus Benediktus XIV (1675-1758), menulis lima jilid buku berjudul “De Beatificatione Servorum Dei et de Beatorum Canonizatione.” Di dalamnya ia menulis pula tentang fenomena jenazah yang tak rusak ini, dengan judul “De Cadaverum Incorruptione.” Tulisan Kardinal Lambertini ini sampai sekarang tetap menjadi bahan referensi untuk kasus-kasus semacam ini.
Kriteria dari jenazah yang tak rusak adalah setelah dikubur selama bertahun-tahun tanpa mengalami proses pengawetan, tetap dapat mempertahankan rona, kesegaran, dan kelenturan seolah-olah hidup setelah mati bertahun-tahun. Tentu saja hal ini merupakan sesuatu yang luar biasa, dapat dikatakan suatu mujizat. Ketidakrusakan jenazah, bisa menjadi salah satu tanda kekudusan seseorang. Secara spiritualitas, tanda demikian merupakan indikasi bahwa jenazah orang tersebut dipersiapkan untuk kebangkitan tubuh dengan mulia.
Akan tetapi, tidak semua para kudus itu jenazahnya utuh sepenuhnya. Ada juga yang hanya bagian-bagian tertentu saja yang utuh, sedangkan bagian lainnya hancur secara alami. Hal ini berlaku misalnya pada St. Yohanes Krisostomos, si lidah emas. Semasa hidupnya ia banyak mewartakan kebenaran iman dan membela ajaran iman Katolik. Berkat kotbah-kotbahnya, banyak orang yang tersentuh dan mengalami pertobatan. Setelah ia wafat, beberapa tahun kemudian kuburnya dibongkar dan didapatkan lidahnya masih utuh sekalipun bagian tubuh lainnya sudah hancur.
Fenomena-fenomena ini memang menimbulkan banyak pertanyaan. Mengapa beberapa jenazah para kudus itu bisa tahan bertahun-tahun, bahkan beberapa dekade, dan bahkan ada yang tahan beberapa abad? Akan tetapi, kemudian mengapa setelah tahan sedemikian lamanya jenazah itu pun akhirnya hancur secara alami? Bagaimana mungkin ada bagian tubuh yang masih bisa bertahan utuh padahal sudah terpisah dari badannya? St. Bernadette dan St. Therese dari Lisieux sama-sama gadis Perancis yang hidup di abad ke-19. Mereka sama-sama masuk biara pada usia muda dan meninggal pada usia muda. Akan tetapi, mengapa jenazah St. Bernadette utuh, sedangkan jenazah St. Therese ditemukan telah hancur secara alami ketika makamnya dibongkar? Jadi, mengapa tidak semua orang kudus jenazahnya utuh?
Gereja selalu menganjurkan agar kita mencari alasan ilmiahnya terlebih dahulu jika menemukan jenazah yang tidak rusak. Akan tetapi, memang dalam banyak kasus para ilmuwan masih belum dapat memberikan penjelasan ilmiahnya. Walau demikian, Gereja mengatakan bahwa jenazah yang tidak rusak tidak menjamin bahwa orang itu kudus. Memang betul, jenazah yang tidak rusak bisa menjadi tanda kekudusan, tetapi bukan berarti kalau ada jenazah yang tidak rusak, orang tersebut otomatis kudus. Kita perlu melihat bagaimana kehidupan orang itu, segala kebajikan-kebajikan selama hidupnya, singkatnya mengkaitkannya dengan kekudusan orang tersebut secara keseluruhan.
2. Beato Yohanes XXIII
Pada suatu hari, Paus Yohanes Paulus II memerintahkan agar jenazah Paus Yohanes XXIII dipindahkan ke bagian atas dari Basilika St. Petrus agar umat beriman dapat datang mendekati jenazahnya dengan lebih mudah untuk menghormatinya. Oleh karena itu, pada tanggal 16 Januari 2001 dilakukanlah pembongkaran makam Paus Yohanes XXIII yang dilakukan oleh Kardinal Sodano, Sekretaris Negara Tahta Suci, Kardinal Noe, Imam Agung Basilika St. Petrus, dan Leonardo Sandri. Selain itu, identifikasi jenazah merupakan prosedur yang normal dalam proses kanonisasi. Paus Yohanes XXIII telah dinyatakan sebagai Beato pada tanggal 3 September 2000. Jadi, tujuan lain pembongkaran makam ini adalah karena Paus Yohanes Paulus II ingin semakin menegaskan kekudusan dari paus pendahulunya tersebut. Kardinal Noe mengatakan bahwa pemeriksaan jenazah merupakan salah satu langkah penting dalam proses kanonisasi.
Paus Yohanes XXIII meninggal tanggal 3 Juni 1962. Hal ini berarti ketika pembongkaran makam dilakukan, jenazahnya telah terkubur selama sekitar 39 tahun! Namun, apa yang terjadi? Begitu peti jenazah dibuka, orang-orang terkejut melihat keadaan jenazah sang beato. Dalam kesaksiannya, Kardinal Noe mengatakan bahwa wajah Beato Paus Yohanes XXIII tampak “utuh dan damai.” Laporan resmi menyatakan, “Begitu kain selubung dibuka, wajah Beato tampak utuh, dengan kedua mata tertutup dan mulut sedikit terbuka, dengan roman muka yang segera mengingatkan orang pada penampilan familiar paus yang dihormati itu.” Kedua tangan Bapa Suci yang masih menggenggam sebuah rosario, juga masih utuh. Setelah diperiksa secara resmi, jenazah disemprot dengan bahan anti bakteri dan peti pun disegel kedap udara.
3. Jenazah Para Kudus Lainnya yang Tak Rusak
Sebuah buku yang berjudul “The Incorruptibles” (Tan Books, 1977) melaporkan sedikitnya ada 102 orang kudus dalam Gereja Katolik yang jenazahnya tidak rusak. Oleh karena itu, banyak umat beriman yang melihat fenomena jenazah yang tak rusak ini sebagai salah satu tanda kekudusan.
Santa Sesilia adalah orang kudus pertama yang ditemukan jenazahnya tidak rusak. Ia meninggal sebagai martir pada tahun 177 M di Roma. Pada tahun 1599 jenazahnya ditemukan dalam keadaan tidak membusuk.
Santa Agata meninggal pada tahun 251 M. Akan tetapi, pada abad ke-11, jenazahnya ditemukan dalam keadaan tidak rusak. Bagian dari tubuhnya yang tidak rusak itu masih bisa kita lihat sampai sekarang.
Santa Bernadette Soubirous menerima penampakan dari Bunda Maria di Lourdes, Perancis. Ia meninggal pada tahun 1879, dan makamnya dibongkar 20 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1909. Saat itu ditemukan bahwa jenazahnya masih utuh dan sama sekali tidak ada kebusukan. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya tahun 1919, kembali untuk keduanya kalinya makamnya dibongkar kembali. Dan untuk kedua kalinya pula ditemukan jenazahnya masih utuh. Pada tahun 1923 makamnya dibongkar untuk ketiga kalinya, dan ditemukan jenazahnya masih utuh. Pada saat itu tubuhnya dibuka, dan didapatkan organ-organ tubuhnya masih lemas. Ketika 46 tahun kemudian sesudah St. Bernadette wafat, para dokter melaporkan bahwa lever (hati) St. Bernadette masih lembut dan hampir seperti lever orang hidup yang normal. Saat ini, jenazahnya disimpan dalam kapel St. Bernadet di Nevers, Perancis. Semua orang masih dapat melihat jenazahnya yang utuh hingga saat ini.
Jenazah St. Teresa Avila (1515-1582) juga ditemukan tidak membusuk. Padahal, St. Teresa Avila dikubur di dalam lumpur yang basah.
Ketika St. Yohanes Salib meninggal tahun 1591, ia dimakamkan di bawah lantai sebuah gereja. Ketika makamnya dibuka 9 bulan kemudian, jenazahnya masih segar dan lengkap. Bahkan ketika jarinya dipotong untuk dijadikan relikwi, tubuhnya mengeluarkan darah sebagaimana layaknya seorang yang masih hidup. Setelah itu, kembali 9 bulan kemudian makamnya dibuka untuk kedua kalinya, dan ditemukan jenazahnya masih tetap dalam keadaan segar. Pembongkaran makam St. Yohanes Salib dilakukan lagi tahun 1859 dan 1909, dan jenazah tetap ditemukan dalam keadaan segar. Pembongkaran terakhir dilakukan tahun 1955, ini berarti sekitar 400 tahun sesudah wafatnya. Saat itu ditemukan jenazahnya masih utuh belum mengering dan masih lentur, walau ada sedikit perubahan pada warna kulitnya.
Seorang suster yang kudus dari Italia bernama St. Klara dari Montefalco ketika masih hidup berkata kepada para suster lainnya, “Jika engkau mencari salib Kristus, ambillah hatiku, dan engkau akan mendapatkan Kristus yang sedang menderita di sana.” Beberapa tahun setelah kematiannya, makamnya dibongkar. Saat itu, bukan saja ditemukan tubuhnya yang masih utuh. Bahkan, ketika para suster mengambil hatinya, ditemukan di sana tergores jelas sekali salib Kristus secara tipis, lengkap dengan kelima luka-Nya.
St. Sharbel Makhlouf adalah seorang rahib suci dari Lebanon. Setelah wafatnya, selama 45 malam makamnya memancarkan suatu cahaya yang khas. Menurut tradisi, jenazah biasanya membusuk dalam waktu 45 hari. Oleh karena itu, 45 hari kemudian makamnya dibongkar dan ditemukan jenazahnya masih utuh. Padahal dalam waktu 45 hari itu sempat ada hujan deras sekali sehingga jenazahnya ditemukan terendam di genangan lumpur. Kemudian jenazah St. Sharbel dikenakan pakaian baru dan dimasukkan ke dalam peti kayu, namun tubuhnya mengeluarkan minyak begitu banyaknya sampai-sampai bajunya harus diganti dua kali. Tahun 1927, berarti 29 tahun kemudian setelah kematiannya, makamnya kembali dibongkar dan dijumpai jenazahnya masih utuh dan lemas seperti tubuh orang hidup. Setelah itu ia dikuburkan kembali. Tahun 1950 para peziarah memperhatikan adanya minyak yang khas keluar dari makamnya. Saat itu banyak orang mengalami kesembuhan karena minyak tersebut. Akhirnya, kuburnya dibongkar kembali dan didapati jenazahnya masih utuh. Tubuh St. Sharbel ini tidak rusak selama 67 tahun dan akhirnya hancur seluruhnya pada tahun 1965.
4. Kaitan antara Kecantikan Fisik dan Kecantikan Rohani
Semua orang mengatakan Bunda Maria sangat cantik tiada taranya, dan kita ketahui Bunda Maria adalah manusia terkudus sepanjang masa. Mereka yang pergi ke Nottuno, Italia, dapat memandang kecantikan dari St. Maria Goretti, dan bahkan sekalipun Beato Yohanes XXIII tidak dibilang tampan tetapi banyak orang senang memandang wajahnya. Pada kenyataannya, ada banyak jenazah para kudus yang ditemukan tidak rusak walau sudah meninggal bertahun-tahun lamanya. Adakah hubungannya antara kekudusan dengan kecantikan atau ketampanan?
Fenomena jenazah yang tak rusak ini mengajarkan banyak hal kepada kita. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa iman kita tidak hanya mempengaruhi rohani kita saja tetapi juga jasmani kita. Penjelmaan Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus adalah sesuatu yang supernatural tetapi sekaligus sungguh nyata, ada dalam sejarah. Demikian pula kebangkitan-Nya merupakan hal yang adikodrati, tetapi sekaligus sungguh-sungguh riil.
Dengan kata lain, fenomena jenazah yang tak rusak ini hendak menyampaikan kepada kita bahwa ada keterkaitan yang erat antara dunia rohani dan dunia jasmani. Bukankah Allah dikatakan Mahakudus, tetapi sekaligus juga dikatakan Mahaindah? Memang kita tidak dapat merumuskan dengan tepat keterkaitan antara jiwa dan raga kita. Akan tetapi, apa yang kita lakukan terhadap jiwa kita akan mempengaruhi tubuh kita. Sebaliknya, apa yang kita lakukan terhadap tubuh kita akan mempengaruhi jiwa kita.
Pada zaman sekarang ini, diketahui bahwa banyak orang yang sakit kanker memiliki luka batin yang berat dalam hidupnya. Mereka yang berbeban berat, depresi, stress, akan langsung dikenali melalui wajahnya. Sebaliknya, mereka yang suci hatinya akan memancarkan sesuatu yang menyenangkan pada wajahnya, bahkan sekalipun mereka sedang sakit.
Dengan demikian, fenomena ini mengingatkan kita bahwa kita sebetulnya adalah bagian dari Tubuh Mistik Kristus dengan Kristus sendiri sebagai Kepalanya. Kristus yang adalah kepala menjadi sumber rahmat bagi seluruh anggota tubuh-Nya. Ia menyalurkan segala rahmat, karunia, dan keindahan-Nya ke seluruh bagian tubuh-Nya. Mereka yang melepaskan diri dari Kristus sama seperti ranting yang melepaskan diri dari pokoknya sehingga akhirnya akan mati dan kering. (bdk. Yoh 15:4-5) Semakin kita mengambil bagian dalam hidup Kristus, semakin kita mengambil bagian dalam kekudusan dan keindahan-Nya.
“Karena semua kaum beriman membentuk satu Tubuh saja, maka harta milik dari yang satu disampaikan kepada yang lain. Dengan demikian orang harus percaya bahwa di dalam Gereja ada pemilikan bersama. Yang paling utama dari semua anggota Gereja adalah Kristus, karena Ia adalah Kepala. Jadi milik Kristus dibagi-bagikan kepada semua anggota, dan pembagian ini terjadi oleh Sakramen-Sakramen Gereja” (St. Thomas Aquino).
5. Apa yang Ingin Disampaikan Allah?
Allah tentu punya rencana tertentu, mengapa ia membiarkan fenomena yang istimewa ini terjadi sepanjang sejarah Gereja. Selain menyadarkan kita akan adanya keterkaitan antara jasmani dan rohani, fenomena jenazah yang tak rusak ini hendak mengingatkan kita pula akan adanya kebangkitan orang-orang mati pada kedatangan Yesus yang kedua. Saat itu, mereka akan menerima kembali seluruh tubuhnya secara utuh.
“Semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum” (Yoh 5:28-29).
Pada akhirnya, fenomena ini hendak menunjukkan bahwa sampai saat ini mujizat masih terjadi. Allah mengkomunikasikan diri-Nya melalui segala mujizat yang dapat kita saksikan. Allah masih bekerja di tengah-tengah kita, karena kasih-Nya setia, abadi selamanya.
6. Jenazah Para Kudus Lainnya yang Tak Rusak dan Masih Dapat Kita Lihat Sampai Saat Ini
§ St. Zita meninggal pada tahun 1272 di sebuah desa dekat kota Lucca, Italia. Pada tahun 1580, jenazahnya ditemukan tidak rusak dan akhirnya dibaringkan di Gereja St. Frigidian agar umat dapat menghormatinya dengan lebih mudah.
§ St. Catherine Laboure (1806-1876), jenazahnya ditemukan utuh pada tahun 1933. Kini kita dapat melihat jenazahnya di Paris.
§ St. Yohanes Maria Vianney dari Ars, meninggal tahun 1859 dan jenazahnya ditemukan dalam keadaan baik tahun 1904. Kita masih dapat melihat jenazahnya di Ars, Perancis.
§ St. Vincentius Palloti meninggal tahun 1850 dan makamnya dibongkar dua kali, yaitu tahun 1906 dan 1950. Jenazahnya yang tidak rusak masih dapat kita lihat sekarang di Onda, Italia.
§ St. Teresa Margareta Redi meninggal tahun 1770 dan ditemukan jenazahnya masih utuh pada tahun 1783. Jenazahnya dapat kita lihat di Firenze, Italia.
§ St. Andreas Bobola, meninggal tahun 1657. Setelah 40 tahun kemudian jenazahnya ditemukan masih utuh. Kita dapat melihatnya sekarang di Warsawa, Polandia.
§ St. Catarina dari Bologna, Italia (1413-1463), jenazahnya diletakkan dalam keadaan sedang duduk di atas sebuah kursi sampai saat ini. Berarti, sudah selama sekitar 500 tahun!
§ St. Rita dari Cascia (1381-1457), jenazahnya dapat dilihat dalam sebuah peti kaca di Cascia, Italia. Kebanyakan orang di sana sudah terbiasa melihat posisi jenazah St. Rita yang kadang berubah, bahkan matanya kadang terbuka kadang terpejam, seolah masih hidup.
§ St. Sperandia, meninggal tahun 1276, dan kita dapat melihat jenazahnya di Cingoli, Italia. Dari dalam tubuhnya keluar suatu keharuman yang manis.
Sebetulnya masih ada beberapa jenazah orang kudus yang masih dapat dilihat sampai saat ini karena masih belum rusak, antara lain St. Maria Goretti (1890-1902), St. Fransiskus Xaverius (1506-1552), St. Anna Maria Taigi, dan lain-lain.


sumber : http://wahw33d.blogspot.com/2010/03/jenazah-yang-tidak-membusuk-incorupted.html#ixzz1fqPpklcB

Mukjizat Hosti




Mukjizat Lanciano




TRANI, tahun 1000

Pasa masa terjadinya Mukjizat Ekaristi ini, adalah seorang wanita Yahudi yang amat benci pada Gereja Katolik. Gereja St. Anna, dulunya adalah sebuah sinagoga, tetapi kini telah menjadi Gereja Katolik di mana orang-orang Yahudi yang telah bertobat bersembah bakti kepada Tuhan. Hari Kamis Putih, yaitu malam ditetapkannya Sakramen Ekaristi, adalah malam terjadinya mukjizat.

 

Wanita Yahudi berhasil membujuk seorang wanita Katolik yang murtad untuk membawakan baginya sekeping Hosti yang telah dikonsekrasikan. Setelah menerima Komuni Kudus, wanita itu tidak menyantap Hosti, melainkan membawanya kepada si wanita Yahudi guna mendapatkan imbalan sejumlah uang. Si wanita Yahudi kemudian pergi ke tungku dapur dan menjerangkan periuk yang telah diisinya dengan minyak. Ketika minyak dalam periuk mendidih, ia melemparkan Hosti Kudus ke dalamnya. Wanita itu sangat terkejut ketika Hosti berubah menjadi daging dan mulai mengeluarkan banjir darah.

 

 

Wanita Yahudi itu amat ketakutan sementara darah terus membanjir hingga meluber ke luar periuk. Para tetangga berdatangan untuk melihat mengapa ia berteriak-teriak, maka ia menceritakan kepada mereka apa yang telah terjadi. Beberapa wanita bergegas melaporkannya kepada imam yang segera datang dan melihat darah yang membanjir. Imam mengambil daging dari periuk dan membawanya ke Katedral Trani. Sebuah monstran perak berhias indah dirancang khusus bagi Kristus. Di tengah monstran ditempatkan dua bagian kecil dari Hosti yang tergoreng. Warna sebagian besar Hosti adalah coklat tua dan Hosti yang tercelup darah itu tidak mengalami kerusakan. Hosti disimpan dengan hormat serta dapat dilihat di katedral.

 

 

Selama berabad-abad dilakukan penyelidikan serta analisa terhadap Mukjizat Ekaristi ini. Pada tahun 1384, Paus Urbanus VI mengunjungi Trani dan menyatakan bahwa Hosti secara ajaib tidak mengalami kerusakan. Suatu pengakuan mengagumkan atas Kehadiran Nyata Yesus dalam Ekaristi. 


 

FERRARA, tahun 1171
Mukjizat ini terjadi di Gereja St. Maria dari Ford di Ferrara, Italia lebih dari 800 tahun yang silam. Mukjizat terjadi pada Hari Minggu Paskah pada saat Konsekrasi. Ketika Hosti dipecah menjadi dua bagian, semua yang hadir terkejut melihat cucuran darah muncrat dari Hosti. Darah yang memancar demikian banyak hingga memercik ke dalam kubah setengah lingkaran yang berada di belakang dan di atas altar. Tidak saja para saksi mata melihat darah, mereka juga melihat Hosti telah berubah menjadi daging.
Uskup Ferrara dan Uskup Agung Gherardo dari Ravenna datang serta menyaksikan darah dan Hosti yang telah menjadi daging. Mereka menyatakan bahwa darah dan Hosti adalah sungguh Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Paus Eugenius IV dan Paus Benediktus XIV mengakui mukjizat ini. Paus Pius IX mengunjunginya pada tahun 1858 dan mengenali tetesan-tetesan darahnya serupa dengan tetesan darah dalam Mukjizat Orvieto dan Bolsena.

 



 

AUGSBURG, tahun 1194

 


Mukjizat ini terjadi ketika seorang wanita ingin menyimpan Hosti yang telah dikonsekrasikan dalam rumahnya. Suatu pagi, ia menerima Ekaristi, tetapi tidak menyantapnya. Ia membawa pulang Hosti dan menempatkannya dalam segel, menjadikannya suatu reliqui sederhana. Ia menyimpan Tubuh Kristus di rumahnya selama lima tahun, tetapi lama-kelamaan timbul perasaan bersalah hingga akhirnya ia mengatakannya kepada pastor paroki.

Pastor Berthold, imam setempat, terperanjat ketika membuka segel reliqui. Dialah yang pertama melihat bahwa Hosti telah berubah menjadi sesuatu yang tampak seperti daging dengan lapisan-lapisan merah yang nampak jelas. Imam mendiskusikan masalah ini panjang lebar dan memutuskan bahwa mereka akan dapat mengidentifikasikannya dengan lebih baik jika daging dibagi menjadi dua bagian. Mereka keheranan ketika mendapati bahwa daging tidak dapat dibagi karena disatukan oleh pembuluh-pembuluh darah yang seperti benang. Diyakini kemudian bahwa daging tersebut adalah daging Tuhan kita Yesus Kristus.

Uskup Udalskolk dengan seksama meneliti mukjizat tersebut dan memerintahkan agar mukjizat Hosti ditempatkan kembali ke dalam segel reliquinya semula untuk dipindahkan ke katedral.

Mukjizat Hosti dan segelnya kemudian ditempatkan dalam suatu wadah kristal dan disimpan dalam kaca. Hosti tetap dalam keadaan semula hingga hampir 800 tahun.

Setiap tahun pada tanggal 11 Mei, pada perayaan Fest des Wunderbarlichen, yaitu Pesta Mukjizat Harta yang Mengagumkan, Hosti dihormati dengan perayaan Misa yang khidmat dan pakaian liturgi khusus.

 

ALATRI, tahun 1228

 


 

Seorang pemudi, yang tertarik pada seorang pemuda, diminta untuk membawa sekeping Hosti yang telah dikonsekrir agar dapat dibuatkan ramuan cinta. Sang pemudi menerima Komuni dan berjalan pulang ke rumah, tetapi karena merasa bersalah ia menyembunyikan Kristus di suatu pojok rumah.

Beberapa hari kemudian, ia datang dan mendapati bahwa Hosti telah berubah warna seperti daging. Imam paroki segera diberitahu dan ia membawa Hosti kepada Uskup. Bapa Uskup menulis surat kepada Paus Gregorius IX yang isinya:
“Kita patut menyampaikan puji syukur sedalam-dalamnya kepada Dia yang, sementara senantiasa menyelenggarakan segala karya-Nya dengan cara-cara yang mengagumkan, pada kesempatan-kesempatan tertentu juga mengadakan mukjizat-mukjizat dan melakukan hal-hal menakjubkan agar para pendosa menyesali dosa-dosa mereka, mempertobatkan yang jahat, dan mematahkan kuasa bidaah sesat dengan memperteguh iman Gereja Katolik, menopang pengharapan-pengharapannya serta mendorong amal kasihnya. 
Oleh sebab itu, saudaraku terkasih, dengan surat Apostolik ini, kami menyarankan agar engkau memberikan penitensi yang lebih ringan kepada gadis tersebut, yang menurut pendapat kami, dalam melakukan dosa yang teramat serius itu, lebih terdorong oleh kelemahan daripada kejahatan, terutama dengan mempertimbangkan kenyataan bahwa ia sungguh menyesal setulus hati ketika mengakukan dosanya. Namun demikian, terhadap wanita yang menghasutnya, yang dengan kejahatannya mendorong si gadis untuk melakukan dosa sakrilegi, perlu dikenakan hukuman disipliner yang menurutmu lebih pantas; juga memerintahkannya untuk mengunjungi semua Uskup di wilayah terdekat, guna mengakukan dosa-dosanya kepada mereka dan mohon pengampunan dengan ketaatan yang tulus …”
Mukjizat Hosti dipertontonkan dua kali setahun, yaitu pada hari Minggu pertama sesudah Paskah dan hari Minggu pertama sesudah Pentakosta.
Pada tahun 1960, Uskup Facchini dari Alatri membuka segel tempat Hosti disimpan dan mengeluarkannya. Uskup menyatakan bahwa Hosti tetap dalam keadaan sama seperti saat pertama diketemukan, yaitu, sekerat daging yang tampak sedikit kecoklatan.
Pada tahun 1978, perayaan-perayaan istimewa diselenggarakan untuk memperingati 750 tahun terjadinya mukjizat.


DAROCA, tahun 1239
Kota di Spanyol ini bukanlah tempat terjadinya mukjizat, melainkan tempat ditahtakannya mukjizat Ekaristi yang terjadi dalam masa perang antara Spanyol dan Saracens pada abad ketigabelas.
Seperti kebiasaan, sebelum maju berperang, keenam komandan Spanyol pergi menghadiri Misa dan menerima Sakramen Tobat. Di pinggiran kota, mereka diserang secara tiba-tiba oleh pasukan Saracens. Imam membungkus keenam Hosti yang telah dikonsekrasikan dengan korporal, lalu menyembunyikannya sementara pasukan Spanyol membalas serangan Saracens. Setelah pertempuran yang dimenangkan oleh Spanyol itu usai, imam pergi ke tempat ia menyembunyikan Hosti dan mendapati bahwa Hosti telah lenyap meninggalkan enam noda darah di korporal. Rahasia kemenangan mereka dinyatakan oleh Kristus melalui mukjizat Ekaristi ini.
Masing-masing komandan menghendaki agar korporal disimpan di kota asalnya. Dari tiga pilihan, akhirnya dipilihlah kota Daroca. Dua orang komandan tidak setuju akan keputusan tersebut, maka diusulkanlah suatu jalan keluar. Korporal akan dimuatkan ke atas punggung seekor keledai Saracen yang dibiarkan pergi sekehendak hatinya dan tempat di mana keledai itu berhenti akan menjadi tempat korporal ditahtakan. Sang keledai berhenti di kota Daroca. Darah di korporal telah dianalisa para ahli dan dinyatakan sebagai darah manusia.


SANTAREM, tahun 1247
Seorang wanita yang suaminya tidak setia, meminta nasehat dari seorang wanita tenung. Wanita sihir itu berjanji akan mengubah perilaku suaminya jika si wanita membawakan baginya sekeping Hosti yang telah dikonsekrasikan. Ia juga menasehati si wanita untuk berpura-pura sakit agar dapat menerima Komuni Kudus dalam minggu itu dan segera memberikan Hosti kepadanya. Si wanita tahu bahwa hal itu dosa. Ia pergi menerima Komuni, tetapi tidak menyantap Tubuh Kristus. Ia meninggalkan Misa dan dalam perjalanan menuju tempat wanita tenung, Hosti mulai mengeluarkan darah. Beberapa orang yang melihat kejadian tersebut menyangka bahwa ia mengalami pendarahan. Rasa takut menguasai dirinya dan ia pulang ke rumah, menempatkan Hosti dalam sebuah peti, membungkusnya dengan saputangan, lalu menutupinya dengan linen yang bersih.
Tengah malam, ia dan suaminya terbangun oleh suatu sinar cemerlang yang berasal dari peti, yang menjadikan ruangan mereka terang-benderang. Para malaikat telah membuka peti dan membebaskan Tuhan. Wanita itu menceritakan kepada suaminya apa yang telah terjadi dan bahwa dalam peti terdapat sekeping Hosti yang telah dikonsekrasikan. Berdua mereka melewatkan sepanjang malam dengan berlutut dalam sembah sujud. Seorang imam dipanggil. Imam membawa Hosti Kudus kembali ke gereja dan menyegelnya dalam sebuah segel lilin.
Sembilan belas tahun kemudian, seorang imam membuka tabernakel dan memperhatikan bahwa segel telah terbuka sementara Hosti tersimpan dalam sebuah piksis kristal. Mukjizat ini, 750 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1997, diperingati dengan berbagai perayaan meriah di Santarem. 
Kita mungkin bertanya mengapa Tuhan mengadakan mukizat-mukjizat ini bagi kita. Mungkin untuk menyatakan betapa Ia sungguh hadir dalam Ekaristi dan betapa Ia sungguh mengasihi kita. Ia menghendaki agar kita semua, termasuk juga domba-domba yang hilang, bergabung kembali dalam kawanan. Ia mengasihi kita, bagaimana pun berdosanya kita. Ia adalah Allah Kasih dan Belas Kasihan. Dan Ia menghendaki agar kita membagikan Kasih dan Belas Kasihan itu kepada sesama. 
ORVIETO dan BOLSENA, tahun 1263

 

Mukjizat ini terjadi pada masa suatu ajaran sesat yang disebut Berengarianisme merajalela di Eropa. Bidaah ini menyangkal Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi. Pada tahun 1263, seorang imam bernama Petrus dari Prague sedang dalam perjalanan ziarah ke Roma untuk berdoa di makam pelindungnya, St Petrus, sebab ia menghadapi masalah yang amat serius. Ia merasakan kebimbangan yang besar mengenai Kehadiran Nyata Yesus dalam Ekaristi Kudus. Ia berdoa agar santo pelindungnya memohonkan rahmat baginya guna menyelamatkan imannya yang goyah. Dalam perjalanan, ia singgah untuk bermalam di suatu kota kecil bernama Bolsena, sekitar 70 mil sebelah utara Roma.


Keesokan harinya, Pastor Petrus merayakan Misa Kudus di Gereja St Kristina. Sementara ia mengucapkan kata-kata konsekrasi, “Inilah TubuhKu,” roti di tangannya berubah rupa menjadi Daging dan mulai mencucurkan darah dengan derasnya. Darah jatuh menetes ke korporal. Pastor Petrus amat terperanjat; ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Maka, ia membungkus Hosti Kudus dalam Korporal lalu pergi meninggalkan altar. Sementara ia berjalan pergi, tetesan-tetesan Darah jatuh ke atas lantai pualam di altar.
Paus Urbanus IV sedang berada di kota Orvieto, yang tak jauh dari sana. Pastor Petrus segera menemui paus guna menceritakan apa yang telah terjadi. Paus segera mengutus seorang uskup ke Gereja St Kristina guna menyelidiki peristiwa tersebut dan mengambil Korporal.
Segera sesudah paus menerima Korporal dari Uskup, ia pergi ke balkon Istana Kepausan dan dengan hormat mempertontonkan mukjizat Korporal kepada orang banyak. Bapa Suci menyatakan bahwa mukjizat Ekaristi telah terjadi guna mengusir bidaah Berengarianisme. Pada saat yang sama, seorang pengikut St. Yuliana dari Liègemenghubungi paus untuk sekali lagi memohon demi ditetapkannya Hari Raya Corpus Christi. Setahun kemudian, pada tahun 1264, Paus Urbanus IV memaklumkan Hari Raya agung ini kepada seluruh Gereja. (Mukjizat Korporal disimpan hingga kini di Katedral Orvieto. Lantai pualam bernoda Darah disimpan di Gereja St Kristina di Bolsena). 


CASCIA, sekitar tahun 1300

 


Cascia adalah sebuah kota kecil di pegunungan di lembah Umbrian, Italia. Itulah kota kediaman St. Rita dari Cascia. Jenazah St. Rita yang hingga kini masih utuh dibaringkan di Basilika Utama. Di bawahnya, di Basilika Kecil, disimpan Mukjizat Ekaristi dan jenazah Beato Simone Fidati, seorang imam yang terlibat langsung dalam mukjizat tersebut.

Pada masa terjadinya mukjizat, seorang imam tak lagi memiliki rasa hormat terhadap Ekaristi. Ketika diminta untuk mengantarkan Sakramen Mahakudus kepada seorang petani yang sedang sakit, ia mengambil sekeping Hosti yang telah dikonsekrasikan, menempatkannya dengan sembarangan di antara halaman-halaman buku breviary, lalu berangkat. Ketika ia membuka bukunya, ia mendapati bahwa Hosti telah berubah warna merah darah segar dan darah meresap ke kedua halaman buku di mana Hosti diselipkan.

Imam tersebut kemudian mohon nasehat Beato Simone Fidati, seorang imam yang kudus dan dihormati pada masa itu. Pastor Fidati menerima pengakuan sang imam dan memberinya absolusi. Beato Fidati mengambil kedua halaman dari breviary itu; satu ditempatkannya di tabernakel di Perugia dan satunya lagi ditempatkannya di Cascia. Mukjizat Ekaristi ini diperingati secara istimewa di Cascia setiap tahun pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus.

Orang-orang yang melihat ke halaman yang ternoda darah itu dapat melihat gambar Kristus tertera di sana.


 

HASSELT, tahun 1317
Seorang imam mengunjungi seorang penduduk desa yang sedang sakit. Ia membawa bersamanya sekeping Hosti dalam siborium dan meletakkan siborium di atas meja, sementara ia pergi ke kamar lain untuk berbicara dengan si sakit dan keluarganya. Seseorang yang berada dalam keadaan dosa berat membuka tutup siborium, memegang Hosti, lalu mengangkatnya. Seketika itu juga, Hosti mulai berdarah. Imam memasuki ruangan dan ia amat terperanjat melihat Hosti yang berdarah.
Imam membawa kembali Hosti yang berdarah itu kepada kepala parokinya yang menasehatinya untuk membawa Mukjizat Ekaristi itu ke gereja biara para biarawati Cistercian di Herkenrode yang berjarak sekitar 30 mil jauhnya.
Begitu imam tiba di altar biara dan menempatkan Hosti di atas altar, suatu penglihatan akan Kristus bermahkotakan duri nampak kepada semua imam yang hadir. Oleh karena mukjizat Ekaristi dan penglihatan itu, segera saja Herkenrode berubah menjadi tempat ziarah yang terkenal di Belgia.
Pada tahun 1804, Hosti dibawa ke Gereja di San Quentin di Hasselt, di mana mukjizat Hosti yang terjadi pada tahun 1317 itu masih tetap dalam keadaan seperti semula.


BLANOT, tahun 1331
Blanot, suatu dusun pertanian kecil, tidak pernah digambarkan dalam peta-peta Perancis. Orang-orang Perancis yang meninggalkan Paris dan wilayah utara untuk menikmati matahari pantai selatan akan melewatinya dari tahun ke tahun tanpa pernah mengetahui keberadaan Blanot.
Namun demikian, dusun kecil ini dipilih Tuhan untuk menyatakan mukjizat-Nya – mukjizat Ekaristi. Pada tahun 1331 penduduk desa berdatangan dengan berjalan kaki atau dengan mengendarai kuda untuk merayakan Misa Paskah. Gereja kecil mereka dipadati umat beriman dan Misa pun dimulai. Kesedihan Masa Prapaskah telah berlalu dan umat Kristiani di seluruh dunia merayakan sukacita Kebangkitan Yesus. Dapat dibayangkan bagaimana bunga-bunga liar yang indah di desa itu telah dikumpulkan dan dirangkai menghiasi gereja untuk perayaan meriah pagi itu.
“Yesus Kristus telah Bangkit – Alleluia!”
Sementara imam mempersiapkan Hosti, para putera altar membentangkan kain putih panjang guna meyakinkan bahwa Hosti Kudus tidak terjatuh di lantai. Umat maju ke altar, sebagian dengan tangan bersilang di dada dan sebagian lainnya membuka mulut mereka untuk menerima Hosti. Seorang wanita, dengan sedikit tergesa dan canggung, menutup mulutnya terlalu cepat sehingga secuil kecil Hosti jatuh ke atas kain putih. Para putera altar amat terperanjat ketika serpihan kecil Roti berubah menjadi suatu tetesan berwarna merah!
Segera sesudah umat terakhir menyambut Kristus, para putera altar bergegas memberitahukan kepada imam apa yang telah terjadi. Imam menyisihkan kain itu dan mencucinya dalam air bersih beberapa kali, tetapi, meskipun air berubah warna menjadi merah, bekas tetesan terus muncul dan semakin membesar. Bekas itu tidak mau hilang. Imam kemudian sadar bahwa Darah tidak akan mungkin dihapuskan dari kain, maka ia menggunting bagian yang ternoda Darah dan menempatkannya dalam sebuah mostrans.
Berita tentang mukjizat ini berkembang amat cepat dan pada hari Minggu, limabelas hari sesudah paskah, Uskup Autun dari keuskupan terdekat, datang ke Blanot disertai serombongan imam untuk menyelidiki kasus tersebut. Di akhir penelitian, tim sepakat dengan suara bulat bahwa suatu mukjizat telah terjadi. Tahun berikutnya, Paus Yohanes memberikan indulgensi khusus bagi mereka yang merayakan Misa di gereja kecil Blanot. Para peziarah dari tempat-tempat yang jauh berdatangan ke Blanot. Kain di simpan dalam gereja sebagai tanda nyata akan kasih Allah. Di kemudian hari, kain dipotong dan reliqui kecil yang berharga itu ditempatkan dalam sebuah botol kristal. Meskipun harus melewati dua kali masa perang dunia, reliqui tersebut tidak pernah meninggalkan Blanot. Dalam masa-masa kesesakan – reliqui dihantar dari rumah ke rumah – dan dari waktu ke waktu dipergunakan untuk menyembuhkan mereka yang sakit. Dalam masa-masa tenang, reliqui dihantar kembali ke rumahnya yang pantas dalam dinding gereja dan di sanalah ia berada hingga saat ini bagi para peziarah yang datang dari seluruh penjuru dunia untuk menyaksikan serta bersembah sujud di hadapannya.

 

BOLOGNA, tahun 1333

 


Mukjizat ini terjadi pada tahun 1333 di Bologna, Italia karena seorang gadis remaja saleh yang berumur sebelas tahun memiliki kerinduan yang berkobar-kobar untuk menyambut Kristus dalam Ekaristi.

Imelda Lambertini dilahirkan dalam sebuah keluarga kaya. Ayahnya adalah Count Eagno Lambertini. Imelda bergabung dalam Biara Dominikan ketika usianya baru sembilan tahun. Ia disayangi oleh para biarawati lainnya. Dalam usia yang masih sangat muda, Imelda memiliki cinta yang menyala-nyala kepada Yesus dalam Ekaristi dan karenanya sungguh rindu menyambut-Nya dalam Komuni Kudus. Tetapi, hal itu tidak mungkin baginya karena usianya belum cukup untuk dapat menerima Komuni.

Tuhan mengaruniakan kepadanya suatu anugerah istimewa pada Pesta Kenaikan Yesus ke Surga pada tahun 1333. Sementara ia berdoa, sebuah Hosti tampak melayang-layang di udara di hadapannya. Imam segera dipanggil dan ia memberikan kepada Imelda Komuni Kudusnya. Imelda mengalami ekstasi dan tidak pernah bangun kembali. Ia wafat saat menyambut Komuni Kudusnya yang Pertama!

Devosi kepada Beata Imelda pun dimulai dan pada awal tahun 1900-an suatu komunitas Dominikan dibentuk dengan nama Suster-suster Dominikan dari Beata Imelda. Para biarawati ini berjuang keras menyebarluaskan cinta dan devosi kepada Ekaristi serta menggalakkan Adorasi Abadi. Jenasah Beata Imelda yang tetap utuh hingga kini dibaringkan di Gereja San Sigismondo dekat Universitas Bologna. Paus St. Pius X memaklumkan Imelda sebagai Pelindung Para Penerima Komuni Pertama.

Ya Kristus, biarkan kami mati setiap hari bagi-Mu dan menyambut Engkau dalam Ekaristi seakan-akan itulah komuni kami yang terakhir. Jadikan kami pula seperti anak-anak kecil, dengan cinta yang polos dan kepercayaan penuh akan cinta dan belas kasihan-Mu.


 

MACERATA, tahun 1356
Hanya sedikit catatan yang ada mengenai mukjizat Ekaristi ini, tetapi kisahnya yang ditulis di atas sebuah perkamen dari abad ke-14 masih ada hingga sekarang.
Mukjizat ini berkenaan dengan perdebatan yang berlangsung beberapa abad sebelumnya dan yang ditulis oleh St. Thomas Aquinas; yaitu, apakah Kristus tetap hadir sama dalam setiap bagian Hosti yang telah dikonsekrasikan setelah Hosti dipecah-pecahkan oleh imam, yang kemudian memasukkan sepotong kecil Hosti Kudus ke dalam piala berisi anggur yang telah dikonsekrasikan.
Mukjizat terjadi setelah imam memecahkan sebuah Hosti besar. Darah mulai memancar dari Hosti ke dalam piala dan membasahi korporal serta kain altar. Imam kemudian pergi kepada uskup yang mengesahkan peristiwa mukjizat ini. Korporal dengan Darah Kristus dihormati setiap tahun di Macareta pada hari Minggu sesudah Pentakosta. Kini reliqui disimpan di bawah altar Katedral Macerata.


MIDDLEBURG ~ LOUVAIN, tahun 1374

 


Pada tahun 1374, seorang pemuda dengan dosa berat dalam jiwanya pergi menyambut Komuni Kudus. Ketika Hosti ditempatkan di atas lidahnya, Hosti berubah menjadi Daging sehingga ia tak dapat menelannya. Darah menetes dari bibirnya dan membasahi kain pada rel komuni. Imam bertindak cepat dengan mengambil Hosti Kudus serta menempatkannya dalam sebuah piala di altar.

Berita mengenai mukjizat ini tersebar keseluruh penjuru Belgia dan mukjizat Hosti dipindahkan 700 mil jauhnya ke Cologne. Sebuah ostensorium berhias indah dibuat. Sebagian Hosti dan sepotong kain dengan noda darah kemudian dibawa ke Louvain di mana telah dipersiapkan sebuah wadah reliqui yang indah.

Bagian mukjizat Ekaristi yang disimpan di Louvain berwarna agak kecoklatan dan dapat dikenali dengan mudah sebagai daging. Reliqui disimpan dalam sebuah wadah reliqui yang dibuat pada tahun 1803. Dokumen-dokumen penting dan hasil penelitian terhadap reliqui disimpan dalam perpustakaan Gereja St. Jacques.


BOXTEL ~ HOOGSTRATEN, tahun 1380
Mukjizat terjadi di Boxtel, Belanda, sekitar tahun 1379 di Gereja St. Petrus. Pada saat Konsekrasi, imam – Pastor Van der Aker – kehilangan keseimbangan dan menumpahkan isi piala ke atas korporal dan kain altar. Karena alasan yang tidak diketahui, imam mempergunakan anggur putih dalam Misa tersebut, tetapi yang tampak di atas korporal dan kain altar adalah cairan berwarna merah darah!
Setelah Misa usai, imam bergegas ke sakristi untuk mencuci korporal dan kain altar. Ia berusaha menghilangkan noda darah. Namun demikian, berbagai usaha yang dilakukannya tidak membuahkan hasil. Pastor Van der Aker lalu menempatkan kain dalam sebuah piala kecil dan menyembunyikannya. Menjelang ajalnya, imam mengaku kepada bapa pengakuannya dan menunjukkan di mana ia telah menyembunyikan korporal dan kain altar yang kudus itu, masih dengan noda darah merah yang tertumpah atasnya.
Pastor Van der Aker meninggal dunia pada tahun 1379, dan pada tahun 1380 Kardinal Pileo memaklumkan agar setiap tahun sekali, yaitu pada tanggal 25 Juni reliqui Darah Mahasuci ditahtakan.
Pada tahun 1652, korporal dan kain altar dengan Darah Mahasuci dipindahkan ke Hoogstraten, di perbatasan Belgia. Pada tahun 1924, korporal kudus dikembalikan ke Boxtel, tetapi kain altar tetap disimpan di Hoogstraten. Bahkan hingga kini masih diadakan perarakan mukjizat Ekaristi di Boxtel pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Umat tidak pernah ragu lagi dalam iman mereka akan kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi.

 

 

BAGNO DI ROMAGNA, tahun 1412
Mukjizat Ekaristi ini terjadi di sebuah kota kecil di Italia bernama Bagno di Romagna ketika seorang imam merayakan Misa dengan dihantui keragu-raguan yang besar akan Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi. Setelah mengkonsekrasikan anggur, imam melihat ke dalam piala dan amat terkejut melihat bahwa anggur telah berubah menjadi darah. Darah mulai meluap keluar dari piala dan membasahi korporal. Terguncang oleh peristiwa adikodrati ini, imam segera berdoa mohon pengampunan. Kelak, ia bahkan digelari Venerabilis karena kesalehan hidupnya setelah terjadinya mukjizat.
Pada tahun 1912, ulang tahun ke-500 mukjizat Ekaristi, suatu perayaan besar diselenggarakan. Pada tahun 1958, dilakukan penelitian ilmiah yang hasilnya menguatkan bahwa darah di korporal adalah darah manusia dan masih mengandung karakteristik darah setelah hampir 600 tahun sesudah mukjizat terjadi.
Mungkin mukjizat Darah yang meluap hendak menunjukkan kepada kita bahwa Yesus sungguh hadir dalam Ekaristi. Mari merenungkan bagaimana seharusnya kita berubah setelah menyambut Yesus dengan mengijinkan-Nya tinggal dalam kita dan mengisi kita dengan kuasa Roh Kudus.

 

 

FAVERNEY, tahun 1608
Mukjizat unik ini tidak menyangkut Hosti Kudus yang berubah rupa menjadi daging atau memancarkan darah, melainkan Hosti yang melawan hukum gravitasi. Mukjizat terjadi setelah pecahnya Reformasi dan semangat umat beriman semakin mengendor. Pada tahun 1608, pada Hari Raya Pentakosta, tanggal 25 Mei, gereja dipadati umat dan saat senja tiba, dua lampu minyak dibiarkan menyala di depan Sakramen Mahakudus yang ditahtakan sepanjang malam dalam sebuah monstran.
Keesokan harinya, seorang petugas sakristi membuka pintu-pintu gereja. Ia melihat asap dan menyadari bahwa telah terjadi kebakaran. Segala daya upaya dilakukan guna memadamkan api; terlihat bahwa monstran melayang-layang di udara. Berita mulai tersebar dan banyak orang percaya maupun mereka yang skeptis datang untuk menyaksikan peristiwa ini. Para imam bergantian mempersembahkan Misa Kudus sementara semakin banyak orang yang datang untuk menyaksikan mukjizat. Pada pagi hari Selasa, 27 Mei, dalam Perayaan Misa, saat Konsekrasi, Hosti Kudus turun ke atas altar yang dibawa ke dalam Gereja untuk menggantikan altar lama yang musnah dimakan api.
Penyelidikan pun dilakukan dan 54 surat pernyataan berisi kesaksian berhasil dikumpulkan dari para imam, biarawan, petani serta penduduk desa. Pada tanggal 30 Juli 1608, Uskup Agung menyatakan peristiwa tersebut sebagai mukjizat.
Yang menarik adalah kenyataan bahwa altar, taplak altar, dan segala peralatan lainnya musnah, juga sebuah kandelar didapati meleleh karena panasnya api. Namun demikian, monstran tetap utuh. Pernyataan-pernyataan para saksi di bawah sumpah masih disimpan hingga kini dalam gereja. Sebuah prasasti marmer dipasang di bawah lokasi di mana Hosti melayang dengan tulisan berikut diukir di atasnya: “Lieu Du Miracle” yang artinya “Tempat terjadinya Mukjizat.”

 

SIENA, tahun 1730

 


Mukjizat Ekaristi ini terjadi pada akhir pekan Pesta Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, di kota Siena, Italia, pada tahun 1730. Siena adalah sebuah kota yang menawan, yang terkenal karena sejarah seni dan kebudayaannya, dan juga karena di kota itulah St. Katarina dan St. Bernardinusdari Siena dilahirkan.

Para pencuri berhasil masuk ke dalam gereja dan mencuri siborium emas yang berisi 351 Hosti yang telah dikonsekrir. Ketika para petinggi Gereja menyadari apa yang telah terjadi, segala kegiatan pada hari itu dihentikan dan doa-doa pun dipanjatkan demi kembalinya Hosti Kudus dengan selamat. Tiga hari kemudian, Hosti Kudus didapati muncul dari kotak dana gereja bagi orang-orang miskin dan jumlahnya masih utuh.

Hosti yang adalah Kristus dibersihkan dan kemudian diarak perlahan kembali ke gereja di mana dihaturkan sembah sujud. Hosti Kudus tidak disantap pada waktu itu. Tahun-tahun berlalu dan secara periodik Hosti disantap dan senantiasa didapati dalam keadaan baru.

Pada tahun 1850, uskup memerintahkan dilakukan pengujian yang hasilnya menguatkan bahwa Hosti masih dalam keadaan baru. Mereka juga melakukan pengujian yang sama atas hosti-hosti yang tidak dikonsekrasikan, yang ditempatkan dalam sebuah kotak kedap udara pada tahun 1789, ternyata didapati hanya sedikit saja yang tersisa.


PEZILLA-LA-RIVIERE, tahun 1793

Mukjizat Ekaristi Pezilla-la-Riviere terjadi pada bulan September 1793, bertepatan dengan Revolusi Perancis dan dimulainya masa pemerintahan yang bengis.

Revolusi dan gelombang anti-Katolik menyebar dengan sangat cepat, dan kaum religius dikejar-kejar polisi. Dalam Gereja desa terdapat lima Hosti yang telah dikonsekrasikan; satu Hosti Kudus yang besar dihantar ke rumah Jean Bonafas, sementara keempat Hosti yang kecil, yang ditempatkan dalam sebuah piksis, dipercayakan kepada Rose Llorens. Jean menempatkan Hosti Kudus dalam sebuah kotak kayu serta menyembunyikannya di bawah lantai rumahnya. Rose menempatkan Hosti Kudus dalam sebuah cawan gelas bertutup dan kemudian menempatkannya dalam sebuah tas sutera merah.

Hampir tujuh tahun kemudian, pada hari-hari berakhirnya Revolusi, keempat Hosti dikeluarkan dari cawan gelas dan suatu segel berwarna coklat tua terbentuk disekeliling bagian luar cawan. Tujuh hari kemudian, kotak kayu pun dibuka dan Hosti Kudus yang besar masih terletak di dalam Monstran, sama indah dan sama putih bersihnya seperti saat ditempatkan di sana hampir tujuh tahun yang silam. Hosti-hosti Kudus tetap dalam keadan utuh dan tidak rusak hingga tahun 1930. Pada waktu itu, Hosti Kudus ditempatkan dalam sebuah tabernakel yang baru dibangun, yang terletak di belakang altar utama gereja. Karena alasan-alasan yang tak diketahui, Hosti-Hosti tersebut menjadi rusak dan Kristus dalam mukjizat tidak lagi hadir.



 

BORDEAUX, tahun 1822

 


Setelah berakhirnya Revolusi Perancis, terjadi pembaharuan semangat iman dan Bordeaux diberkati dengan lahirnya beberapa komunitas religius baru. Salah satu di antaranya adalah komunitas Keluarga Kudus dari Bordeaux, di mana mukjizat Ekaristi ini terjadi.

Imam yang memimpin Adorasi Sakramen Mahakudus menulis sebuah dokumen resmi yang menyatakan bahwa ketika mentahtakan Sakramen Mahakudus, ia melihat kepala, dada dan lengan Sang Juruselamat di tengah suatu lingkaran yang mengelilingi-Nya bagaikan suatu lukisan berbingkai, tetapi Ia tampak hidup. Moeder Superior juga menyatakan bahwa ia melihat Yesus, juga putera altar dan beberapa saksi lain. Berdasarkan laporan dan penelitian, Uskup Agung Bordeaux memaklumkan pengakuan Gereja. Paus Leo XII juga segera menegaskan mukjizat dan menetapkan Pesta Keluarga Kudus untuk mengenangnya.

Setiap tahun, di biara-biara Kongregasi Keluarga Kudus, diadakan perayaan menghormati mukjizat Ekaristi ini. Monstran yang dipergunakan pada hari terjadinya mukjizat senantiasa disimpan di rumah biara di Bordeaux.


BETANIA, tahun 1991
Semua Mukjizat Ekaristi yang lain terjadi beberapa ratus tahun yang silam. Tetapi, mukjizat yang terjadi dalam Perayaan Misa di Betania, Venezuela, terjadi pada pesta SP Maria Dikandung Tanpa Dosa pada tahun 1991. Sekeping Hosti yang telah dikonsekrir, yang adalah sungguh Daging Kristus, mulai memancarkan darah. Sesudahnya, sebuah tim medis memastikan bahwa cairan yang memancar dari Hosti Kudus adalah darah manusia. Uskup setempat memaklumkannya sebagai tanda transsubstansiasi dengan mengatakan, “Tuhan hendak menyatakan kepada kita bahwa iman kita akan Hosti yang telah dikonsekrir adalah benar.”
Banyak peristiwa-peristiwa menakjubkan lainnya terjadi di Betania, termasuk penampakan-penampakan Bunda Maria yang disaksikan oleh beberapa ribu orang, berbagai penyembuhan-penyembuhan baik jasmani maupun rohani, dan seorang mistikus bernama Maria Esperanza yang dianugerahi karunia stigmata, bilokasi, dan levitasi (= terangkat dan melayang di udara) saat berdoa. Bapa Uskup sendiri menyaksikan suatu fenomena adikodrati dan menulis sepucuk surat pastoral yang menyatakan bahwa setelah penelitian dengan seksama, ia memaklumkan penampakan-penampakan tersebut sebagai benar dan berasal dari kuasa ilahi.
Kristus dan Bunda Maria berusaha memberitahukan kepada segenap umat manusia bahwa kita perlu menyerahkan segala kepercayaan kita kepada Tuhan dan berkarya demi kerajaan-Nya, dan bukan demi ego kita, demi kebanggaan kita, dan demi kemuliaan kita sendiri. Kita adalah terang dunia dan karenanya biarlah sesama melihat kita sebagai terang yang bersinar cemerlang, sebab kita telah ditebus oleh Darah Yesus Kristus dan karenanya patutlah kita senantiasa memuliakan Allah di surga!
Sumber : Yesaya.indocell.net

Mukjizat Berkat Doa Syafaat Paus Yohanes Paulus II



 

  • Kesembuhan Kardinal Marchisano, pembantu Paus Yohanes Paulus II, dan rektor basilika St. Petrus: Pada tahun 2000 ia mengalami kesalahan operasi arteri lehernya, yang menyebabkan pita suara kanannya rusak, sehingga ia sangat sulit untuk berbicara, dan suaranya tidak dapat terdengar dan tak dapat dimengerti. Pada saat Paus Yohanes mengunjunginya, dan meletakkan tangannya pada tenggorokannya itu, ia berdoa, dan mengatakan, “Jangan takut, lihatlah, Tuhan akan memberikan suaramu itu kembali kepadamu.” Seketika itu juga Kardinal Marchisano mengalami kesembuhan total.
  • Kesembuhan Victoria Szechinskis: Victoria lahir pada tahun 1982 dan didiagnosa mempunyai tumor yang mematikan di dadanya. Keluarga Szechinskis hidup di Toronto Kanada. Pada tahun 1985 dalam audiensi dengan Bapa Paus di Roma, ibunya Danuta, membawa Victoria untuk bertemu dengan Bapa Paus dan didoakan olehnya. Bapa Paus menghampiri mereka dan menggendong Victoria, sambil berkata kepada ibunya, “Berdoalah dan percayalah kepada Tuhan. Jika Tuhan memutuskan agar Victoria harus kembali kepada-Nya, Ia akan mengambil Victoria bagi-Nya. Jika Ia menghendaki Victoria untuk tetap bersamamu, itu yang akan terjadi. Perlakukanlah Victoria sama seperti engkau memperlakukan anak- anakmu yang lain. Itulah yang dikehendaki Tuhan.” Sekembalinya ke Kanada, Victoria merasakan sakit yang sangat sehingga dilarikan ke Rumah Sakit. Keluarga memperkirakan ia akan segera meninggal, sehingga akhirnya ia dibawa pulang ke rumah. Namun kemudian di rumah, mujizat terjadi, kondisinya membaik. Kemudian aneka test dilakukan, dan hasilnya menunjukkan bahwa tumor itu telah lenyap. Victoria bertumbuh normal, dan pada saat artikel dituliskan, ia berumur 22 tahun, sehat, senang berolah raga dan mendaki gunung.
  • Paus Yohanes Paulus II meletakkan tangannya atas kepala seorang anak perempuan yang buta, dalam kunjungannya ke Puerto Rico, Oktober 1984. Sekembalinya ke rumah, anak itu dapat melihat.
  • Pada saat audiensi umum pada tanggal 14 Maret 1979, Paus Yohanes Paulus II mencium Kay Kelly, seorang penderita kanker, yang hidup di Liverpool. Beberapa bulan kemudian kanker itu hilang semuanya.
  • Di bulan November 1980, pada saat gempa terjadi di Italia, Emilio Cocconi, 16 tahun, terkubur hidup- hidup. Walaupun kemudian ia dapat diselamatkan, namun kaki kirinya tidak dapat berfungsi. Paus bertemu dengannya pada saat Paus mengunjungi daerah gempa tersebut dan menghiburnya. Empat tahun kemudian (1984) Emilio bertemu kembali dengan Paus pada saat audiensi di Roma. Paus memberkatinya, dan mengatakan, “Tuhan yang Mahabaik akan menolongmu.” Empat minggu kemudian, anak muda itu sembuh.
  • Pada tahun 1981, dalam kunjungannya ke Manila, Filipina, Paus mendoakan dan meletakkan tangannya atas seorang biarawati, Madre Vangie, 51 tahun yang tubuhnya cacat dan harus bergantung kepada kursi roda. Beberapa menit kemudian, suster tersebut dapat berdiri tegak, sembuh sepenuhnya, dan meninggalkan kursi rodanya.
  • Di bulan Januari 1980 di Castel Gondolfo, Paus bertemu dengan Stefani Mosca, seorang anak perempuan berumur 10 tahun yang cacat tubuh. Paus menghibur dan menciumnya. Beberapa waktu kemudian ia sembuh.
  • Pada tahun 1990, Paus Yohanes Paulus II memberkati dan mencium Helano Mireles, seorang bocah Meksiko yang berusia 4 tahun, yang menderita leukemia. Penyakitnya hilang seketika setelah Paus memberkatinya. Hal ini disaksikan oleh Kardinal Javier Lozano Berragan, yang kemudian memberikan kesaksian atas mujizat kesembuhan ini.
Sumber : Katolisitas.org

MALAIKAT AGUNG SANTO MIKHAEL



Apa itu Malaikat ?

Para malaikat adalah roh-roh yang juga diciptakan oleh Allah. Mereka adalah roh murni, tanpa tubuh/badan, dan memiliki pengertian serta kehendak bebas. Mereka tidak seperti roh/jiwa manusia yang terikat atau dipadukan dengan tubuh. Mereka dapat bergerak bebas ke mana saja. Walaupun mereka adalah roh-roh murni, mereka masih mempunyai keterbatasan, karena mereka juga adalah ciptaan Allah.

Lucifer adalah seorang malaikat, sama seperti malaikat Allah yang lainnya. Ia diciptakan oleh Allah untuk membantu dan melayaniNya. Tetapi karena ia memberontak dan sombong menyamakan diri dengan Allah, akhirnya ia dikeluarkan dari satuan para malaikat dan dicampakkan dari surga. Kebebasan yang dikaruniakan Allah kepada para malaikat, membuat mereka bebas untuk menerima atau menolak Allah. Karena kebebasan itu mereka bisa berdosa.


Santo Mikhael dalam Kitab Suci

Sumber pertama dan utama dari pengetahuan tentang Santo Mikhael adalah Kitab Suci. Jauh sebelum Santo Mikhael menjadi pelindung Gereja seluruh dunia yang didirikan oleh Yesus Kristus, dia adalah pelindung orang-orang/umat pilihan Allah dalam Perjanjian Lama.  Malaikat Gabriel berbicara kepada Nabi Daniel mengenai Mikhael. “Tetapi pemimpin kerajaan orang Persia berdiri dua puluh satu hari lamanya menentang aku; tetapi Mikhael, salah satu dari pemimpin-pemimpin terkemuka, datang menolong aku, dan aku meninggalkan dia di sana berhadapan dengan raja-raja Persia” (Dan 10:13).

” Tetapi aku akan memberitahukan kepadamu apa yang tercantum dalam Kitab Kebenaran. Tidak satu pun yang berdiri di pihakku dengan tetap hati melawan mereka, kecuali Mikhael, pemimpinmu itu ” (Dan 10:21).

Pada akhir dunia dan pada masa Antikristus, ketika para malaikat yang jahat akan mencoba menyuap dan menyesatkan setiap orang ke dalam kemurtadan dari Allah, Mikhael, Pangeran Gereja, akan “bangkit” untuk memperkuat umat beriman. ” Pada waktu itu juga akan muncul Mikhael pemimpin besar itu, yang akan mendampingi anak-anak bangsamu dan akan ada suatu waktu kesesakan besar, yang belum pernah terjadi sejak ada bangsa-bangsa sampai pada waktu itu. Tetapi pada waktu itu, bangsamu akan terluput…..” (Dan 12:1).

Santo Yudas berbicara tentang pertengkaran antara Malaikat Agung Santo Mikhael dan setan mengenai tubuh Musa. Dikatakan bahwa setan menginginkan agar tubuh Musa dikuburkan di suatu tempat dengan cara tertentu untuk disembah oleh orang-orang Yahudi dengan penghormatan yang istimewa. Mikhael berusaha mencegah penyembahan berhala itu dengan menyembunyikan mayat Musa. ” Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan iblis mengenai mayat Musa, tidak berani menghakimi iblis itu dengan kata-kata hujatan, tetapi berkata : ” Kiranya Tuhan menghardik engkau !” (Yud 1:9).

Pertempuran yang digambarkan oleh Santo Yohanes dalam Kitab Wahyu adalah perang yang dilancarkan oleh Lucifer dan para malaikatnya melawan Gereja. Mikhael akan membantu umat beriman dalam semua pencobaan dan penganiayaan. ” Maka timbullah peperangan di surga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya.” (Why 12:7).


Penampakan Malaikat Agung Santo Mikhael

Penampakan pertama Malaikat Agung Santo Mikhael di Monte San’ Angelo ( atau Gargano ) terjadi menjelang abad kelima. Monte Gargano berada di bagian tenggara Italia di tempat yang disebut “the spur” (Taji,lomba), dimana sebuah gunung menjorok ke Laut Adriatik. Malaikat Agung itu memberitahukan kepada Uskup Siponton (Sekarang Manfredonia) yang dalam diosesnya terletak gunung itu, bahwa tempat itu berada di bawah perlindungannya.



Uskup itu kemudian pergi ke sama bersama banyak orang. Ia menemukan sebuah gua pada sisi gunung itu, dilubangi membentuk sebuah gereja, yang mana mulai digunakannya sebagai sebuah tempat ibadat keagamaan sampai tempat itu berkembang menjadi tempat kudus Malaikat Agung itu. Pesta penampakan pada 8 Mei  adalah untuk memperingati peristiwa itu. Empat penampakan yang terpisah dari Malaikat Agung itu tercatat sebagai penampakan yang telah terjadi di Gargano. Penampakan terakhir terjadi tahun 1656, ketika umat beriman dilindungi dari sebuah wabah yang menakutkan melalui campur tangan Santo Mikhael. Karena campur tangan Malaikat Agung itu juga, umat Siponto mendapatkan kemenangan-kemenangan gemilang atas orang-orang Goth pada tahun 490, dan atas orang-orang Yunani campuran pada tahun 663. Orang-orang beriman dari seluruh Eropa datang ke tempat itu dalam berbagai ziarah yang tak henti-henti karena rahmat berlimpah yang telah diterima. Tempat kudus ini merupakan sebuah tempat berhenti yang terkenal bagi peserta Perang Salib dalam perjalanan mereka untuk mendapatkan kembali tempat-tempat suci di Palestina.

 


Pada tahun 589, timbul wabah di Kota Roma ketika sungai Tiber meluap. Pada tahun berikutnya Paus Gregorius Agung memimpin sebuah prosesi tobat menuju Gereja Santo Petrus untuk memohon pembebasan dari bencana itu. Ia membawa dalam tangannya gambar Bunda kita Maria. Ketika ia sampai di jembatan Aelia yang menghubungkan makam Hadian dengan kota, ia melihat pada puncak bangunan raksasa itu seorang malaikat yang sedang menyarungkan sebuah pedang berdarah, sementara paduan suara para malaikat menyanyikan lagu gereja, “Regina Coeli-Ratu Surga, bergembiralah! Dia yang engkau kandung telah bangkit seperti dikatakanNya, Alleluia!” Paus menanggapi lagu para malaikat itu dengan berkata, “Doakan kami kepada Allah, Alleluia!” Bencana itu tiba-tiba berhenti. Sebagai peringatan akan peristiwa ini, Paus Bonefasius IV (608-15), pengganti Paus Gregorius, membangun sebuah tempat kudus di atas makam yang indah itu dan mempersembahkan itu kepada Santo Mikhael. Kemudian di tempat kudus itu ditempatkan sebuah patung yang telah dihancurkan berkali-kali tetapi selalu dibangun kembali.

Sebuah tempat kudus yang sangat luar biasa yang didedikasikan kepada Malaikat Agung Santo Mikhael adalah tempat kudus Mont St. Michel.

Malaikat Agung Mikhael  juga berbicara kepada seorang gadis petani sederhana, Yohana, ketika ia masih kanak-kanak berusia 13 tahun. Suara malaikat Mikhael memanggilnya dari antara kawanan dombanya. Dia mendengar suara malaikat itu dan “suara” dari banyak malaikat yang menemani malaikat itu. Ia melihat mereka. Pada mulanya ia takut, tetapi kemudian, sesering para tamu surgawinya meninggalkan dia, ia biasanya menangis dan berdoa agar mereka dapat membawa dia bersama mereka. Ketika pada suatu kesempatan datang untuk suatu pemeriksaan sebelum keputusan mengenai hubungan-hubungannya dengan malaikat agung itu, Yohana menjawab; “mengenai Santo Mikhael yang menampakkan diri kepada saya, saya percaya akan kata-kata dan tindakan-tindakannya seteguh saya percaya bahwa Tuhan kita menderita kematian dan kesengsaraanNya bagi kita. Alasan lain yang mendorog saya untuk percaya bahwa sungguh Santo Mikhael yang menampakkan diri kepada saya adalah nasihat yang baik, kenyamanan, ajaran yang boleh dipercaya yang tak pernah berhenti ia berikan kepada saya. Ia mengatakan kepada saya tentang Kerajaan Perancis yang sangat berbahaya.”

Seringkali, dalam abad-abad lampau, Santo Mikhael datang untuk menolong ketika perang-perang dan penyiksaan-penyiksaan yang mengerikan mengancam untuk menghancurkan agama Kristen. Dialah, yang atas perintah Maria, ratu para malaikat, datang untuk membantu Konstantinus Agung dalam abad keempat, dan membantu pasukannya untuk mendapatkan kemenangan yang gemilang atas Kaisar Maxentius yang kafir. Malaikat Agung itu menunjukkan identitasnya dalam hal ini. Ketika menampakkan diri kepada Kontantinus setelah penyelesaian sebuah gereja yang indah yang kemudian diabdikan sebagai penghormatan kepadanya, dia berkata, “Aku Mikhael, kepala laskar malaikat Tuhan, pelindung agama Kristen, yang ketika engkau sedang berperang melawan para penguasa lalim (tiran) yang jahat, menempatkan senjata dalam tangan-tanganmu.” Gedung besar yang megah ini biasanya dikenal sebagai Michaelion, telah menjadi tempat terjadinya banyak mukjizat melalui Malaikat Agung ini.

Kemudian, Santo Mikhael menyatakan dirinya sebagai seorang pelindung yang penuh kekuatan melawan serbuan bangsa barbar. Kaisar Yunani, Yustinus I, mendirikan enam buah gereja sebagai penghormatan dan penghargaannya yang penuh atas bantuan ini. Dalam abad kelima belas, ketika tampaknya bangsa Turki akan menaklukkan seluruh Eropa, Santo Mikhael, atas perintah Perawan Maria yang Terberkati, lagi-lagi membela tujuan agama Kristen, dan diperoleh kemenangan yang gemilang atas orang-orang kafir. Santa Yohana dari Orleans, yang dalam abad kelima belas menyelamatkan Perancis, menganggap pangilan hidupnya dan kemenangannya berasal dari Santo Mikhael. Tiga kali Malaikat Mikhael menampakkan diri kepadanya dan memberitahukan kepadanya bahwa dia dipanggil untuk membebaskan negaranya.

Lain peristiwa, dalam kehidupan Santa Oringa, dicatat bagaimana perlindungan dari Malaikat Agung Santo Mikhael dapat terjadi. Pada suatu hari orang kudus itu ditemani oleh beberapa wanita muda yang lain, memulai ziarah penghormatan Santo Mikhael ke Monte Gargano, di Italia. Dalam perjalanan, rombongan kecil itu diikuti oleh beberapa laki-laki yang berpura-pura menjadi peziarah dan pemandu yang baik sekali. Beberapa laki-laki itu kelihatannya sangat saleh dan melakukan dengan cerdik percakapan yang membawa kebaikan sampai malam. Sesungguhnya mereka adalah perampok yang menyamar, yang mempunyai rencana jahat terhadap para perawan itu. Mereka menuntun para perawan itu langsung ke gua mereka. Tiba-tiba seorang anak muda yang mengenakan keindahan surgawi menampakkan diri kepada para perawan itu, berteriak dengan suara keras, ” Larilah dari sini! Jiwa kamu berada dalam bahaya! ” 

Selama saat itu para perampok itu lumpuh, tidak berdaya, karena teror. Lalu, anak muda yang mulia itu menuntun para perawan tersebut ke suatu tempat yang cukup jauh dari gua itu. Kemudia tampak kepada Santa Oringa bahwa penolong ini tak lain adalah Santo Mikhael Malaikat Agung.

Santo Mikhael adalah penakluk setan. Mari kita bentangkan ke mana saja panji/bendera iman Katolik di bawah kepemimpinannya dan tidak takut akan kejahatan.  Ketika roh kegelapan menghasut kita untuk merasa bangga atau berontak, marilah kita menjawabnya bersama Santo Mikhael: “Siapa seperti Allah?”

Ketika setan berusaha membujuk kita dengan segala godaannya untuk melakukan dosa marilah kita melawan godaan-godaan itu dengan kata-kata Santo Mikhael: “Siapa seperti Allah?”

Panglima pasukan surgawi yang mulia, 
Santo Mikhael Malaikat Agung,
belalah kami dalam pertempuran dan dalam perang yang menakutkan
yang sedang kami lancarkan melawan kerajaan-kerajaan dan para penguasa,
melawan pemerintah-pemerintah dunia kegelapan ini, melawan roh-roh jahat.
Datanglah membantu manusia,
yang diciptakan kekal oleh Allah Mahakuasa,
menciptakan mereka menurut gambar dan rupaNya sendiri,
dan menebus mereka dengan pengorbanan yang besar karena kekejaman setan.
Lawanlah hari ini setan-setan yang memberontak terhadap Tuhan,
sebagaimana dulu engkau berperang melawan Lusifer,
pemimpin roh-roh yang sombong dan semua malaikat pemberontak,
yang tanpa daya berdiri melawan engkau.
Panglima yang tak dapat ditaklukkan,
bantulah umat Allah melawan serangan mendadak dari roh-roh yang kalah,
dan berilah kami kemenangan. 
Amin.

(Paus Leo XIII)


(Sumber: Santo Mikhael Malaikat Agung -Pelindung dan Pembela Orang Kristen, Pembebas Jiwa-Jiwa di Api Penyucian, Penjaga Gereja, oleh Aloys Dolu)

TIADA YANG MUSTAHIL BAGI ALLAH


Segala Sesuatu Adalah Mungkin

Kita tahu bahwa Allah itu adalah Segala Maha….oleh karenanya memiliki Yesus dan menghayati hidup-Nya dalam hati membuat kita hidup dalam pengertian bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. Banyak kisah yang tertulis di dalam alkitab menyatakan hal tersebut. Ketika Sara tertawa mendengar kabar bahwa dirinya dan Abraham akan dikaruniai seorang anak padahal mereka sudah sangat tua, malaikat menjawab, ” Adakah sesuatupun yang mustahil untuk Tuhan?…(Kej. 18:14). Jika Allah menginginkan sesuatu terjadi, Dia pasti mampu melakukannya. Tugas kita adalah Percaya!  Kita tahu bahwa Allah menyatakan kuasanya dan Sara melahirkan anak bernama Ishak. Sara pada saat melahirkan berusia 90 Tahun, suatu usia yang menurut ukuran manusia sangat mustahil untuk melahirkan.
Malaikat Gabriel diutus untuk memberitahu Maria bahwa ia akan melahirkan Anak Allah. Atas pertanyaan yang diajukan oleh Maria, malaikat Gabrel menjawab ” …..sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil”. 
Petrus bertanya kepada Yesus bagaimana orang dapat diselamatkan, yang dijawab oleh Yesus. “….Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin” (Mat. 19:26).
Seorang ayah membawa anaknya yang kerasukan dan disiksa roh jahat kepada Yesus. Murid-murid Yesus sudah berusaha menolong anak tersebut, namun mereka gagal membebaskannya dari roh tuli maupun roh bisu. Acapkali roh jahat melempar tubuhnya ke dalam api atau air agar ia binasa. Sang ayah berseru kepada Yesus, “…Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami ” (Mrk. 9:22).
Jawab Yesus: ” Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Mrk. 9:23). Lalu Yesus berbicara kepada anak itu dan Dia membebaskannya dari belenggung roh jahat. Allah berkenan melakukan mukjizat, namun Dia menuntut iman kita. jadi Berimanlah dan mulailah mengharapkan mukjizat-mukjizat.
Iman Sebesar Biji Sesawi
Murid-murid Yesus merasa kecewa karena mereka tidak berhasil membebaskan anak laki-laki yang kerasukan setan, ….”Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” (Mat. 17:19)
Yesus berkata kepada mereka: ” Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung itu akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Jenis ini tidak dapat diusir kecualli dengan berdoa dan berpuasa). (Mat.17:20,21).
Iman tumbuh karena mendengarkan Firman Allah (Rm.10:17). Untuk menyaksikan gunung itu beranjak dari tempatnya, kita harus percaya kepada Firman Allah.Allah mempunyai Rancangan

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu,demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai  sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”. (Yeremia 29:11)Allah mengucapkan kata-kata yang menguatkan ini kepada sekelompok orang yang sudah gagal total.

(Dicuplik dari buku Tiada yang Mustahil oleh Billy Joe Daugherty)

SURAT SUCI DARI YESUS PENEBUS DOSA


Demi penyucian tetesan darah Yesus Allah manusia,
yang  mengucur di jalan menuju Kalvari
Salinan Suci Orasi Yesus ini, aslinya terdapat di makam suci Yesus Penebus manusia di Yerusalem, disemayamkan dalam sebuah peti perak oleh Bapa Suci dan Para Raja dan Ratu iman Kristen.

St. Elisabeth Ratu Hungaria dengan St. Mathilda bersama St. Bridget ingin mengetahui kisah sengsara Yesus, mempersembahkan doa-doa khusus dan sungguh-sungguh di mana kemudian Yesus Anak Allah Penyelamat manusia menampakkan diriNya dan menjelaskan kepada para santa ini :

  • Aku Yesus dari Surga hadir di dunia, demi memperbaiki iman manusia. Pada jaman dahulu banyak manusia yang sungguh-sungguh beriman, dan panenan mereka berlimpah-limpah, namun kini sebaliknya, jarang ada manusia yang sungguh-sungguh beriman.
  • Kalau kamu ingin memanen hasil yang berlimpah, janganlah bekerja pada hari Minggu sebab kamu harus ke Gereja dan berdoa kepada Allah demi menyesali dosa-dosamu. Allah Bapaku telah memberi kamu 6 hari kerja dan 1 hari istirahat, supaya mempersembahkan kurban, menolong para miskin, dan melayani gereja.
  • Barangsiapa yang berkeras memusuhi agamaku dan meremehkan Surat Orasi ini akan Kusangkal. Sebaliknya barangsiapa yang membawa Salinan Orasi Suci ini akan dibebaskan dari mati tenggelam dan ajal mendadak, akan dibebaskan dari penyakit menular, dan sambaran kilat. Belum bisa meninggal dunia sebelum mengaku dosa, akan dibebaskan dari penguasa lalim, dan dari semua pengadu dan saksi palsu.
  • Ibu-ibu yang dalam bahaya melahirkan, dengan memelihara Orasi Yesus ini, segera sanggup menguasai keadaannya. Di rumah-rumah yang menyimpan Orasi Suci ini tidak akan mengalami gangguan iblis. Empat puluh hari sebelum ajalnya, bagi laki-laki maupun perempuan yang memiliki Orasi Suci ini, Bunda Maria akan menampakkan diri kepadanya.

Bagi manusia yang percaya, yang mau mendaraskan doa setiap hari selama 3 tahun; 2x Bapa Kami-Salam Maria dan Kemuliaan, demi memuliakan “semua tetesan darahKu yang hilang”, Aku akan melimpahkan 5 karunia :

  1. Indulgensi penuh dan pengampunan dosa-dosanya.
  2. Dibebaskan dari sengsara dan siksa dosa di api penyucian.
  3. Bila kamu meninggal sebelum menyelesaikan doa selama tahun ini, bagi kamu dianggap sudah menyelesaikannya.
  4. Dengan begini pada saat kematianmu, sama saja dengan kamu sudah menyerahkan semua darahmu demi iman suci.
  5. Aku akan turun dari surga dan menyambut jiwamu sampai generasi keempat.

CAMKANLAH

  • Jumlah serdadu yang dipersenjatai ada 150;
  • Yang menghelaku dalam keadaan dibelenggu ada 23; algojo-algojo pengadilan ada 83;
  • Penamparan di kepalaKu sebanyak 108 kali;
  • Peludahan ke mukaKu sebanyak 180 kali;
  • Aku dicambuki pada dadaKu sebanyak 6666 kali;
  • Dipalu pada kepalaKu sebanyak 110 kali;
  • Aku didorong dengan keras pada jam 12:00;
  • RambutKu dijambak, kepalaKu ditekan dengan duri-duri dan JanggutKu ditarik 24 kali;
  • Mendapat luka di kepala 20; luka karena cambukan kawat 72;
  • Luka dalam karena duri di kepala 1110;
  • Luka dalam karena duri di dahi ada 3;
  • Aku kemudian dilucuti dan dikenakan pakaian sebagai Raja palsu;
  • Bilur di badanKu ada 1000;
  • Serdadu-serdadu yang menggiringKu menujuKalvari 608;
  • Yang memperhatikan Aku dengan sungguh-sungguh ada 3;
  • dan yang menghinaKu sebanyak 1008;
  • Tetesan darahku yang hilang terbuang ada 28.430.
(Bernadetta da SS Pope Leo XIII in Roma 5 Aprile 1890)

RAHASIA ROSARIO


 


Semenjak Santo Dominikus menghidupkan devosi kepada Rosario Suci hingga saat pemulihannya kembali oleh Beato Alan de la Roche pada tahun 1460, Rosario Suci selalu disebut Mazmur Yesus dan Mazmur Maria. Sebutan ini diberikan karena Mazmur Yesus dan Mazmur Maria mempunyai jumlah yang sama dengan jumlah mazmur di dalam Kitab Mazmur Daud. 

 

Tetapi Rosario dapat dianggap lebih bernilai daripada Mazmur Daud karena :
  1. mengandung nilai yang lebih mulia, yaitu Sabda yang menjelma di dalam Pribadi Yesus Kristus, sedangkan Mazmur Daud memuat ramalan-ramalan perihal kedatangan-Nya.
  2. lebih agung daripada Mazmur Daud yang hanya berfungsi sebagai pralambang.
  3. Rosario merupakan karya langsung Tritunggal Mahakudus dan tidak dibuat oleh manusia.
Kata Rosario berarti mahkota mawar. Bunda Maria telah menunjukkan restunya terhadap nama Rosario itu. Ia telah menyatakan kepada beberapa orang, bahwa setiap kali mereka mendaraskan satu Salam Maria, mereka menghadiahkan kepadanya sekuntum mawar yang indah, dan bahwa masing-masing Rosario yang utuh membentuk mahkota mawar.

Bruder Alfonsus Rodriques, seorang biarawan Yesuit yang terkenal, biasanya mendaraskan Rosario dengan semangat berkobar-kobar sehingga sering ia melihat sekuntum mawar merah keluar dari bibirnya pada setiap Bapa Kami, dan sekuntum Mawar Putih pada setiap Salam Maria. Kedua mawar itu sama indah dan harumnya.

Kisah Santo Fransiskus menceritakan tentang seorang rahib muda yang mempunyai kebiasaan terpuji dalam hal pendarasan Mahkota Bunda Maria atau Rosario setiap hari sebelum makan malam. Suatu hari karena sesuatu halangan ia tidak dapat melakukannya. Lonceng untuk makan malam telah berdentang, ketika ia meminta izin kepada pimpinannya untuk berdoa Rosario sebelum memasuki ruang makan. Sesudah ia mendapat izin, ia kembali ke kamarnya untuk berdoa.

Setelah sekian lama ia tidak kunjung datang, pemimpin biaranya menyuruh seorang rahib muda lain memanggilnya. Apa yang dilihat rahib muda itu? Ia melihat kamar rahib rekannya itu bermadikan cahaya surgawi, dan rekannya itu sedang memandang kepada Bunda Maria yang dikawal oleh dua malaikat. Mawar-mawar yang indah terus bermunculan dari mulutnya pada setiap doa Salam Maria. Satu demi satu mawar-mawar itu diambil oleh dua malaikat itu, lalu diletakkan di atas kepala Bunda Maria. Bunda Maria menerima mawar-mawar itu dengan tersenyum.

Ada lagi, nama Beato Thomas dari Santo Yohanes, terkenal karena kotbah-kotbahnya tentang Rosario Suci. Setan-Setan yang cemburu dan iri hati terhadap keberhasilannya menyelamatkan jiwa-jiwa kaum beriman-menyiksa beliau begitu hebatnya sehingga akhirnya ia jatuh sakit. Beliau menderita sakit begitu lama dan dokter-dokter pun tidak mampu lagi mengobatinya.

Pada suatu malam, tatkala ia menyangka bahwa ajalnya sudah dekat, setan menampakkan diri kepadanya dalam rupa yang sangat mengerikan. Sebuah lukisan Bunda Maria terpajang di dekat ranjangnya. Ia memandangi lukisan itu sambil menangis tersedu-sedu dan sekuat-kuatnya berseru, ” Tolonglah aku, selamatkanlah aku, Ibuku yang mulia!” Tidak lama kemudian lukisan itu tampak hidup dan Bunda Maria merentangkan tangannya, lalu merangkulnya sambil berkata, “Jangan takut Thomas, anakku! Akulah ini. Aku mau menyelamatkan engku: bangunlah sekarang dan teruskanlah karyamu mewartakan Rosarioku sebagaimana biasa kau lakukan. Aku berjanji untuk melindungi engkau dari musuh-musuhmu.”
Ketika Bunda Maria mengucapkan kata-kata ini, setan enyah darinya. Lalu Beato Thomas itu bangun dan merasa benar-benar sehat dan segar. Lalu dengan penuh semangat ia melanjutkan karya kerasulan Rosarionya.

Alfonsus, Raja Leon dari Galicia, ingin sekali agar semua hamba dan pelayannya menghormati Bunda Perawan dengan mendaraskan Rosario Suci. Untuk itu ia biasanya menggantungkan sebuah Rosario Besar pada ikat pinggangnya dan selalu mengenakannya. Hanya sayangnya ia sendiri tidak mendaraskan Rosario itu. Kendati demikian, dengan mengenakan Rosario itu pada pinggangnya, ia menggerakkan bawahan-bawahannya untuk berdoa Rosario dengan tulus hati.

Pada suatu hari Alfonsus jatuh sakit berat. Ketika mendekati ajalnya, dalam suatu penglihatan ia menyaksikan dirinya sedang berdiri di hadapan tahta pengadilan Tuhan. Banyak setan di sana sedang mendakwanya perihal semua dosa yang telah dilakukannya. Yesus Tuhan kita sebagai Hakim Yang Mahakuasa hampir saja menghukumnya masuk neraka ketika Bunda Maria datang untuk membelanya. Bunda Maria minta dibawakan sebuah timbangan. Pada satu belahan timbangan diletakkan dosa-dosanya, dan pada belahan timbangan lainnya diletakkan Rosario yang selalu dikenakannya serta semua untaian doa Rosario yang telah didaraskannya dengan contoh hidupnya. Ternyata Rosario jauh lebih berat daripada dosa-dosanya. Ketika Raja sadar, ia berseru,”Terberkatilah Rosario Santa Perawan Maria, berkat Rosario itu saya dibebaskan dari hukuman abadi!”


Sangat banyak peristiwa terkait mukjizat yang muncul dari Rosario Suci ini, misalnya peristiwa yang terjadi di Carcassone, di mana saat itu Santo Dominikus tengah berkotbah tentang Rosario Suci. Ada seorang bidaah menertawakan mukjizat-mukjizat dan lima belas misteri Rosario Suci. Perbuatan ini menghalang-halangi pertobatan orang bidaah lainnya. Sebagai hukumannya, Allah membiarkan lima belas ribu roh jahat merasuki orang itu.


Orang tuanya membawa dia kepada pastor Dominikus untuk dibebaskan dari gangguan roh-roh jahat itu. Santo Dominikus mulai berdoa dan meminta kepada setiap orang yang hadir untuk bersama-sama dengannya mendaraskan doa rosario dengan suara lantang. Untuk setiap doa Rosario, Bunda Maria menarik keluar dari tubuh orang itu seratus roh jahat. Roh-roh jahat itu keluar dalam bentuk batubara yang panas membara.


Setelah dibebaskan, ia mengakui di bawah sumpah kekeliruan-kekeliruannya, lalu bertobat, dan menjadi anggota Serikat Rosario Suci. Beberapa orang kawannya melakukan hal yang sama setelah digerakkan secara luar biasa oleh siksaan atas dirinya dan kuasa dahsyat Rosario Suci.


Peristiwa lainnya, Santo Dominikus mempunyai sepupu bernama Don Perez, yang juga dipanggil Pedro. Hidupnya amat bejat. Ketika mendengar bahwa Santo Dominikus sedang berkotbah tentang keajaiban-keajaiban Rosario dan mendengar beberapa orang telah ditobatkan dan memperbaiki hidup mereka dengan menggunakan Rosario, ia berkata. “Saya sebenarnya tidak sudi lagi berharap untuk diselamatkan, namun sekarang hatiku mulai tergerak. Saya seharusnya mendengarkan manusia kekasih Allah ini “.


Karena itu ia pergi mendengarkan salah satu khotbah Santo Dominikus. Ketika Santo Dominikus menatap sepupunya itu, ia dengan lebih tegas dan penuh semangat berbicara tentang dosa daripada sebelumnya. Dari lubuk hatinya ia mohon petunjuk Allah Yang Mahakuasa agar menerangi sepupunya itu dan membiarkannya melihat keadaan jiwanya yang memprihatinkan itu.


Mulanya Don Perez merasa terperangah, namun ia masih belum mengambil keputusan untuk mengubah cara hidupnya. Ia datang sekali lagi untuk mendengarkan Khotbah Santo Dominikus, dan sepupunya itu – yang menyadari bahwa hati yang sekeras batu hanya dapat digerakkan oleh sesuatu yang agak luar biasa – berteriak dengan suara lantang, ” Oh, Tuhan Yesus, perkenankanlah semua umatmu ini melihat keadaan yang sebenarnya orang yang baru masuk Rumah-Mu ini.”


Serta merta semua orang memandang Don Perez yang dikerumuni sejumlah iblis berupa binatang-binatang buas yang mengikatnya dengan seutas rantai besi yang besar. Semua orang lari terpencar ketakutan. Don Perez sendiri merasa lebih ngeri daripada mereka ketika ia melihat bagaimana setiap orang menghindarinya.


Santo Dominikus menyuruh orang-orang itu tetap berdiri. Ia berkata kepada sepupunya, ” Hai orang yang malang, sadarilah keadaanmu yang memprihatinkan itu, dan rebahkanlah dirimu di bawah kaki Bunda Maria. Ambillah Rosario ini, berdoalah dengan khidmat dan penyesalan yang tulus atas semua dosa, dan buatlah keputusan yang teguh untuk memperbaiki hidupmu.”


Maka Don Perez berlutut dan mendaraskan seluruh Rosario. Kemudia ia tergerak untuk mengakukan dosa-dosanya dengan penyesalan yang sungguh mendalam. Santo Dominikus menyuruhnya mendaraskan Rosario setiap hari; ia berjanji untuk melaksanakannya dan atas kemauannya sendiri mendaftar sebagai anggota Serikat Rosario Suci.


Ketika meninggalkan gereja, roman mukanya tidak lagi mengerikan, melainkan berkilau-kilauan seperti malaikat. Selanjutnya ia tetap menekuni devosi kepada Rosario, menjalani hidup Kristen yang baik, dan meninggal dengan damai dan bahagia.

Dengan demikian Rosario Suci merupakan akar dan gudang berkat yang tak terhitung jumlahnya, karena melalui Rosario Suci :
  • Orang-orang berdosa diampuni;
  • Jiwa-jiwa yang dahaga disegarkan;
  • Mereka yang terbelenggung akan dilepaskan ikatannya;
  • Mereka yang menangis menemukan kebahagiaan;
  • Mereka yang dicobai menemukan kedamaian;
  • Mereka yang miskin mendapatkan bantuan;
  • Hidup keagamaan diperbaharui;
  • Mereka yang bodoh diajar;
  • Manusia belajar mengatasi keangkuhannya;
  • Orang mati(jiwa-jiwa yang kudus) dihapus penderitaannya.

( dicuplik dari buku Rahasia Rosario karangan St. Louis de Monfort)